Itinerary dan Biaya Backpackeran ke Melbourne dan Sydney

Tag

, , , , , , , ,


Kunjungan ke Melbourne dan Sydney bulan lalu terhitung cukup hemat, namun sehemat-hematnya masih di atas 8 juta Rupiah. Keberangkatan dari Bandung, dengan rute Bandung-Yogyakarta dengan kereta api Lodaya (karena ada keperluan keluarga), Yogyakarta-Denpasar naik Air Asia, Denpasar-Melbourne naik Jetstar, Melbourne-Sydney naik kereta api NSW Link, Sydney-Singapura naik Scoot Airlines, Singapura-Jakarta naik Air Asia, dan Jakarta-Bandung naik bus Primajasa.

Semua wahana yang saya kunjungi kali ini gratis. Termasuk tur yang diadakan kantor walikota Melbourne dan parlemen Victoria. Jadi hanya bayar transportasi, akomodasi, konsumsi dan oleh-oleh saja, tapi pengalaman nya terasa luar biasa. Kenapa? karena baru pertama tinggal di hostel, traveling sendirian, dan dapat tiket Denpasar-Melbourne yang hanya 549 ribu Rupiah untuk penerbangan 5,5 jam. Jujur saja, lain kali pengen naik full service airline, tinggal di hotel dan traveling bersama keluarga atau teman-teman.

Berikut Itinerary saya sejak berangkat dari Bandung Jumat, 20 Januari 2017 hingga kembali di Bandung Sabtu, 28 Januari 2017 :

itinerary-and-cost-melbourne-sydney-2017

Holiday to Melbourne 2017 (https://youtu.be/FPYw6h-FvB4)

Scoot Airlines Sydney-Singapore (https://youtu.be/SI6wCRBeOZo)

Australia Day 2017 (https://youtu.be/fnFmwdgLZrU)

Holiday to Sydney 2017 (https://youtu.be/CyDEAiLS1BA)

wp-image-294677428jpeg.jpeg

Airasia Yogyakarta-Denpasar

1-jetstar-at-tullamarine

Jetstar Denpasar-Melbourne

1-jetstar

kabin Jetstar

1-welcome-students

Myki Card

1-brighton-beach-bathing-box

Brighton Beach

1-luna-park-melbourne-2

di dalam Luna Park Melbourne

1-luna-park-melbourne

Luna Park Melbourne

1-mall-central

atap Central mall Melbourne

2-australia-open-3

Australia Open

2-liputan-tv

Terror at Melbourne

2-pinggir-sungai

Southbank Melbourne

2-tram-melbourne

Melbourne tram

3-dalam-national-galery

NGV

3-library

Vic State Library

3-kelas-ekonomi

NSW Link Melbourne-Sydney

4-central-sydney

Sydney Central train station

4-luna-park-sydney

Luna Park Sydney

4-kereta-di-sydney

Sydney train

5-australia-day1

Australia Day at Sydney Opera

5-sydney-bondi-hoho

Sydney and Bondi Explorer

5-sydney-malam

Sydney CBD

wp-image-1116963891jpg.jpg

Scoot Airlines Sydney-Singapore

 

 

Australia 2017 : Tips Jalan-Jalan Singkat di Sydney

Tag

, , , , ,


Transportasi :

Sydney mempunyai alat transportasi yang lengkap : kereta api (train), bus kota, Ferry, dan tram (LRT). Semua pembayaran menggunakan kartu Opal. Pembelian kartu bisa di information center stasiun maupun minimarket (7-11, Newslink) yang ada di stasiun. Harga termasuk isinya minimal 10 AUD untuk dewasa, dan 5 AUD untuk anak-anak dan lansia. Tarif sekali jalan minimal sekitar 2-8 AUD. Tarif maksimal 15 AUD/hari untuk hari Senin-Sabtu, sedangkan hari Minggu maksimal hanya 2.5 AUD/hari. Untuk kereta jangkauannya lebih dari 120 km, yaitu Katoomba di arah barat, Kiama/Wollongong di arah Selatan dan Singleton/Newcastle di Utara (207 km) 

Selain itu juga ada Sydney/Bondi Hop On Hop Off bertarif AUD 35/hari dan AUD 50/2 hari. Dan juga Ferry pesiar Captain Cook.

Akomodasi:

Termasuk mahal untuk standar Indonesia/ASEAN/Jakarta/Kuala Lumpur/Bangkok/Bali. Kurang lebih harga penginapan di Singapura/Hongkong/Tokyo. Di hostel yang terdiri dari 8 tempat tidur (4 susun @2 tempat tidur) harga termurah di BIG hostel adalah 35 AUD (360 ribu Rupiah)/malam, yang kalau di Indonesia sudah dapat hotel bintang 3, kamar pribadi berikut sarapan dan aneka fasilitas lainnya untuk 2 orang. Di hostel ini private room dengan kondisi sangat sederhana sewanya sekitar 900 ribu/malam.

Konsumsi:

Agak lebih mahal dari Indonesia. Misal mie cup Maggie yang hanya dilengkapi bumbu bubuk dan minyak, tanpa garpu dan sayur kering harganya 90 cent AUD (9 ribu Rupiah) atau 2x harga di Indonesia. Air 1,5 liter 1 AUD. Itupun sudah harga termurah setelah diskon. Namun ada yang lebih murah, yaitu susu dan buah segar lokal yang sedang musim. Di sana saya temukan susu segar seliter 1 AUD. Di Indonesia semacam Greenfield yang 25 ribuan Rupiah. Apel cuma 3 AUD/kg. Makanan halal bisa cari di supermarket Coles melalui aplikasinya di Android/Apple. Search : halal, akan muncul 400 an produk halal baik produk lokal Australia maupun impor. Produk Australia yang berkesan karena enak dan halal antara lain pie daging sapi, yogurt yang ada buahnya, susu segar. Lainnya makan di KFC (tidak ada sertifikat halalnya) paket Zinger seharga 10.45 AUD (106 ribu Rupiah) isinya 3 saya atas ayam, burger ayam, kentang tumbuk, dan minuman bersoda (bisa pilih Pepsi, Sunkist, Solo, 7 Up, atau Mountain Dew) . Semuanya enak.

Australia 2017 (6): Sydney – Singapura – Jakarta 

Tag


Jumat,  27 January 2017

Hari ini,  hari terakhir saya di Sydney Australia. Bangun pagi-pagi dari Big Hostel,  mandi,  berdandan, sholat subuh, lalu sarapan.  Sarapan menghabiskan belanjaan kemarin, antara lain : susu,  pisang, apel,  pie daging. Tiga pertama langsung saya konsumsi,  sementara pie harus saya panaskan di microwave. Saya juga buat bekal berupa 2 tangkup roti yang olesi bermacam selai buah khas Australia seperti : peach, apricot, blueberry, orange peel, strawberry. Dan saya masukkan ke dalam wadah Tupperware. Untuk minum saya bikin tea hangat. Sesudah itu nonton channel 7 yang menyiarkan beberapa peristiwa kemarin,  antara lain Australia Day, jatuhnya pesawat kecil di Swan River Perth yang menewaskan 2 orang,  dan suasana berkabung national atas kejadian di Melbourne hari Minggu lalu. Ada juga live boyband dan undian cashcow yang berhasil 20ribu AUD.

Beres sarapan, saya packing ulang. Setelah beres,  bawa seprai dan sarung bantal untuk mencairkan deposit 20 AUD. Perjalanan ke bandara saya tempuh dengan jalan kaki 400 meter dari hostel menuju Central Station. Tap on kartu Opal lalu ke lorong no 21 naik Train ke Mc Arthur melalui Bandara International Sydney. Kalau langsung, biayanya 17 AUD. Sedangkan bila tidak langsung seperti yang saya lakukan,  dari Central ke Mascot dulu,  tap off 2 AUD, masuk lagi tap on masuk platform 2,  naik kereta arah terminal international,  tap off 8 AUD.  Total 10 AUD.  Hemat 7 AUD. Ada cara yang lebih hemat, turun di stasiun Mascot, jalan kaki ke halte depan TNT, naik bus no 400. Biayanya sekitar 7 AUD.  Hemat 10 AUD. Ada beberapa penumpang budget ketat yang menempuh cara ini. Sah-sah saja.

Sesampai airport jam 10 masih menunggu 30 menit. Beli jus oren asli seharga 3.2 AUD pakai koin. Nikmat dan segar betul jus ini.  Tiba – tiba ada nenek-nenek berjilbab logat Betawi, ngobrol dengan saudaranya,  pas saudaranya pergi check in Air Asia ke Kuala Lumpur, malah ngajak ngobrol saya,  nanya-nanya dan ganti saya tanyakan ternyata sejak tahun 1975 beliau migrasi ke Australia bersama suaminya yang seorang dokter, dan tahun 1986 resmi jadi warna negara Australia.  Beliau bilang,  Australia terima orang punya skill keterampilan seperti dokter dan insinyur.  Beliau juga cerita di Australia mudah dapat duit,  yang susah mendidik anak cucu. Bagai mana tidak,  pakaian mini, alcohol, tato,  berciuman adalah hal yang umum di sana. Beliau dan suaminya cinta mati dengan Indonesia,  meski berpaspor Australia. Berhubung sudah pensiun,  tiap bulan pelesiran. Tiap seminggu dibayar 16 juta Rupiah (1600 AUD). Kali ini beliau mau liburan ke Kuala Lumpur  bersama keluarga.

