Tag

, ,

Jumat, 23 September 2011

Kami bangun jam 6 tepat. Sholat subuh lalu memasak sarapan. Istri kebagian membuat sup Tom Yam dan masak Indomie goreng versi Thailand (mi nya lebih kenyal), saya kebagian memanaskan nasi ayam bumbu kemangi di microwave dan membuat salad buah. Setelah itu kami mandi dan berkemas untuk check-out dari hotel.

Indomie Thailand

Tepat jam 8 pagi kami keluar hotel, check out dan minum welcome drink-yang kami minum justru menjelang check out di restoran. Proses check out cukup singkat, lalu kami tunggu tuk tuk yang mengantar kami ke ujung jalan Sukhumvit 8 dekat BTS Nana. Dari BTS ini kami menuju ke BTS PhayaThai yang terhubung dengan Citylink yang mengantar

Sarapan Instan

kami ke bandara. Suasana di BTS pagi ini sangat ramai dan penuh, kami berdiri dengan pintu. Sedangkan Citylink kami dapat duduk karena stasiun ini ada di ujung sehingga kereta masih kosong.

Jam 9.15 kami sampai di bandara yang sudah ramai dengan penumpang. Di sini kami tukarkan sisa Baht pecahan besar ke USD. Ada ratusan maskapai yang naik turun di bandara ini. Pemandangan yang tak lazim di Indonesia adalah cukup banyak biarawan Budha laki-laki perempuan yang berlalu lalang di sini. Kebetulan counter Malaysia Airlines masih sepi sehingga kami langsung dilayani di urutan pertama. Proses imigrasi lebih singkat dari waktu berangkat ke Phuket 3 hari sebelumnya, tetapi dengan aturan yang lebih ketat. Laki-laki diminta melepas alas kaki/sepatu dan ikat pinggang. Dan yang ngeyel justru akan dipersulit. Kami sempat lihat penumpang dari India yang ngeyel justru di bentak oleh petugas pengawas screening.

Kami juga sempat membelanjakan sisa pecahan kecil Baht untuk beli air mineral dan jus buah di duty free bandara. Ruang tunggu F6 yang kami tempati cukup lega.

Tepat jam 10:40 kami masuk ke pesawat dan jam 11:10 pesawat siap-siap lepas landas. Ternyata pesawat terkatung-katung selama hampir satu jam karena antri di landasan pacu untuk kedatangan pesawat lain, terutama maskapai tuan rumah si warna ungu Thai Airways. Akhirnya pindah ke landasan yang disebelahnya, tak menunggu lama langsung tancap gas.

Penerbangan yang penuh penumpang ke KLIA ini ada 2 pramugari dan 1 pramugara. Sepertinya yang dua etnis India dan satu etnis Cina. Namun mereka fasih berbahasa Melayu dan Inggris. Siang itu kami ditawari nasi kari ayam dan nasi goreng ikan. Kami masing-masing pilih salah satu menu tadi. Rasanya enak, dan dessertnya ada kue bulan (moon cake) yang lezat. Ada juga Kit Kat made in Malaysia. Berhubung tak ada hiburan video, kami hanya baca koran dan majalah, terus tidur.

menu dari KL ke Jakarta

Kami baru bangun ketika pesawat akan turun di KLIA. Tepat jam 14:10 pesawat mendarat mulus di KLIA. Berhubung kami transit kami langsung ke terminal keberangkatan, mencari surau untuk menjamak sholat Dzuhur dan Ashar. Lagi-lagi saya menemukan sisa THB 200 yang bisa kami tukar ke MYR 19.6. Uang ini kami

menu dari Bangkok ke KL

belanjakan di duty free Eraman dengan permen Mentos superjumbo oleh oleh buat keponakan.

KLIA

Kami masuk ke ruang tunggu dengan formulir khususnya untuk penumpang dari Indonesia. Gak jelas maksudnya apa. Oh ya tidak seperti di Jakarta yang sangat jelas pengumumannya, di sini suara speaker pengumuman penerbangan hanya terdengar samar-samar.

Model Pesawat

Tak sebagus bandara di Bangkok memang.

Jam 15:30 kami masuk ke pesawat. Di pesawat kami disambut 3 pramugara dan 1 pramugari. Sama dengan saat berangkat di sini pramugara masih muda-muda. Usianya mungkin masih sekitar 20-25 tahun yang enerjik (seperti pramugari Garuda Citilink). Di sini mereka melayani makan berupa nasi goreng ayam empuk dan kari ikan yang lezat, cadbury gold dan roti kurma. Minumnya bebas memilih, jus, teh, kopi atau wine. Kami pilih 3 pertama-yang halal saja.:). Sama seperti waktu dari Bangkok, pesawat yang dari KL ini juga tidak ada hiburan video, di sini kami lebih cepat tidur karena majalah dan koran yang ada sudah kami baca waktu dari Bangkok. Sempat memfoto pramugara yang sedang peragaan keselamatan manual. Seragamnya sederhana.Tapi mereka kelihatan enjoy dalam bekerja, wajar maskapai bintang 5🙂

Jadi ingat iklan Garuda waktu menambah frekuensi terbangnya menjadi 2x Jakarta Bangkok bahwa pesawatnya dilengkapi hiburan audio video. Lain kali kalau ada rezeki Insya Allah naik Garuda yang tarifnya 20% lebih tinggi dan tanpa berhenti di KLIA.

Jam 18:10 pesawat mendarat di tanah air. Masuk imigrasi lancar. Aroma kesemrawutan mulai terasa waktu keluar bandara. Calo taksi bersliweran. Walau bagaimanapun lebih asyik dan aman di negeri sendiri. Di sini kami menghubungi hotel Aston Cengkareng yang akan menjemput kami jam 19.00 sesuai jadwal free shuttle. Sembari kami menunggu, kami pesan kopi cappucino di kafe Bengawan Solo. Kami sempat bingung mencari lokasi kafe, ternyata posisinya persis di dalam bandara dekat pintu kedatangan terminal 2D.

Pukul 19:15 jemputan datang. Pak Dedi sebagai penjemput dari Aston membawa kami ke Daihatsu Luxio. Dari situ memutar lagi ke terminal 1A karena ada tamu hotel lain yang juga minta dijemput. Setelah melalui tol Kamal, masuk ke kompleks perumahan Taman Palem, dimana  hotel ini berada.

Sesampai di hotel Aston Ceengkareng kami langsung check in, dan sekitar jam 8 malam kami sudah ada di kamar. Mengenai kamarnya modern dan tidak banyak pernik-perniknya. Bau rokok cukup menyengat, mungkin bekas penghuni sebelumnya. Karena lumayan lelah, malam itu kami tidur dengan nyaman dan tenang.