Ya, Jakarta adalah pusat segalanya. Untuk urusan bisnis di situ pusatnya. Pagi tadi kami berangkat jam 4 pagi dari stasiun Bandung menuju stasiun Gambir menggunakan kereta Argo Parahyangan. Kereta ini adalah tambahan, karena tidak diadakan selain hari Senin pagi. Meski berangkat sebelum subuh, saya lihat loading factornya 100%. Tarif yang dikenakan pun tarif termahal. Misal di eksekutif tarifnya 120 ribu, bisnis 90 ribu. Dan petugas parkir kendaraan, porter, petugas KAI sudah siap sedia di posisi masing2.
Kereta berangkat jam 4 tepat, berhenti sebentar untuk angkut penumpang di Cimahi. Di sana berpapasan dengan kereta Harina dari Semarang. Lalu ada pemeriksaan tiket. Selepas itu semua penumpang terlihat melanjutkan tidurnya. Sampai subuh, dan tiba jam 6 kereta sudah sampai di Cikampek. Berhenti lagi di Bekasi dan Jatinegara. Kereta ternyata telat 22 menit. Harusnya tiba di Gambir jam 6.53 pagi ternyata tiba jam 7.15 pagi.
Setiba di Gambir kami turun, belok kiri ke antrian taksi Blue Bird, cepat, cuma menunggu 5 menit, karena sepagi ini belum banyak pekerja yang pesan taksi berangkat kerja. Pagi ini kami disupiri mas2 yang ceria dan bersemangat. Ada banyak majalah Blue Bird dan majalah gratis di saku belakang kursi supir. Lumayan banyak informasi yang kugali, tentang corporate social responsibilities, tips kehidupan dll. Lima belas menit kemudian sampailah kami di Pasar Tanah Abang. Argo menunjukkan 24xxx plus parkir 5 ribu, saya bulatkan 30 ribu.
Nah ini beberapa hal yang kami kunjungi hari ini.
1. Pasar Tanah Abang
Ketika kami tiba jam 8 pagi, sebagian toko baru buka, sebagian sudah beres2, karena sudah terjual semua dagangannya. Kami keliling dan belanja sampai jam 12.15. Menyenangkan karena 90 persen terima kartu debit Mandiri dan BCA sehingga kami tak perlu resiko bawa uang belanja. Dan bisa titip ke toko untuk dikirim ke alamat yang kita mau via logistik yang kita kehendaki.
2. Museum Fatahillah
Kami naik bus Transjakarta jurusan kota. Pada saat bersamaan ada acara pembuatan film oleh kaum muda Asia Tenggara dalam rangka ulang tahun ASEAN. Mengambil gambar di halte Sarinah. Kebetulan saya bawa kartu flazz BCA tinggal tempel, gate bisa kami lewati. Satu kartu bisa dipakai ramai2 yang penting ada isi uang yang cukup di kartu tersebut. Ongkos jauh dekat 3500/orang dibayar di gate. Karena belum pengalaman kami langsung saja naik begitu ada bus feeder dari Ciputat warna biru, sementara calon penumpang lain enggan naik. Ternyata kalau pakai bis ini bayar lagi 5000/orang. Hiks.
Setengah jam kemudian kami sampai di halte kota, melalui jalur yang sudah ditentukan yaitu underpass kuno yang terhubung dengan museum bank Mandiri dan stasiun kota. Baru pertama kami lewat sini, karena biasanya kami menyeberang jalan saja. Di bawah ada para penjual roti, suvenir dan bekas booth hoka hoka bento. Ciri khas Indonesia, semrawut. Orang gelar lapak sembarangan dan banyak pengamen dan pengemis. Rasanya belum ada perbaikan pemandangan di sini. Apalagi saat sampai museum Fatahillah, bermacam usaha orang untuk mendapatkan rupiah. Mulai melumuri pakaian dan badannya dengan cat seperti warna patung, pakai baju boneka ipin upin, sampai yang tanpa susah payah minta uang. Ya, inilah realita Indonesia, pemerintah membiarkan rakyatnya seperti itu, dan rakyatnya juga masih banyak yang kekurangan. Pas di stasiun Bekasi sempat lihat orang bangun tidur di bekas bongkaran pinggir rel beralas karton dan berselimut koran. InsyaAllah minggu depan coba saya lihat Malaka sebagai sister city Jakarta kota (sama2 banyak peninggalan Belanda) apakah begitu keadaannya?. Oh ya, Senin semua museum tutup ya. Di kota ada museum Fatahillah, Wayang, Bank Indonesia dan Bank Mandiri. Di belakang museum Bank Mandiri ada pasar Asemka yang menjual mainan anak2 impor dengan harga termurah di Jakarta.