Pas rombongan beliau selesai check in, sudah jam 10.30 pagi dan waktunya check in Scoot TZ1 yang saya tumpangi ke Singapura. Proses check in cepat. Meski ketentuannya kabin 7 kg,  pas saya timbang 9 kg, tidak di minta tambahan. Karena memang ada jatah tambahan buat laptop 3 kg sehingga asalkan tidak lebih 10 kg tidak masalah. Check in lancar, lalu ke Australia Post buat menghabiskan 10 keping koin bermacam nominal yang susah menukarkannya di luar Australia,  total nya senilai 4 AUD. Muter-muter nyari akhirnya menemukan notes bersampul  gambar orang Aborigin dan binatang khas seperti kanguru, koala,  burung dkk.

Lalu masuk ke imigrasi. Meski belum epaspor saya masuk autogate, scan paspor,  lalu scan iris mata, lalu ditanya-tanya kapan ke sini,  berapa hari,  kemana saja, apa yang dilakukan dan seterusnya. Itu saya rasa resiko kalau jalan sendiri. Karena biasanya wisatawan datang ramai-ramai bersama rombongannya. No way, yang penting jawab jujur dan tegas. Tidak sampai itu saja, pas pemeriksaan barang bawaan di geledah lagi. Ada susu kotak rasa pisang yang belum saya minum, mau disita. Sayang dong, saya minta izin, dan  diperbolehkan. Saya minum dekat petugasnya. Jauh lebih ketat rasa nya pemeriksaan di Sydney,  dibanding dengan Perth 2,5 tahun lalu yang pemeriksaan nya cepat sekali serasa jalan tol.

Masuk ruang tunggu saya terpana, brand ternama dunia membikin butik di dalam bandara. Keren. Karena recehan sudah habis,  maka saya jalan terus kurang lebih satu km menuju ruang tunggu 58 yang masih sepi. Oh ya,  ada tempat isi air dekat toilet, air nya segar serasa Aqua. Ada juga WiFi gratis yang kencang. Cocok dengan airport tax yang mahal,  700 ribu an. Saya mau habis kan kuota 1,5 GB Optus yang saya beli kemarin lusa, dengan nonton YouTube,  update aplikasi. Ternyata masih sisa 400 MB. Ya sudah, tak terkejar lagi. Tahu gitu pakai Optus dari hari pertama. Perlu nya dikit,  hanya buat kabar kabar,  googlemap, Myki &  Opal card, dan update email. Di hostel dan tempat umum juga tersedia WiFi gratis.

Pukul 14.00 pesawat berangkat.  Jumlah penumpang tak sampai setengah kapasitas. Kabinnya benar-benar ekonomis,  tanpa audio video. Meski sudah 3 kursi buat 1 orang, masih banyak deretan yang kosong. Mungkin karena pas tahun baru imlek,  orang-orang tidak berpergian. Karena longgar dan bisa selonjoran,  maka penerbangan 8 jam ini menyenangkan. Termasuk nonton film di gadget sendiri. Kalau mau nonton di Scoot juga boleh, pakai gadget masing-masing penumpang, pakai jalur WiFi, film jadul,  bayar 9 Dollar Singapura .  Beberapa kali turbulensi ketika masuk wilayah negara tercinta,  Indonesia.  Saya pesan mi rebus rasa ayam,  dan teh heaven and earth. Sedap sekali,  meski mahal,  9 SGD,  yang penting halal dan memang lagi haus dan lapar. Bayar nya bisa pakai SGD atau kartukredit.

Ada kabar dari majalah Scoot kalau Tiger Air pada tengah tahun 2017 akan menjadi Scoot.

Sampai di Changi sudah pukul 18.30 alias lebih cepat 20 menit dari jadwal (padahal berangkat ya telat setengah jam). Pesawat parkirnya jauh sekali dari terminal 2, sehingga harus naik bus ke terminal, langsung imigrasi yang panjang mengular. Kondisi Changi suram,  tak secemerlang 2-3 tahun lalu, dan tak sudah terlihat tua/out of date. Panduan bandaranya cuma selembar kertas lipat, dulu buku. Lalu pindah ke terminal 1 dimana Air Asia berapa, dengan Skytrain. Sesudah cetak boarding pass, masuk imigrasi dan menunggu pesawat Air Asia yang jadwal nya berangkat pukul 21.50, namun mundur satu jam menjadi 22.50. Penerbangan ini penuh penumpang, sehingga saya dapat kursi no 3 (hot seat) tanpa bayar. Alhamdulillah pukul 23.30 pesawat mendarat dengan selamat di Cengkareng.

Biaya hari ke 6 :

-Refund deposit BIG hostel 20 AUD ~ 200 k Rupiah

– kereta ke bandara turun naik di Mascot 10 AUD~100 k Rupiah

-Jus Oren dan souvenir 7,2 AUD~73 k Rupiah

– Scoot 1,7 JT Rupiah

-Makan minum di Scoot 9 SGD ~ 90 k Rupiah

—————+++

Rp 1,76 jt

Australia 2017 (5) : Botanic Garden, Australia Day @Sydney Harbour, Haymarket, Bondi Beach

Tag

, , , , , , , ,


Kamis, 26 Januari 2017

Di hari terakhir sebelum pulang besok, akan saya manfaatkan untuk mengeksplorasi Sydney lebih mendalam. Terutama tempat yang iconik/identik dengan Sydney, antara lain Botanical Garden, Australia Day di Harbour Bay, pasar oleh-oleh Haymarket, dan Pantai Bondi yang sangat terkenal itu.

Setelah sholat, mandi, maka saya segera ke dapur untuk sarapan. Di sana tersedia banyak sekali roti, bermacam selai, susu serta aneka sereal (ada cornflake, riceflake, muesli, oatmeal). Memang lebih sedikit pilihan dibandingkan Europa hostel Melbourne yang menyediakan pancake. Sarapan sambil minum kopi dan nonton TV di sofa yang empuk.

Usai sarapan, lanjut jalan kaki menyusuri Elizabeth Street, masuk ke Hyde Park yang asri. Luas sekali taman ini. Ada Anzac memorial di selatan dan ada Archibald fountain di bagian utara. Di ujung utara dekat Archibald fountain ada festival menyambut Australia Day. Ada juga bus kuno tahun 1950 an yang dijalankan khusus untuk hari ini, bayarnya pakai koin emas ??? buat sumbangan ke yayasan sosial. Di Australia memang banyak yang gratis, tapi selalu ada kotak donasi. Tur gratis, perpustakaan, beberapa museum. Kalau punya uang silakan donasi.

Dari Hyde park, lanjut jalan lagi melalui taman bunga yang sangat cantik, barrack museum, the mint, Sydney hospital, parliament house, state library. Berhubung masih jam 9, gedung tersebut belum ada yang buka, kecuali Library. Setelah itu masuk ke Royal Botanic Garden. Taman yang sangat cantik dan ditata sedemikian rupa, sukar diceritakan, dengan foto-foto dibawah ini mungkin bisa menggambarkan nya. Dari tepian farm cove terlihat kapal pesiar dan persiapan perayaan. Saya jalan terus hingga Mrs Macquires Point/Chair lalu balik ke Royal Botanic Garden. Di sana ada pohon tertua di Sydney, ada kolam besar, dan aneka taman. Ada juga wahana baru, the CALYX, semacam panggung yang dilengkapi tempat duduk. Saat saya kesana ada performance musik easy listening. Hiburan gratis.

Setelah puas 2 jam di Royal Botanic Garden, perjalanan saya lanjutkan ke Sydney Harbour, bukan mau naik Ferry,tapi melihat keramaian Australia Day. Ya, setiap tanggal 26 Januari diperingati sebagai hari Australia. Yang menandai kehadiran pertama kali bangsa barat ke Australia Yaitu pada 26 Januari 1788 menggunakan kapal Inggris di Port Jackson, New south Wales, dan pengibaran bendera Inggris di Sydney Cove oleh Gubernur Arthur Philips. Semua di area Sydney Harbour sekarang. Ramai sekali hiburan musik, parade kapal perang, parade kapal pesiar, parade pesawat perang, helikopter yang bawa bendera raksasa Australia. Area yang saya kelilingi mulai dari Sydney Opera House, The Rock, Miller Point hingga Haymarket. Ada pertunjukan orang Aborigin dekat terminal pelabuhan. Lalu jalan lagi, hingga dekat information center The Rock ada bazaar yang menjual produk khas Sydney/Australia, misalnya kerajinan kulit, woll, dendeng daging kanguru. Makanan pun ada, tapi saya lihat harganya seperti di restoran (diatas 10 AUD/porsi). Ada perbaikan George Street yang para pekerjanya teman sekamar saya di BIG hostel. Jauh sekali perjalanan ini, melalui Susanah Place (kos2an imigran pertama Australia), GPO (mall), Queen Victoria Building (QVB), strand arcade, Townhall, world Square, hingga akhirnya Haymarket. Catatan jalan kaki hari ini sudah 15 km. Pantesan kaki sudah mulai lecet.

