Tag

, , , , , , , , , , , , , ,

Perjalanan ke sekian kali ke Singapura kali ini, selain mengajak istri juga mengajak adik yang baru lulus kuliah. Seperti biasa, Singapura atau Malaysia menjadi tujuan pertama bagi yang pertama kali ke luar negeri bagi pelancong Indonesia.
Kami berangkat hari Ahad, 16 Agustus 2015 dari Bandung ke Singapura menggunakan pesawat Air Asia QZ365 yang lepas landas jam 7.20 pagi. Pagi kemarin cukup banyak penumpang, ada serombongan mahasiswa yang bawa angklung yang akan pertunjukan di ulang tahun ke 70 kemerdekaan Republik Indonesia di Singapura. Ada juga keluarga yang hendak berlibur ke destinasi mainstream seperti Universal Studio. Asisten rumah tangga pun ada, tampaknya agak pelik karena petugas imigrasi bolak balik mendatangi dan mengecek dokumen kerja TKW. Perjalanan lancar, sedikit goncangan ketika mendekati Singapura. Makan minum sudah kami pesan online sehingga mendapat diskon 20% menjadi 40 ribu/porsi. Menu nasi lemak, ayam panggang dan nasi panggang plus air minum 40 ml.1 nasi lemak 1 nasi padang 1 roast chicken
Tampilan Air Asia pagi itu cukup bersih dan baru, iklan Luwak White coffee menempel di kotak kabin di atas kursi. Majalah ada 2, versi Air Asia dan versi Air Asia Indonesia.
Satu buku lagi berisi daftar harga makanan minuman, snack dan souvenir. Beberapa barang terasa murah dan beberapa barang lebih mahal dari pasaran. Contoh yang murah adalah kunci TSA dengan logo Air Asia dihargai 60 ribu. Padahal kunci sejenis itu harganya 100 ribu (1000 Yen) waktu beli di toko buku di Jepang.
Semua pesawat Air Asia mendarat di terminal 1 Changi. Begitu sampai langsung di screening, random check semua, termasuk barang bawaan, jangan takut kalau tidak macam2. Sebelumnya masuk Singapura melalui terminal 2 dan 3 tidak ada pemeriksaan. Terminal 1 ini terasa sederhana, namun ya lumayan kalau di bandingkan bandara Bandung. Dekat toilet ada dispenser air panas, dingin dan hangat, agak beda, karena di toilet lain cuma ada water tap model air mancur.
Setiba di Changi jam 10 pagi kami tak langsung keluar, melainkan keliling berwisata dalam terminal. Dari terminal 1 kami melangkah ke terminal 2, lewat koridor antar ruang tunggu. Di terminal 2 ini ada taman ajaib, tak heran banyak orang berfoto di sini, kemudian ada tempat bermain anak yang bersebelahan dengan hutan bambu, di sini bisa charging handphone atau laptop. Ramai orang duduk di sini. Di sebelahnya ada taman anggrek. Dengan eskalator kami menuju ke taman bunga matahari dan dek hiburan. Taman bunga ini ada di luar gedung, sehingga panas dan lembab, namun sangat cantik hasil foto-foto di sini. Yang riang tentu perempuan. Ada perempuan bule, China, Arab dan Melayu tampak asyik ambil gambar di sini. Saya tak minat, lebih minat nonton film box office di dek hiburan yang hampir selesai memutar film Minion terbaru yang kemudian dilanjutkan film Interstelar. Ruangan seukuran ruang rapat kecil ini mampu menampung sekitar 20 orang, serupa studio XXI tapi tak sempurna.
Usai itu kami lanjut ke terminal 3, menggunakan skytrain, yang persis di sampingnya ada pameran porselin China.1 sunflower garden 1 taman fantasi 1 taman kupu2 metamorfosis

?????????????

