Tag
2026, eleven three coffee and Eatery, es teh, jeruk manis, kafe di Tulungagung, kebab, lemon tea, mie goreng, nasi goreng spesial, pasta carbonara, soto banjar, wedang uwuh
Setiba di stasiun Tulungagung, kami berencana makan sore dulu dengan penjemput (adik dengan 2 anaknya). Karena ingin coba yang belum pernah, kami googling dan terdapat beberapa restoran keluarga terdekat. Kami cari yang searah dan halal, jadilah kami memilih ke Eleven Three Coffee and Eatery di jalan kyai Mojo. Meski disebut jalan/lorong, setahu saya ini dulu biasa disebut gang, karena hanya cukup dilewati 2 kendaraan roda 4 berhimpitan, entah sejak kapan jadi nama jalan. Tiga puluh tahun lalu sering lewat sini waktu masih sekolah.
Di lokasi ada tempat parkir motor, apabila tidak cukup, bisa ke depan seberang jalan, ada area parkir motor. Untuk kami yang bermobil kecil, mau tak mau parkir di depan kafe mepet jalan, untung saja jalannya tidak terlalu ramai, bukan daerah ramai/rawan macet. Ada tulisan buka, lalu kami mampir. Kami ke sana pukul 15.30, pas panasnya sore hari. AC baru dinyalakan ketika kami sampai, hemat energi. Interiornya seperti kedai di Jepang, mepet jalan, view langsung kaca menghadap jalan. Kursi ala American fast food. To the point, tidak seperti umumnya kedai di Indonesia.














Kami ber lima pesan makanan dan minuman berikut : pasta carbonara 18 ribu, soto Banjar 2*15 ribu = 30 ribu, mie goreng 15 ribu, French fries 12 ribu, dimsum mentai 20 ribu, es teh 2*6 ribu, wedang uwuh 10 ribu, jeruk manis 8 ribu, nasi goreng spesial 15 ribu, kebab 18 ribu, bungkus 1 ribu total 159 ribu sudah include pajak dan layanan. Cukup murah untuk 7 makanan dan 5 minuman kalau dibandingkan kafe di kota besar.








Untuk rasa enak, tidak pelit lauk. Misalnya soto Banjar jika biasa ayam disuwir, di sini diiris melebar ala ramen. nasi goreng spesial juga ada ayam filet + telur dadar. Pasta carbonara nya juga sangat ngeju, rich. Wedang uwuhnya juga beserta rempahnya terlihat ramai, dan ditaruh di gelas yang khusus. Hanya saja menurut istri saya, mie gorengnya terlalu asin, yang menurut saya bukan asin sih, tapi kuat bumbunya.
Kami pulang dengan perut kenyang. Ibu di rumah juga senang kami bawakan nasi goreng spesial dan kebab, katanya enak.