Di Haymarket/Paddys Market sempat keliru, masuk mall kelas menengah/sedang. Ada toko Giordano yang sale 50% kaus bertuliskan I Love Sydney lengkap dengan gambar jembatan dan Opera house nya. Sedangkan pasar sayur dan souvenirnya sendiri ada di bawah. Campuran pasar basah sayur dan buah dan pasar oleh-oleh. Mirip-mirip pasar di Indonesia, agak kotor. Souvenir di sini lumayan murah, 6 pin 5 AUD, 3 wadah pensil 5 AUD. Karena sudah sore/jam 4 dan lelah, saya balik ke hostel untuk istirahat, mandi, bikin kopi, makan siang, jalan lagi ke Bondi nanti jam 6.

Pas jam 6 saya ke stasiun Central, top up 10 AUD di minimarket 7-11 . Lalu naik ke platform menuju Bondi Junction. Tidak lupa tap on saat masuk stasiun dan top off saat keluar stasiun. Dari Bondi Junction lanjut naik bus 336, turun di kota Bondi. Untuk ke pantai jalan kaki 800 meter melalui kafe dan perumahan. Banyak anak muda mulai mabuk di tepi jalan, sehingga pasangan bule di depan agak menjauh, saya pun ikut. Kalau sudah mabuk=tak berakal, lebih baik kami menghindar. Akhirnya sampailah saya di pantai. Beberapa pemuda tampak datang membawa satu krat beer. Ya, bukan barang aneh bir dan minuman keras di sini. Pantai Bondi lumayan bagus. Beda dengan Manly yang landai, pantai Bondi ada di lembah, namun pantainya sendiri landai, terlihat cukup indah dengan pasirnya yang berwarna keemasan.

Karena sudah jam 8 sore, saya balik menggunakan bus yang ke Sydney, turun di Sheraton sebelah Hyde Park. Dari sini sambung lagi bis ke Circular Quay. Ingin nonton pertunjukan musik di Opera House. Ada kejutan yang saya lihat, ada ibu bule dan 2 anaknya jualan bando dan tongkat yang nyala/fluoresans. Bule lain tampak manggut-manggut, mungkin karena semua usaha harus berizin, dan ini liar. Lengkap sudah pemandangan yang saya lihat di Sydney dan Melbourne. Diantara kemapanan, banyak pula orang yang kekurangan. Seperti gelandangan di Flinders station dan taman kota, serta yang baru saya lihat tadi.

Balik dari Circular Quay sudah jam 9.30, naik bus dan turun di depan stasiun Central . Karena kelelahan+ngantuk , saya sempat disorientasi, bingung arah ke hostel. Saya tenangkan diri sejenak, duduk di halte, tarik napas. Alhamdulillah konsentrasi kembali muncul dan saya bisa kembali ke hostel dengan selamat. Jalan jalan hari ini cukup hemat, Opal card 15 AUD setelah di top up tadi, kini masih sisa 10 AUD. Artinya naik kereta ke Circular Quay dan Bondi Junction, serta naik bus dari Bondi ke Sydney lalu ke Central hanya menghabiskan 5 AUD. Mudah-mudahan sisa ini cukup buat besok ke bandara.

Sesampai di hostel saya mencoba menghabiskan perbekalan yang belum saya masak, seperti pisang, susu pisang dan nachos. Alhamdulillah nachos bersertifikat halal ini enak, dan beberapa orang tampak melirik nachos yang sedang saya pegang, mungkin penasaran.

Tempat menarik yang saya kunjungi hari ini :

– Hyde Park

– Botanic Garden & Mrs Macquires/Domain

– Australia Day @ Sydney Harbour

– The Rock, QVM, Hay/Paddys Market

– Bondi Beach

Biaya hari ini

– Top up Opal 10 AUD = Rp 100 k

– oleh oleh 19 AUD = Rp 190 k

______________________+

Rp 290 k

Australia 2017 (4) : Blue Mountain, Sydney Harbour, Manly, Hemat Pakai Opal Card

Tag

, , , , , , , , , , , , , ,


Rabu, 25 Januari 2017

Jam 4 pagi terbangun ketika sampai Yass station, dimana jika menurut peta, stasiun ini adalah tempat berganti kereta jika mau ke Canberra, ibukota Australia. Sepanjang jalan memang banyak penumpang yang naik dan turun, tidak hanya Melbourne-Sydney seperti yang saya tempuh. Mungkin juga mereka tinggal di kota-kota yang tidak terjangkau oleh pesawat terbang. Jam 6 penumpang dipersilakan datang ke restorasi buat sarapan. Seperti di Kereta Api Indonesia, sarapan juga harus dipesan/beli. Kakek sebelah saya mengembalikan selimut dan berterimakasih, kemudian ke restorasi. Saya sarapan donat isi strawberry yang lezat. Jam 6, sang kakek turun waktu saya di toilet, dan jam 7.00 kereta sampai di stasiun Central Sydney.

Pemandangan stasiun Sydney agak berbeda dengan stasiun Melbourne, kesan kuno, besar seperti stasiun di film Amerika, dan melalui area rawan Redfern yang ada bengkel keretanya. Stasiun Central ini adalah ujung dari NSW Link, mirip stasiun kota, namun masih terhubung ke stasiun lain dalam kota Sydney. Di stasiun ini saya mampir di kios/minimarket Newslink untuk membeli kartu Opal sekalian diisi 20 AUD, dan berhubung langganan roaming Telkomsel habis, saya beli kartu seluler Optus 2 AUD dan isi pulsanya 10 AUD. No problem with Opal, tetapi agak bermasalah dengan kartu Optus. Petugasnya seorang ibu-ibu Chinese kebingungan, minta tolong supervisornya yang mbak-mbak India kasar, dan ternyata sama-sama tidak paham, hanya memperumit masalah. Akhirnya otak-atik sendiri, kebetulan setelah kartu dimasukkan ke handphone, bisa akses internet terbatas ke website Optus, dari situ tahu cara daftar (ID pakai saja no kartu kredit) dan cara isi ulang berikut cara beli paket internetnya. Dengan 12 AUD bisa dapat 1,5 GB berlaku 14 hari. Lebih murah 78% jika dibandingkan roaming Telkomsel yang 2×275 ribu= 550 ribu untuk masa aktif 6 hari dan dapat 1,5 GB. Tahu begitu sejak kedatangan di Melbourne 3 hari yang lalu langsung pakai Optus.4-kereta-di-sydney

Setelah membaca panduan dari NSW Rail, ternyata kartu Opal bisa dipakai di kereta api, bus kota, LRT (semacam tram) dan ferry. Maksimum charge/cap per hari adalah 15 AUD untuk Senin-Sabtu, sedangkan hari Minggu max cap is 2.5 AUD. Berhubung Opal saya 15 AUD, sekalian saja buat jalan ke Katoomba di kaki Blue Mountain yang terkenal itu. Saya tap on kartu Opal dan menunggu di jalur yang di tunjukkan di TV, sepi, tak lama kemudian, muncul petugas keturunan Asia Selatan dengan ramah  menginformasikan jalurnya pindah. saya ikuti saja petunjuk petugas ini. Dan ternyata kereta yang ke Katoomba memang pindah jalur. Kereta ini bertingkat, mulai berangkat jam 8:18, melalui belasan stasiun, beberapa yang saya ingat Paramatta yang banyak pekerja asing naik dari sini, kemudian Auburn yang ada masjid besar banget yang banyak orang Turki nya. Stasiun dekat Sydney berupa perumahan, kemudian kawasan industri dan akhirnya berangsur-angsur hutan, dan kota/kampung peristirahatan/villa. Perjalanan cukup lama, 2 jam, dan akhirnya jam 10:43 siang berkabut, saya tiba di stasiun Katoomba. Mampir dulu ke toilet stasiun kuno ini, yang ternyata bersih dan modern. Keluar stasiun dengan tap off.