1 colokan listrik
Buku panduan yang diterbitkan Changi airport sangat membantu eksplorasi kami dan tersedia gratis di beberapa titik kalau kita jeli mengamati. Kalau tidak, kita bisa kunjungi website changiairport.com/guides atau download aplikasi iChangi di applestore,android,blackberry maupun microsoft.
Di terminal 3 yang paling megah banyak tempat tempat belanja mewah du sini. Layaknya mall di Orchard. Di ujung terminal ada tempat menarik yang kita kunjungi yaitu taman kupu2. Tempatnya semi outdoor, hangat dan lembab. Ada juga tempat yang menyajikan secara live proses metamorfosis ulat menjadi kupu2. Lucunya kupu2 dengan cueknya hinggap di lengan, baju atau kepala, seolah mengajak kita bergembira. Makannya adalah buah nanas yang dibelah horisontal dan bunga.1 terminal 3
Puas di taman kupu2 kami lanjut ke sebelahnya yaitu kolam koi yang ikan koinya sangat besar. Tempatnya sangat santai, aroma kopi yang harum tercium di sini. Di sini pula ada banyak colokan listrik baik bentuk colokan USB maupun kaki 3. Ketika sudah jam 2 (waktu Dhuhur di Singapura), kami beranjak ke terminal 1 untuk sholat. Lalu foto di pohon sosial yang kebetulan ada permainan adu ketangkasan pula. Puas di terminal 1 kami keluar menuju imigrasi sudah jam 3 sore. Artinya kami 5 jam di dalam area transit bandara Changi. Beda dengan kebanyakan penumpang Air Asia yg berangkat bersama dari Bandung yang langsung ke luar bandara menuju kota Singapura, kami nikmati dulu bandara yang sejuk dan no 1 (terbaik) di dunia ini. Lebih nyaman di sini daripada berkeringat dan berpanas di stasiun MRT, antri di USS maupun di Merlion. Dan selama kami nikmati hiburan di Changi ini, tak tampak satupun orang Melayu kecuali kami, kebanyakan bule/western, berikutnya orang Jepang dan Timur Tengah.
Akhirnya jam 3 sore setelah keluar imigrasi kami menuju stasiun MRT di terminal 3 melalui eskalator yang di atasnya ada kreasi hujan kinetis yang memukau. Dari terminal 1 bisa pakai skytrain. Untuk tiket ke Raffles city yaitu stasiun terdekat ke Merlion tarifnya SGD 2.4. Bisa dibeli di mesin tiket.
Setiba di Raffless City, kami mampir ke 7-11 beli nasi rendang dan nasi briyani seharga masing2 SGD 3.9. Oh ya, makanan siap saji 7-11 di Singapura banyak yang bersertifikat halal MUI Singapura. Setelah bayar, kami panaskan dulu di microwave sesuai petunjuk di kemasan. Dan ternyata enak, tak kalah dari restoran. Kuah kental briyani sedap rasanya, sayang nasi padang nya tidak diberi kuah gulai. Worth it lah. Kami makan sambil ngemper di depan 7-11 yg tidak menyediakan tempat makan di dalam layaknya saudaranya di Indonesia. Ketika selesai makan datanglah nenek2 berseragam petugas MRT bilang, ” dont eat and drink in station”, padahal dari tadi nenek itu lihat kami makan, mungkin kasihan, sehingga nunggu kami sampai selesai makan. Keder juga, kalau ingat besarnya ancaman denda makan minum di MRT, dan baru tahu pula kalau di stasiun juga dilarang.
Kami keluar menuju gedung perkantoran yang depannya ada lapangan dan taman. Di sini banyak turis Indonesia sedang makan di meja kursi yang telah disediakan. Oh, ternyata di sini to tempat buka bekal yang diizinkan.
Ada serombongan berpakaian wisudawati Pinoy ketawa meriah di sini, namun agak janggal karena yang diwisuda dandanannya menor, gincu tebal, kaki kekar, kulit coklat terbakar seperti habis tanning, jadinya kayak wisudawati jadi2an. Lalu kami menuju ke Cavenagh Bridge, yang membelah sungai Singapura. Tampak bangunan kuno di Clarke Quay dan perahu amphibi Ducktour maupun perahu wisata. Ada patung kereta air dan patung orang Melayu, China dan British sedang berbincang santai. Dari sini kami melalui halaman hotel Fullerton, menyeberang ke arah Merlion bersama turis lainnya.
Tibalah kami di area Merlion yang tampak dipenuhi turis Asia. Lagi2 kami ketemu dengan wisudawati norak tadi. Saya duduk sambil melihat tingkah orang bersama patung Merlion.1 esplanade

?????????????