3.Monumen Nasional alias Tugu Monas
Kami tak bisa masuk karena tiap hari Senin pintu akses ditutup. Tanpa terkecuali.
4. Keliling kota naik bis wisata gratis
Ya, Jakarta punya bus tingkat gratis yang bisa digunakan untuk mengakses berbagai landmark kota ini.Setelah dari kota kami turun di halte Transjakarta di Monas. Lalu menyeberang ke halte depan museum nasional yang sedang tutup. Di sini ada rambu perhentian bus city tour. Mirip lah dengan bus CAT Penang, CAT Perth maupun GoKL. Sama sama gratis cuma bedanya ini bus bertingkat dan masih baru. Petugas ramah dan informatif. Kami keliling melewati museum nasional, daerah pasar baru, katedral, dan masjid istiqlal, ketika sampai Monas kami turun.
5. Masjid Istiqlal
Setelah tahu monas tutup, kami jalan ke masjid Istiqlal, melalui istana negara. kami tak menemukan jalur penyeberangan sama sekali, bahkan trotoar pun ada yang dimakan halte transjakarta masjid istiqlal, untung masih disisakan sedikit. Pintu belakang dan samping tutup, sehingga kami harus memutar sekitar 1 km. Oh ya, kawasan sekitar monas dan istana steril dari pedagang kaki lima, tapi begitu mendekati masjid Istiqlal, muncul kembali para pedagang kaki lima ini, bahkan separuh turn U sebelah timur monas diisi pedagang bakso dll, tidak permanen sih, tapi dimana2 ada PKL.
Kembali ke masjid, ini pertama kali kami ke masjid Istiqlal, sangat luas dan besar. Penitipan sandal/sepatu/tas antara jamaah laki dan perempuan dipisah. Tempat wudhu bersih dan elegan. Masuk ke dalam masjid, masyaAllah sungguh indah dan megah. Renovasi interior dari bangunan asli tampaknya sangat berhasil mengubah kesan polos saat pertama diresmikan (lihat foto sejarah) menjadi bernuansa Islami. Alhamdulillah. Sore tadi ada tamu dari gereja katolik Vatikan beserta rombongannya termasuk biarawan dan biarawati yang diantar langsung oleh mufti Indonesia sekaligus imam masjid Istiqlal beserta timnya.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul 5.15 sore kami keluar dari masjid dan cari minuman dan makanan di parkir sebelah masjid. Lalu jalan menuju stasiun Gambir untuk balik ke Bandung. Berhubung kereta baru berangkat jam 8 malam, kami mampir dan minum di 7-11 stasiun sebelah utara, dan jam 7 kami ke stasiun selatan untuk sholat sekaligus masuk ruang tunggu keberangkatan.
Beberapa poin kesan saya hari ini :
1. Masih ada kelambatan kereta, meski secara performa staff dan kelengkapannya sudah jauh lebih baik dari beberapa waktu lalu.
2. Di Jakarta masih banyak ketimpangan antara yang sangat kaya dan sangat miskin, dimana2 ketemu PKL, pengemis dan pengamen, kecuali di dalam pasar tanah abang dan di depan istana negara. Semrawut terlihat di sekitar halte kota.
3. Bus wisata gratis sangat menarik untuk dinikmati.
4. Masjid Istiqlal serasa seperti oase di tengah hiruk pikuk Jakarta
5. Semakin maju dan nyaman moda transportasi, namun kemiskinan masih tampak di sana sini.