Dari stasiun jalan kaki 100 meter, menunggu di halte depan hotel, bersama puluhan turis dari China. Petunjuk di aplikasi Opal cukup jelas. Ketika bus tiba, ada insiden, seorang ibu-ibu lansia turis China terpeleset saat lari mengejar bus, barangnya terhambur, termasuk handphone nya pecah berantakan, yang paling kasihan itu beberapa giginya patah, karena mulutnya terbentur lantai. Ibu itu pergi bersama suami, anak dan menantu, beserta cucunya yang kemudian mereka mengumpulkan barang yang tercecer. Saat itu memang baru hujan dan ubin depan hotel tempat penumpang menunggu bus, basah. Kami antri masuk bus, tap on. Saya lihat ke ibu tadi,sepanjang jalan menangis tak bersuara, dan anak perempuannya terus membersihkan darah menggunakan tisu. Di three sisters lookout kami turun, tap off. Ibu itu kemudian dibawa ke klinik. Seharusnya di sini tampak 3 batu berjajar, namun karena cuaca berkabut (fog), sama sekali tak terlihat, pandangan terbatas 10 meter saja, saya tengok ke toko souvenir resmi yang cukup lengkap jualannya dan ada diskon 50% untuk kalender 2017. Karena tak banyak yang dilihat, saya naik bus lagi pindah ke scenic world, yang ada wahana kereta menuruni bukit dan kereta kabel untuk melihat pemandangan hutan di bawahnya. Sama saja, bahkan agak lebih pekat. Kecewa., ya sudahlah, saya juga lelah, akhirnya naik bus lagi, balik ke stasiun, mengejar kereta jam 12:14 siang, yang insya Allah sampai Central 2 jam kemudian tiba di stasiun Sydney Central. Jangan lupa tap on saat naik bus/masuk stasiun dan tap off saat turun bus/keluar stasiun, jika tidak ingin kena charge maksimal mingguan 60 AUD. Pemandangan ke kota Sydney sepanjang jalan adalah hutan semacam eukaliptus dan kayu putih, saya tertidur dalam perjalanan yang dingin dan senyap ini. Dan bangun ketika mendekati stasiun Sydney.

Dari stasiun saya jalan kaki 300 meter ke arah BIG Hostel. Bangunan kuno terawat. Saya agak shock karena gaya western yang cukup berbeda dengan Europa Hostel Melbourne yang saya inapi sebelumnya. Di sini saya check in, bayar 69 AUD + deposit 20 AUD+ AUD 2 charge kartu kredit. Setelah  dapat kunci akses kamar dan pintu masuk hostel saat malam hari, 1 bungkus bantal, 2 bed sheet/cover. Ketika masuk kamar 103, ternyata kamar cukup luas, terdiri dari 8 ranjang. Penghuninya mayoritas mahasiswa bule Perancis yang sedang kerja/Working Holiday Visa membongkar George Street. Perawakannya kekar, dan mirip-mirip aktor Ridho Roma, Tom Cruise, Daniel Craig (James Bond) dan sebangsanya. Namun kebanyakan yang tak lancar bahasa Inggris. Australia ternyata jadi tempat merantau bule Eropa. Setelah istirahat sebentar dan mandi, akhirnya berangkat lagi. Namun sebelumnya saya bikin kopi dulu di dapur hostel, sambil nonton TV di sofa hostel yang nyaman. Kopi, teh, gula, air panas, tersedia di sini. Perlengkapan dapur seperti kompor gas, oven, microwave, gelas, piring, sendok, garpu, bisa digunakan kapan saja dan harus dicuci sendiri setelah pakai. ada peringatan, barangsiapa yang tidak mau mencuci sendiri, deposit 20 AUD akan hangus.

Jalan kaki 200 meter menyusuri jalan Elizabeth, lalu masuk stasiun Museum, tap on, masuk platform, naik kereta ke arah Circular Quay, setelah sampai, keluar stasiun, tap off. Tampak pemandangan laut. Saya naik ferry ke arah pantai Manly. Sebelum masuk ferry tap on dulu. Pemandangan spektakuler, mulai Opera House, Sydney Brigde, Botanic Garden, hingga akhirnya Manly. Di tempuh 30 menit, dengan ferry yang tenang (tidak berisik dan oleng). Di Manly banyak kafe, restoran. Supermarket Coles, Aldi, KFC dll tersedia lengkap di kawasan yang cantik ini. Untuk ke pantai Manly, dari jetty ferry perlu jalan kaki 500 meter. Pemandangan cukup cantik, mirip pantai Patong di Thailand. Banyak orang yang selesai berjemur, dan saat itu sudah sore, kemudian mandi di shower terbuka yang tersedia. Juga tampak ada yang masih ikut lomba selancar yang diikuti puluhan remaja. Tampak juga rombongan turis berjilbab sedang melihat pantai. Kemudian saya balik ke jetty ferry untuk kembali ke Circular Quay. Di Manly tak perlu top off dan top on, karena dihitungnya sekalian balik di Circular Quay/tak ada transportasi umum selain ferry penghubung antar dua tempat ini. Banyak penumpang termasuk saya,  duduk di depan kemudi,  foto foto. Pasangan di depan saya dengan cueknya berciuman hot dan bermesraan di depan penumpang lain,  termasuk anak anak. Sekitar jam 6 sore, tiba di Circular Quay, naik ferry lagi ke Milson Point,  dimana ada Luna Park.  Karena wahana ini sedang tutup,  setelah berfoto,  saya naik kereta ke  Central dan dari Central saya naik LRT. LRT ini melalui Townhall, Haymarket, Convention, Exhibition, Casino dan Fishmarket. Tadinya saya mau lihat fishmarket, tapi nyasar. dan ternyata fishmarket sudah tutup jam 4 sore tadi. Ya sudah balik lagi saja. Ada kejadian bapak-bapak Chinese ber jas di samping saya mem foto tanpa izin 2 cewek remaja bule yang berpakaian super seksi, dan ketahuan 3 cewek negro. Saya menoleh ke bapak itu, dan ternyata memang sedang berusaha mengalihkan mode foto ke mode lain. Bapak itu tak mengaku, dan akhirnya turun di stasiun terdekat, mungkin malu ketahuan. Dan cewek negro tadi berujar ke remaja bule “hati2 mungkin orang tadi mau berbuat jahat, bisa jadi dia germo”. Kedua remaja tadi tampak kebingungan.

Saya turun di halte town hall, tap off, dan jalan ke arah mall World Square untuk belanja di supermarket Coles. Melalui aplikasi android nya saya bisa mencari produk halal yang ada di sana buat konsumsi selama di Sydney dan buat oleh-oleh. Produk halal selain buah ternyata ada pie daging sapi, 2 pack 5 AUD, aneka coklat Mars buat oleh-oleh, dan juga mie instan cup Maggie. Sebenarnya pengen beli Indomie sate yang sudah tidak beredar di Indonesia, tapi tidak ada yang cup. Dari Coles, saya jalan kaki ke hostel sejauh 600 meter. Di hostel saya nikmati pie daging sapi dengan memasukkan microwave selama 2 menit, menyeduh mie cup, dan menyeduh teh. Sungguh nikmat rasanya makan minum di saat lapar, lelah, dan menikmatinya sambil menonton siaran langsung Australia Open 2017 di sofa hostel. Setelah makan, saya simpan sisa belanjaan ke refrigerator besar fasilitas hostel, kembali ke kamar, lalu bebersih di toilet, balik ke kamar, sholat, lalu tidur. Tengah malam ada gangguan, mahasiswa Perancis dari kamar sebelah mengerjai temannya yang ada di ruangan saya, sangat berisik. Tapi tak lama. Namun sesudah itu agak lama bisa tidur, karena di samping hostel sedang ada pekerjaan perbaikan jalan yang saya lihat tanda dilarang melintas tadi pas balik ke hostel.

Tempat menarik yang saya kunjungi hari ini :

  • Three sisters and scenic world Katoomba Blue Mountain
  • Sydney Harbour Bay (Opera House, Bridge)
  • Manly
  • Fish market
  • Ada penghematan yang signifikan menggunakan opal card hari ini, karena kalau lihat rinciannya harusnya bayar 42 AUD. Tapi berhubung ada max cap 15 AUD, jadi hemat 27 AUD (64%). Jika hari minggu max cap 2.5 AUD, hematnya lebih dahsyat lagi 39.5 AUD (95%).

Biaya hari ke-4 :

  • Opal Card AUD 20 ~ Rp 200k
  • Optus AUD 12~Rp 120k
  • BIG Hostel AUD 91~Rp 910k
  • Belanja di Coles AUD 31.62~Rp 317—————-+
  • Rp 1,59 jt

 

Australia 2017 (3) : Tur Parlemen, Botanic Garden,  Dockland, Victoria Library dan Naik Kereta Api ke Sydney 


Selasa, 24 Januari 2017

Hari ini adalah hari terakhir saya di Melbourne,  karena sore akan ke Sydney menggunakan kereta api. Seperti biasa, pagi-pagi setelah mandi,  sarapan. Kali ini sarapan oat + susu,  dan roti bakar. Agak santai hari ini,  karena sambil menunggu saat check out. Jam 9.30 saya baru check out, kembalikan bungkus bantal dan dapat kembalian deposit  20 AUD.

Dari hostel naik tram ke terminal Southern Cross. Terminal ini lebih mirip mall, sedang ada sale 50%, yang kalau saya amati jatuhnya hampir sama dengan harga di Jakarta. Di sini saya menitipkan tas di loker otomatis bertarif  12 AUD/hari untuk ukuran sedang,  dan 14 AUD ukuran besar. Dari terminal, lanjut naik tram menuju gedung Parlemen untuk ikut tur. Posisi terminal di ujung barat sedangkan gedung Parlemen di ujung Timur area free tram zone CBD. Sekitar setengah jam waktu tempuhnya.