?????????????

?????????????

?????????????

?????????????
Dari Merlion kami ke arah Esplanade, lalu ke jembatan Helix, Marina Bay Sand lalu menuju ke Garden by The Bay. Akses ke sana melalui Dragonfly Bridge, Malay Garden lalu ke Supertree Grove. Dari jembatan, kami lihat wisudawati norak sedang foto2 di lapangan bersemak antara Marina Bay Sand dengan Garden by The Bay. Tak ngerti lewat mana mereka bisa masuk ke daerah yang tak lazim. Jam 6.30 sore kami menuju ke stasiun Bayfront. Wah, stasiun ini langsung terhubung ke Marina Bay Sand dan Garden by The Bay. Tak perlu capek2 jalan kaki. Stasiun ini terhubung ke stasiun Bugis melalui circle line. Tarif cukup murah yaitu 1.6 SGD. Dari stasiun Bugis kami keluar melalui akses ke Raffles Hospital, lalu menyeberang ke arah Queenstreet Bus Terminal ke arah counter bus Causeway Link warna kuning. Ketika tiba, sudah hampir jam 7, kami bayar 3.3 SGD/orang dan kami jadi penumpang terakhir. Begitu kami duduk (kebagian kursi menghadap penumpang lain), bus berangkat.
Saya sempat nyalakan aplikasi My Track, sinyalnya bagus sekali dan detil. Dari downtown, melalui Little India, Novena, Bukit Timah dan tibalah kami di imigrasi Singapura. Tak sampai 30 menit melalui jalan yang mulus dan sebagian hutan yang lebat. Tampak teratur negeri ini. Sambil lihat di peta ternyata dekat sekali pulau Batam, Bintan, Rupat dan ratusan pulau milik Indonesia. Dekat tapi mungkin jauh progress pembangunannya. Di gedung imigrasi kami turun bus. Petugas cukup teliti, sehingga agak lama prosesnya. Selesai imigrasi Singapura, kami naik lagi ke bus Causeway yg ada di bawah. Bus nya beda dgn yg tadi, namun karena satu perusahaan kami bebas menumpang. Ada pemeriksaan tiket oleh petugas. Sepuluh menit menyeberang tibalah kami ke imigresyen Malaysia, kebetulan petugasnya cukup teliti dan banyak bertanya. Namun baik, bertanya bukan karena iseng tapi karena menunjukkan hospitality Malaysia, contoh “naik train ke KL jam berapa? jam 10.30 malam, oh cukup itu buat makan malam di JB Sentral” batin saya, ya iyalah pak cik, sekarang baru jam 8.30, masih ada 2 jam lagi. Kami juga sudah sangat lapar karena seharian jalan.
JB Sentral terhubung jembatan dengan imigresyen.
Kesimpulan :
– Ada pemeriksaan barang dan penumpang yg masuk Changi begitu masuk di terminal 1.
– Ada dispenser air minum (bukan water fountain) dekat kamar kecil/tandas
– Tema bulan Agustus 2015 di Changi adalah SG50, peringatan kemerdekaan Singapura yang ke 50. Di kota juga terlihat semarak
– Penukaran uang di money changer Changi kurs nya lebih bagus daripada tarik tunai kartu ATM Mandiri di mesin UOB. Ini tidak pasti, kadang ambil di ATM lebih murah. Kebetulan saja.
– Tempat berkunjung populer adalah seputar Merlion, dan Garden by The Bay. Banyak orang Indonesia, mungkin 1/3 sampai 1/2 nya. Panas dan berkeringat itu sudah pasti, namun kalah dengan kegembiraan berfoto.
– Jarang orang Indonesia yang menikmati fasilitas Changi, padahal boleh dinikmati gratis, justru banyak dinikmati orang bule, Arab dan Asia Timur.