Pas tiba di taman belakang Parlemen sudah jam 10.15, santai di taman dulu. Dan baru jam 11 tiba di gedung Parlemen. Masih kebagian tur jam 11.30. Petugas sekuriti di depan (orang Timor kayak nya) cukup tegas mengarahkan pengunjung,  terutama pada turns China yang tak bisa berbahasa Inggris. Semua barang kecuali pakaian dan sepatu harus dilepas untuk di scan. Sesudah itu masuk ruangan registrasi dan masing-masing pengunjung dapat stiker visitor untuk ditempel di baju. Tur berlangsung 1,5 jam di ruangan sidang Parlemen,  menjelaskan peran eksekutif dan yudikatif di Parlemen negara bagian Victoria. Ada juga “emas” bongkahan sebesar anak kambing di salah satu ruangan.entah emas beneran (nuggets)atau batu yang dicat emas.

Jam 1 siang tur selesai. Saya berjalan menuju halte no 4 bus Visitor Shuttle. Kalau di peta, bus parkir di bioskop setelah Chinatown, tapi setelah saya tunggu 15 menit tak muncul juga, dan tak ada tanda perhentian. Akhirnya saya jalan saja menuju halte tram Bourke Street. Tram melintasi mall tempat kejadian hari Minggu yang makin dipadati orang dan bunga duka cita. Jalan terus melalui kawasan perkantoran hingga akhirnya saya temukan perhentian no 11 bus Visitor Shuttle. Di sini saya menemukan bus tersebut dan naik hingga perhentian no 13, yaitu Botanical Garden.

Di halte Botanical Garden banyak kursi buat duduk santai, dan saya menikmati KFC kemarin sore yang masih enak dimakan. Entah karena wadah Tupperware yang rapat, atau karena udara kering, atau keduanya, sehingga makanan tidak cepat rusak. Usai makan, saya menyeberang ke monumen Remembrance Shrine, untuk menghargai para pahlawan Australia yang gugur dalam perang Galipoli bersama sekutu Inggris melawan pasukan Turki Muda pimpinan Ataturk. Meski mereka kalah, tapi itu adalah peran pertama negara Australia dalam usaha “menjaga perdamaian dunia”. Setelah di monumen selama 30 menit, saya menyeberang ke arah Botanical Garden. Di depannya ada Observatorium (mini) Melbourne. Lalu kafe dan penjualan souvenir, baru masuk taman. Taman yang sangat rindang dan rimbun mengingat kan saya akan Botanical Garden di Singapura. Kurang lebih seperti itu, yang beda jenis tanamannya. Ada juga bekas tempat tinggal gubernur jenderal La Trobe dll. Karena luas sekali, cuma sekitar setengahnya yang saya jelajahi. Saya mengejar bus2 Visitor Shuttle terakhir. Ya, saya masih dapat bus jam 2.15, yang pas di perhentian no 1 jam sudah menunjukkan pukul 2.30. Di sini saya turun, melihat isi Melbourne Art Museum. Ramai dengan acara seni dan anak-anak. Memang Januari adalah musim liburan musim panas sekolah di Australia. Di depan gedung ini ada pertunjukan/pengamen musik China dan semi akrobat. Dan sambil menunggu bus visitor Shuttle terakhir, jam 2.45, saya terhibur oleh pengamen Philipina dengan lagu evergreen/tahun 70an.

Bus berjalan melalui Federation Square, MCG, Chinatown (ternyata perhentian bus ini sebelum gerbang Chinatown), Fitzroy, Melbourne University (pengen banget lihat ke dalamnya, apa daya waktu terbatas), Queen Victoria Market yang sudah tutup jam 2 tadi, dan akhirnya sampai Docklands, kawasan pelabuhan yang dilengkapi mall dan apartemen.Sempat tergoda belanja di sini karena bisa dibilang murah-murah, tapi mengingat saya tidak beli bagasi, ya sudahlah, lihat-lihat saja. Lalu ke perhentian tram, baik yg free maupun yang tidak. Suasana nya asyik. Pantai dengan pohon palemnya. Ada yang unik, serombongan keluarga tradisional Srilanka (nenek nya berpakaian sari yang kelihatan perut) mengejar tram sambil melambaikan tangan, ya tram akan terus jalan kalau tidak di perhentian nya. Saya turun di perhentian Central lanjut jalan kaki ke Victoria State Library yang sangat besar. Didepannya banyak anak muda bercengkerama, main skateboard, riuh. Sayang agak jorok, ada spot yang banyak ludahnya. Kontras dengan dalam perpustakaan yang sejuk dan tenang. Mengagumkan sekali, selain buku ternyata ini semacam galery seni. Untung saya mampir dan sempat masuk ke La Trobe room yang terkenal itu. Sekitar satu jam di sini. Jam 6 sore saya keluar, naik tram ke selatan, sambung ke tram melalui Bourke Street (4 x lewat jalan ini hari ini) ke barat ke arah terminal Southern Cross yang megah. Di sini ambil tas, lalu ke kursi ruang tunggu. Jam 6.50 kereta sudah datang dari Sydney.

Body kereta mirip kereta Senandung Sutera Johor-KL Sentral 2 tahun lalu, penyok. Tapi isinya bagus, seperti kereta eksekutif di Indonesia, sekalipun kelas ekonomi. Minus TV dan colokan listrik. Ada dispenser air dekat toilet. Di sebelah saya ada bule pensiunan yang ramah, mengajak ngobrol tapi sulit di dengar speelingnya/ngomong apa dia. Cuma tukang periksa tiket yang mengerti. Kereta berangkat tepat jam 7.50 sore.Melalui kawasan industri, lalu ladang peternakan luas, ada sapi, kuda. Pantas saja susu segar satu liter cuma satu dollar. Semacam susu Greenfield yang seliter 25 ribu Rupiah. Cuma ada pengalaman baru, sisa susu segar yang saya beli dan konsumsi kemarin lusa malam (36 jam lalu) pagi tadi sudah menggumpal semacam agar-agar. Sudah tak layak konsumsi. Mungkin itu tanda kalau susu di sini benar-benar segar tanpa pengawet. Menjelang gelap jam 9, kami melihat kanguru melompat-lompat di Padang ilalang. Penumpang pun tampak asyik menengok keluar. Sang kakek pun terus cerita dan ngobrol dengan kondektur, beliau pesan makan, dan makan di kafetaria. Kebetulan saya tadi beli 6 donat isi, yang enak dan mengenyangkan, yang lumayan bisa jadi pengganjal perut. Air tinggal ambil di dispenser. Sekitar jam 11 lampu kereta api di padamkan. Saatnya tidur. Saya ambil jaket dan selimut. Kakek yang di sebelah tampak menggigil kedinginan, karena cuma pakai kaos berkerah dan cuma bawa dompet+tiket. saya pinjami selimut, dan beliau berterimakasih berulang-ulang. Sampai akhirnya kami semua ketiduran.

Acara dan tempat menarik yang saya kunjungi hari ini :

– Tur Parlemen Victoria

– Botanical Garden dan monumen

– Arts Galery

– Kawasan pelabuhan Docklands

– Victoria Library

– Terminal Southern Cross dengan kereta NSW Rail yang saya naiki

Pengeluaran hari ini

– Kereta NSW Rail Melbourne-Sydney AUD 81 ~ Rp 810 k

-kembalian deposit AUD 20~ Rp 200 k

– Donat 6 biji AUD 6 ~ Rp 60 k

– Loker titip tas AUD 14 ~ Rp 140 k

————————–+

Total Rp 810 k

Australia 2017 (2) : Keliling Melbourne, Menyusuri Sungai Yarra,dan ke Australia Open

Tag

, , , , , , , ,


Senin, 23 Januari 2017

Agenda hari ini antara lain keliling kota Melbourne dengan menggunakan tram dan bus, menyusuri sungai Yarra, dan melihat kemeriahan Australia Open 2017.

Sarapan pagi saya di Europa hostel hari ini adalah roti dengan bermacam selai. Ada selai strawberry, blueberry, aprikot, kacang tanah. Dan minum kopi yang saya campur dengan susu segar. Lumayan bisa mengganjal perut. Setelah sarapan balik ke kamar, mengambil bekal buah apel yang saya beli kemarin. Dan tentu saja mengisi termos air.

Perjalanan saya mulai dengan menyusuri Queen Street dimana ada Victoria university, lalu belok ke Londsdale Street dimana restoran halal Mamak dan Zamzam. Lalu menyeberang ke Elizabeth Street, tepatnya ke kantor pos untuk membeli prangko buat saya tempel di kartu pos yang saya beli di St kilda kemarin. Prangko kartu pos ke Indonesia sebesar AUD 2.1. Di situ juga dijual peralatan kantor dan peralatan filateli seperti prangko, album prangko, kaca pembesar dll. Ada juga bolpoin gratis yang boleh diambil.

Usai dari kantor pos, saya jalan ke arah Town Hall melalui Bourne Street mall yang ternyata ternyata kemarin ada insiden, orang Australia keturunan Yunani yang stres menabrak pejalan kaki di trotoar tersebut sehingga menewaskan 3 orang. Banyak karangan bunga di sana, ada juga stasiun TV yang siaran dari tempat ini. Turut berduka cita. Lanjut lagi jalan ke Swanston Street. Jalan yang nyaman, teduh dan trotoar yang lebar. Saya ada jadwal mengikuti Town Hall tour jam 11 pagi yang pendaftarannya sudah saya lakukan seminggu sebelumnya. Bersama saya 5 turis dan New Zealand, 2 bapak-bapak, 3 ibu-ibu. Tepat jam 11 siang, tur dimulai, dengan menunjukkan ruangan yang ada di sana, misalnya ruang walikota, ruang menyambut ratu Elizabeth, ruang menyambut pebisnis besar yang berinvestasi di Melbourne, ruang konser musik/auditorium yang sangat besar beserta peralatan musik yang sangat kompleks dan besar. Selain itu kami juga dijelaskan sejarah terbentuknya kota Melbourne pada 1820 saat demam emas di sana. Melbourne sejak awal sudah di desain tata kotanya dan sampai saat ini masih digunakan. Sejarah negara bagian Victoria sebagai daerah terkaya di Australia, Olimpiade Melbourne 1956 dan perkembangan terkini kota Melbourne. Tour yang berlangsung 2 jam ini sangat menarik menurut saya, karena menyajikan hal yang baru.

Seusai tur, saya lanjut jalan ke Federation Square, melihat keramaian orang-orang yang menyaksikan siaran langsung Australia Open di layar besar. Lalu ke underground Visitor Information center dimana selain tersedia brosur informasi wisata, juga tersedia paket wisata dan toko souvenir. Saya membeli magnet kulkas dan tiket bus Visitor Shuttle di sini. Dari information center lanjut ke ACMI lalu keluar gedung ini menuju perhentian no 2 dari bus Visitor Shuttle. Dari sini bus mulai mengelilingi kota Melbourne, mulai Cricket Ground, Chinatown, Fitzroy (Italia Town), Melbourne university, Victoria Market, Docklands, Crown Casino, Botanical Gardenia, hingga Victoria Arts Centre, sebelum akhirnya ke Federation Square. Total perjalanan 90 menit. Bus ini ber AC, free WIFI dan ada komentatornya, baik suara kaset maupun dari sopir.

Dari Federation Square saya susuri Flinders Street, dan terlihat puluhan gelandangan berada di jalan ini, khususnya di stasiun Flinders. Mengejutkan buat saya, karena Australia terkenal sebagai negara makmur, tapi gelandangan ternyata banyak juga. Gelandangan nya hampir semuanya bule, saya cuma lihat satu nenek-nenek Chinese terselip di antara mereka.  Jadi teringat jawaban Lisa orang New Zealand yang mengelola hostel di Goreme Turki waktu saya berkunjung ke sana 3 bulan lalu, “kenapa berbisnis di sini, bukankah New Zealand negara yang kaya dan banyak dikunjungi turis?” Jawabannya ” tiap negara punya permasalahan masing-masing”.

Dari Flinders Street saya mampir ke KFC di Elizabeth Street, beli paket yang sama dengan kemarin, yaitu Zinger. Berhubung saya mengisi survey, saya dapat bonus minuman kaleng dan kentang. Nikmat sekali. Di sini saya membaca berita kejadian kemarin ternyata dilakukan orang keturunan Yunani yang pailit/terbelit hutang. Dan korbannya ada cucu pendeta Yahudi, orang Jepang dan bule Australia.

Hari sudah sore, tapi hari ini terasa panas, karena temperatur menunjukkan suhu 37 derajat Celsius. Sampai hostel jam 5 sore. Mandi, sholat, istirahat sebentar, minum susu dan jus yang saya beli kemarin, lalu berangkat lagi untuk melakukan tur pribadi, menyusuri sungai Yarra. Untuk menghemat tenaga, saya naik tram mulai dekat central hingga stasiun Flinders. Gelandangan terlihat makin banyak, mungkin sudah berkumpul. Karena agak mengkhawatirkan, saya lewat daerah ini dulu, nanti pulangnya tidak lewat sini. Jalan melalui Princess bridge, belok kiri lewat taman Alexandria yang kecil namun cantik. Di situ tampak beberapa keluarga sedang gelar tikar melihat lampu Australia Open dan kano yang melintas. Di bawah jembatan ada love music-pengamen. Jalan terus, kemudian menyeberang Southgate Pedestrian Bridge,jalan terus melalui Melbourne SEAlife, lalu belok Queensbridge Street yang ujungnya ada parkiran Crown Casino. Belok kiri, ini kawasan Southgate, di sini banyak hiburan, mulai nonton bareng Australia Open melalui layar besar, akrobat, sampai live music. Kantor konsultan besar seperti PWC juga ada di sini. Puas menikmati tepian Yarra River, saya kembali ke arah Federation Square.

Setelah menyeberang Princess Bridge, belok kanan melalui Princess Walk. Saya mampir beli Mama’s Gozleme, makanan khas Turki yang bertuliskan halal. Orang Australia tampaknya juga familiar dengan Gozleme, karena saya harus antri. Lanjut turun ke arah Birrarung Marr dimana ada booth dan ticketing Australia Open. Sangat meriah. Booth sudah banyak yang tutup, karena sudah jam 7.30 sore. Saya masih sempat foto di lokasi ini. Ada juga tempat nonton outdoor di bukit buat pemegang karcis bekas nonton di dalam. Uniknya layarnya ada di pinggir jalan, sehingga yang tidak berkarcis juga bisa nonton, meski kurang nyaman, karena terlalu dekat ke layar. Seperti nonton di bioskop dan duduk di kursi paling depan.

Usai melihat meriahnya acara Australia Open, saya balik ke hostel. Saya mampir dulu ke Coles Swanston Street yang ternyata lebih lapang daripada yang di Central mall. Saya lihat Yakult harganya hampir 4 AUD, padahal di Indonesia cuma 8000 Rupiah (1/5 nya). Usai beli air minum, saya balik ke hostel naik tram yang ada iklan Garuda Indonesia di badannya. Dan tiba di hostel sudah jam 9.30 malam. Santai sambil menikmati belanjaan kemarin, dan sekitar jam 11 malam mulai lelap tertidur.

Tempat menarik yang saya kunjungi hari ini :

  • tur Town Hall
  • keliling naik bus
  • susuri Sungai Yarra
  • Australia Open

Pengeluaran hari ke 2 :

  • prangko koleksi dan untuk kirim kartu pos 3.95+6.3 = AUD 10.25~Rp 103k
  • magnet kulkas dan visitor shuttle bus 5.95+10 = AID 15.95~Rp 160k
  • Gozleme AUD 10~ Rp 100k
  • KFC AUD 10.75~Rp 108k
  • Air1.5 l AUD 1 ~Rp 10k

Rp 481k

 

Australia 2017 (1) : Welcome To Melbourne

Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , ,


Minggu, 22 Januari 2017

Jam 5.30 pagi waktu Melbourne musim panas (3 jam lebih cepat dari Denpasar) saya sudah bangun, dan menuju toilet pesawat. Sementara beberapa penumpang bangun dan minta air minum gratis. Sholat subuh sambil duduk, dan jam 7.30 pesawat sudah mulai bersiap mendarat. Terlihat pemandangan daratan Australia yang hijau kecoklatan. Sekitar Melbourne adalah hutan, padang gembala dan pabrik. Jam 7.45 pagi pesawat mendarat dengan selamat. Di Jetstar tadi sudah dibagikan kertas imigrasi termasuk check list barang bawaan.

Imigrasi lancar. Saya dikasih tahu petugasnya untuk obat pasaran seperti obat maag, tolak angin, panadol, tak perlu di declare. Keluar bandara suasananya mirip di Indonesia, ramai penjemput dan jasa taksi. Meski musim panas, suhu udara pagi itu 14 derajat Celsius, dingin, dan kering, sehingga bibir saya retak-retak, seminggu jalan tak sembuh. Galau mau ambil uang tunai di ATM atau tukar USD ke AUD buat transportasi ke kota. Akhirnya menukar 100 USD ke Travelex, cuma dapat 106 AUD (harusnya 132 AUD). Cerita saya tulis di… Lalu ke information center yang petugasnya mbak-mbak Chinese yang ramah sekali, untuk membeli kartu Myki Explorer Cars seharga 15 AUD, berisi 9 AUD buat jalan dan 6 AUD buat beli kartu. Di sini saya juga ambil tas kertas yang bertuliskan “welcome Student” yang berisi bermacam panduan dan kartu perdana Vodafone expired. Gratis. Dari sini lalu mencari tempat bus 901 mangkal. Muter-muter tidak jelas, tanya 3X baru dapat petunjuk yang jelas.

Bus 901 dan bus lainnya yang dikelola PTV (DAMRI nya negara bagian Victoria) ada di terminal bus sejauh 400 meter sebelah kanan terminal Jetstar tempat saya turun. Setelah 9x berhenti tiba di halte stasiun Breadmeadow. Dari stasiun ini, saya naik kereta api ke stasiun Flagstaff. Stasiun bawah tanah mirip dengan MRT kalau di Singapura. Jalan ke hostel Europa sejauh 200 meter. Petunjuk saya dapat dari Google map yang saya aktif, setelah berlangganan internet Telkomsel roaming 3 hari seharga 275 ribu Rupiah, dapat kuota 750 MB yang saya aktif kan saat tiba di bandara tadi.1-kereta-di-melbourne

Europa hostel ada di Queen Street. Ini adalah pertama kali saya menginap di hostel. Kaget juga lihat banyaknya cewek cuma pakai hotpants dan bertato. Karena baru jam 11 sementara waktu check ini jam 2 siang, saya titip tas. Dan titip tas tidak gratis, ada kotak loker yang berbayar koin 2 AUD untuk 8 jam pertama, selanjutnya 1 AUD per jam. Karena belum ada koin, saya tukar kertas 5 AUD dengan 5 koin 1 AUD.1-europa-hostel

Usai titip tas, saya jalan dengan tas selempang. Menyusuri La Trobe Street lalu belok ke Elizabeth Street, naik tram gratis, melewati Bourke Street Mall yang nge-hits di Melbourne. Tanpa menyadari bahwa beberapa menit lalu ada orang Australia keturunan Yunani stress (teroris) menabrak pejalan kaki di trotoar sekitar mall ini dengan mobil bututnya, menewaskan 3 orang.

Masih kagok, karena pertama ke Melbourne, saya turun di halte tram Flinders. Lalu menyeberang ke stasiun Flinders. Rencana saya mau ke pantai Brighton yang ada Bathing Box nya itu. Maka saya harus naik kereta ke arah Sandringham, turun di stasiun Brighton Beach. Petunjuk di layar TV sangat jelas, tinggal tap kartu Myki. Masuk ke platform yang tertulis di TV. Perjalanan ke Brighton Beach cukup lama, sekitar 30 menit. Banyak penumpang yang turun, rata-rata anak muda. Pemandangan pantai yang jernih terlihat karang di dasarnya, banyak orang naik kapal pesiar dan kano, dari kejauhan tampak kapal-kapal besar. Semilir angin dingin dan teriknya matahari cukup membuat kulit gosong dan bibir retak-retak. Kombinasi dari suhu 18 derajat Celsius, kering/rendah kelembaban, dan matahari yang terik tak terhalang awan. Suasananya benar-benar indah, asyik, sejuk hangat. Agak kaget pas lihat di pantai, banyak cewek geletakan cuma berbikini dan yang cowok bertato dan telanjang dada. Sepanjang pantai. Di pinggir pantai juga ada taman yang rindang, disini saya melihat 2 keluarga muslim yang ditandai ibu berjilbab, sedang rekreasi menikmati semilir dan sejuknya angin pantai di bawah pohon, dengan meja penuh makanan dan softdrink. Jadi ngiler juga pas lapar begini. Glek. Banyak juga pesepeda yang lewat di trotoar. Ya, trotoar memang buat pejalan kaki dan pesepeda. Pantai yang ada Bathing Box nya sendiri masih harus jalan sekitar 800 meter ke Utara. Bathing Box sendiri cuma kotak kayu tempat berganti pakaian dan menyajikan snack. Meski kotak sederhana, tak murah memilikinya. Ada izin dan harganya bisa sampai 4 Milyar Rupiah untuk memilikinya.

Saya cuma satu jam di pantai. Melanjutkan perjalanan ke St Kilda dengan bus, yang haltenya dekat stasiun Brighton. Jalan kaki 500 meter dari pantai Brighton ke situ. Pemandangan dari Brighton ke St Kilda adalah perumahan klasik yang sedap dipandang, dengan pepohonan rindang. Mungkin kalau di Indonesia dibilang angker/berhantu. Wkkk. Masuk kawasan St Kilda suasananya begitu meriah, apalagi ini hari Minggu. Pedestarian yang diisi satu live music lagu-lagu elegan, sangat enak di dengar. Tidak ada tumpang tindih musik di sini. Orang orang juga asyik menikmati lagu sambil makan minum di kafe kawasan jalan Acland ini. Di sini saya beli 3 kartu pos cantik bergambar Melbourne seharga @ 1 AUD buat dikirim ke saudara dan keponakan. Saya menuju Luna Park, dimana depannya ada taman dimana banyak orang berjemur dan bercengkerama. Luna Park adalah taman bermain, semua orang bebas masuk, cuma bayar kalau naik wahana bermainnya. Ini adalah salah satu wahana permainan tertua di dunia. Rollercoaster nya juga masih terbuat dari kayu. Keceriaan terasa di sini. Warga setempat bercampur dengan turis. Setelah sejam menikmati St Kilda dan Luna park nya, saya lanjutkan balik ke Downtown Melbourne dengan tram selama setengah jam. Tram modern sangat mirip dengan tram di Istanbul. Menuju kota melalui Crown Casino dan berganti free tram di simpang Flinders Street.

Saya turun di perhentian dekat Queen Street dan check in di Europa hostel. Bayar pakai kartu kredit plus deposit 20 AUD yang akan diberikan kembali saat check out. Saya dapat kamar 301 yang ada di basement. Ada 8 ranjang bertingkat buat 16 orang. Penat sekali, tapi masih ada space buat gelar sajadah dan box loker buat simpan tas. Kebanyakan remaja putri Jerman usia 20 tahunan. Ada juga bapak usia 50 tahunan dari Jerman, ada cewek turis Jepang. Muda-muda. Lihat mereka berpakaian, ampun deh, cuma pakai tank top, hotpants. Untuk mencegah hal yang tak diinginkan arah tidur saya menghadap tembok dan loker. Kebetulan dapat ranjang dekat pintu masuk yang masih kosong. Pas tiba di kamar ada juga cewek Jerman yang baru mandi dengan hanya pakai handuk ke kamar. Tapi masih punya malu anak ini, mojok sembunyi, saya pun ke luar ruangan. Yah inilah resiko tinggal di hostel berbagi ruangan dengan orang lain. Apalagi campur cowok cewek. Penghuni hostel di Melbourne banyak yang pelajar, sehingga masih relatif punya malu. Agak berbeda di Sydney dimana penghuni nya kebanyakan bule pencari kerja, istilahnya working holiday visitor/visa (WHV).

Setelah tahu kamar, saya lanjut lagi jalan-jalan untuk mengeksplorasi kereta api Melbourne, dengan naik tram ke stasiun Flinders. Naik kereta ke Frankston, balik lagi ganti kereta ke Belgrave dimana bisa sambung kereta kuno Puffing Billy- 38 AUD. Balik lagi mau lihat Clayton dan Dandenong dimana Monash University berada. Ternyata kereta hanya sampai Caulfield karena ada perbaikan. Untung ada juga kampus Monash di sini. Foto sebentar, balik lagi ke Flinders station melewati Richmond station dimana penonton Australia Open  2017 dari pinggiran kota Melbourne turun di sini, sambung jalan kaki melalui jembatan. Mengenai suasana pinggir kota Melbourne sendiri cukup cantik, rumah bagus dengan pekarangan. Cuma sayang, banyak coretan grafiti di dinding pinggir jalur kereta api. Mungkin ini salah satu yang menyebabkan Melbourne mendapat predikat sebagai kota seni. Ongkos keliling kota ini tercover dengan maximum/cap fare 7.8 AUD/day. Jadi setelah terpotong 7.8 AUD/hari maka selanjutnya gratis keliling zona 1 dan zona 2.

Sebelum jalan keliling kota dari hostel tadi, di Swanston Street dekat stasiun Flinders saya mampir ke KFC, beli paket Zinger Box 10.75 AUD yang isinya 3 potong ayam kecil, kentang, burger ayam juicy porsi besar, kentang tumbuk dan minuman kaleng mountain dew. Ga tau halal apa ga, karena ini cuma ayam dan kentang, bismillahirrahmanirrahim. Walau terkesan mahal tapi bisa buat makan 2x. Saya cuma makan ayam dan kentang tumbuk serta minum. Kentang dan burger saya jejalkan ke Tupperware buat makan malam. Fungsional.

1-kfc-1075-aud

salah satu produk KFC Australia

Jam 8 sore (di sini Maghrib hampir jam 9 malam) saya balik ke hostel dan tidur, tapi mampir dulu ke Central Mall untuk beli bekal di supermarket Coles. Hostel masih sepi, sholat Maghrib jamak Isya. Kira-kira jam 11 malam, rombongan cewek Jerman datang heboh. Berisik banget, sampai saya bangun dan pura-pura tetap tidur. Baru setelah mereka tidur, saya bisa tidur. Resiko tinggal di hostel. :mrgreen:

Tempat menarik yang saya kunjungi hari ini : Tullamarine airport, Brighton Beach dengan Bathing Box nya, St Kilda dengan Luna park nya, keliling kota dan daerah sekitar Melbourne.

Biaya hari pertama :

– Jetstar 549 k Rupiah

– Roaming data 3 hari Telkomsel 275 k Rupiah

– Myki Explorer 15 AUD~150 k Rupiah

– Hostel 2 malam +deposit 79 AUD~800 k Rupiah

– loker 2 AUD ~21 k Rupiah

– KFC Zinger box 10.75 AUD ~108 k Rupiah

-Coles supermarket 11.65 AUD~120 k Rupiah

——————-+

Rp 2,023 jt

Tips Memilih dan Menginap di Hostel

Tag

, , , ,


Kunjungan ke Melbourne dan Sydney ini merupakan kunjungan pertama saya jalan sendiri menginap di hostel/sharing room. Biasanya bersama istri/keluarga dan tinggal di hotel/private room. Berdasarkan pengalaman tersebut, beberapa tips dari saya :

1. Pilih lah hostel yang mempunyai reputasi tinggi berdasarkan ulasan pengunjungnya. Semakin tinggi dan banyak yang mengulas berarti semakin baik. Ulasan berbahasa Indonesia/Malaysia biasanya  mewakili selera orang Indonesia/Malaysia.

2. Pilih lokasi di pusat kota atau dekat dengan transportasi umum. Hal ini memudahkan akses. Kecuali jika kita sewa kendaraan, tinggal di luar pusat kota juga tidak masalah. Pilih juga yang aman berdasar ulasan nomor 1.

3. Pilih yang bebas pembatalan sampai beberapa hari sebelum kedatangan. Karena kadang ada perubahan harga saat musim promosi. Pernah mengalami hal ini saat di hotel Istanbul, Goreme, Selcuk (Turki) dan hostel di Melbourne. Bahkan di Istanbul turunnya 30% (dari 525 ribu/malam, menjadi 375 ribu/malam). Saat memesan pertama di musim liburan, otomatis yang bulan berikutnya meski hari biasa kena efek harga musim libur. Pemesanan terakhir saat hari biasa. Pilih juga yang bisa bayar di tempat, utamanya apabila kita sudah punya bekal dalam mata uang transaksi (biasanya EUR/USD), untuk antisipasi fluktuasi nilai tukar.

Saat di hostel

1. Minta kwitansi pembayaran jika bayar di tempat dan cash. Karena pegawai hostel biasanya berganti-ganti (musiman).

2. Jaga sikap, ikuti aturan hostel, misalnya mematikan lampu saat lewat jam sekian. Tidak makan di ruang tidur. Termasuk dalam hal pergaulan, tidak usah ikut-ikutan gaya orang lain. Misalnya ikut-ikutan ke bar, mabok. Tidak keren kalau cuma ikut-ikutan macam begitu. Tidak punya identitas.

3.Selalu simpan tas dan barang berharga (paspor, gadget) di locker. Tiap tamu dapat fasilitas ini minus gembok. So, jangan lupa bawa cadangan gembok ya buat locker ya.

4. Untuk negara yang biaya makannya mahal seperti di Australia yang sekali makan warung rata-rata 15 AUD atau setengah dari biaya menginap di hostel, sebaiknya membeli bahan makanan di pasar/ supermarket setempat, lalu masak di dapur umum. Biasanya disediakan rak penyimpan bahan makan buat tamu hostel. Jangan lupa kasih identitas/nama di wadah kita.

5. Pilih yang ada sarapan. Meski cuma roti selai atau oat, lumayan bisa mengurangi biaya makan. Ada juga hostel yg mengadakan acara khusus yang tiap hari berganti, misalnya hari Senin gratis makan malam, Selasa tur gratis, Rabu nonton filmnya gratis dan seterusnya.

Pengalaman saya pertama menginap ala backpacker hari Minggu hingga Jumat kemarin, secara umum adalah sebagai berikut :

  • miliki toleransi, karena semakin banyak orang dalam satu ruangan, semakin banyak kemauan. Misalnya ada yang tak bisa tidur di ruang yang nyala terang atau masih ada cahaya menyala. Ada yang suka menaruh barang berantakan dan lain semacamnya.
  • latihan sabar, jika sebelumnya selalu menginap di hotel, ketika capek seharian jalan pulang bisa langsung rebahan/tidur, ini harus ditahan, karena di ruangan ada yang masih mengobrol. Karena kebanyakan yang menginap di sini adalah anak muda usia baru masuk 20 tahunan, maka muncul keisengan antar mereka, sehingga sangat berisik.
  • hati-hati dengan pergaulan, di toilet BIG hostel Sydney sampai ada stiker di tiap pintu kamar mandi, jika ada masalah penyakit seksual hubungi nomor xxxxx. Artinya penyakit kelamin sudah bukan hal yang aneh di hostel. Relasi dan cara berpakaian yang sangat bebas, memungkinkan hal itu bisa terjadi.

Ya, karena tinggal di hostel, saya jadi lebih bersyukur tinggal dan punya rumah sendiri. Dan pertama kalinya kepikiran rumah terus. Meski di tempat wisata senang, tetapi karena tidak bisa langsung istirahat setelah seharian jalan, maka terbayang empuknya kasur dan tenangnya kamar di rumah. Pertama kalinya dalam sejarah jalan-jalan saya ada pertanyaan dalam hati “Kapan balik ke rumah?”. Home sweet home.

Australia 2017 : Tiket Murah ke Australia

Tag

, ,


Selain masih ada visa Australia, ada hal lain yang mendorong saya pergi ke Melbourne dan Sydney, yaitu TIKET PESAWAT MURAH :

1. Jetstar, Bali-Melbourne (JQ-36) seharga 549 ribu Rupiah termasuk airport tax, lama perjalanan 5 jam 30 menit. Fasilitas gratis : tas tenteng 7 kg. Lainnya bayar : pilih kursi, makan minum, audio video, WIFI, charging baterai gadget.

2. Scoot, Sydney-Singapura (TZ-1), seharga 1,7 juta termasuk airport tax, lama perjalanan 8 jam. Yang membuat mahal airport tax Sydney airport yang hampir 800 ribu Rupiah. Saya lihat harga termurahnya 1,5 juta Rupiah, hari Selasa pagi, seminggu setelah saya beli tiket. Tiket promonya 2,1 juta Rupiah (AUD 199+charge bayar pakai kartu kredit AUD 10).

Fasilitas : tas tentengan 7 kg + laptop 3 kg. Jika diperkirakan akan membawa bagasi 30 kg, sebaiknya beli langsung pre book bagasi yang berharga AUD 44. Karena jika hanya membeli bagasi 20 kg yang harganya AUD 24, kelebihan bagasi 10 kg nya sangat mahal, AUD 25/kg, berarti tambah sekitar AUD 250, total AUD 294. Sedangkan bila beli bagasinya go show kena AUD 100 untuk 20 kg+kelebihan bagasi AUD 250, total AUD 350. Untuk pilih kursi biasa biayanya AUD 7. Selengkapnya di scoot_fees_chart_en.

Fasilitas lainnya bayar seperti Jetstar. Tambahan biaya antara kedua maskapai sebagai berikut :

add on  Jetstar AU Scoot SG
1 bagasi 20 kg          523,000          520,000
2 pilih kursi            90,000          120,000
3 makanan          249,554          170,000
4 hiburan            95,250          170,000
5 bantal selimut          149,732          180,000
     1,107,536      1,160,000

Di sini terlihat bahwa Jetstar lebih murah di pilihan kursi, hiburan, dan tambahan bantal selimut. Sedangkan Scoot lebih murah sedikit di bagasi dan makanan. kalau dijumlahkan Jetstar sedikit lebih murah.

Kedua maskapai ini menggunakan pesawat berbadan lebar terbaru seperti punya Qatar Airways, yaitu Boeing 787 Dreamliner, hanya saja ini low cost carrier, semua fasilitas (kecuali tas tenteng 7 kg) harus bayar.

Tiket Jetstar adalah sebab, tiket lain (Scoot dan Air Asia) & penginapan adalah akibat. Tiket Murah 500 ribuan menyebabkan pengeluaran lain, sehingga total pengeluaran menjadi 5 juta (10x lipat). Cukup sepadan dengan pengalaman yang saya rasakan selama seminggu perjalanan, Bandung-Denpasar(hari ke 1)-Melbourne-Sidney(hari ke 2-7)-Singapura-Jakarta-Bandung (hari ke 7). Untungnya tak perlu urus visa, karena sudah punya visa yang saya urus tahun 2014 saat mau ke Perth, dan berlaku 3 tahun, sampai 2017. Meski ganti paspor, cukup update nomor paspor via email ke ke kedutaan besar Australia di Jakarta (gratis). Update visa dengan nomor paspor baru ini jadi bekal berangkat ke Australia.