Tag

, ,

Ini ketiga kalinya kami  mengunjungi Singapura. Kali ini kami ingin mengunjungi 3 tempat yang belum pernah kami kunjungi sebelumnya yaitu Singapore Botanic Garden dan Orchid Garden, IKEA Tampines, dan Mustafa Center.

Perjalanan kami mulai dari Banjarmasin dengan pesawat Garuda pukul 6.25 WITA menuju Jakarta. backpackPerjalanan cukup lancar dengan fasilitas yang lengkap. Ada sarapan nasi opor ayam, buah dan minuman, ada hiburan audio video di tiap kursi, majalah dan koran gratis. Pukul 7.10 WIB kami tiba di Jakarta. garuda mealKarena tanpa bagasi, kami langsung keluar, menuju lift untuk naik ke lantai 2 dimana di terminal 2D pesawat kami selanjutnya-Tiger Airways menunggu. Check in untuk penerbangan pukul 9.50 WIB sudah dibuka. Tak menunggu lama, kami langsung check in lanjut ke imigrasi. Tidak banyak antrian pagi ini. Setelah itu kami menuju mushola di ujung ruang tunggu terminal 2D, berdekatan dengan Premier, Esplanade, dan Puri Indah Executive Lounge> Mushola ini sepi dan tenang. Lumayan nyaman untuk menunggu panggilan masuk pesawat. Di sebelahnya ada ruang deportasi.

Pukul 09.20 WIB Ada panggilan untuk menuju ruang tunggu. Pesawat telat 30 menit hari ini dan pukul 10.20 WIB baru terbang dari Jakarta. Tiger Airways ini sister company Mandala Airlines, seragam dan gambar logo nya sama, hanya beda tulisan di badan pesawat. Makanan, minuman dan souvenir dijual di sini. Majalah gratis bisa dibawa pulang. Kadangkala ada makanan ringan gratis dibagikan (kadang kacang atom, wafer), tapi kali ini tidak. Untuk makanan dan minuman dijual dengan harga 2x lipat harga di Mandala Airlines. Tidak aneh, karena harga makanan di Singapura 2-3x lebih mahal dari Jakarta, kecuali kopi Starbuck yang ternyata lebih murah di Singapura.

Pukul 12.55 waktu Singapura (sama dengan WITA) kami mendarat di Bandara Changi. Ada kejadian berbahaya di sini, kala ada nenek-nenek terjatuh di ujung travelator, maka yang dibelakangnya pun jatuh bertumpukan, ada yang lecet tertabrak troli. Untung petugas sempat mematikan mesin, meski agak telat. Kami mampir dulu ke toilet, cuma sayangnya tidak tersedia tombol air pembilas bekas urin. Untuk membilasnya terpaksa geser badan, maka sensor toilet menandai sudah tidak ada orang, maka air mengalir. Terkadang teknologi malah merepotkan dan membahayakan. Dekat toilet ada dispenser air minum dan orang antri mengisi botol minumannya. Gratis. Selanjutnya kami menuju imigrasi dengan membawa kartu imigrasi yang sudah kami isi di pesawat (dibagikan pramugari Tiger Airways). Ini mempercepat imigrasi, walau di bandara juga di sediakan kartu imigrasi.

Setelah selesai di imigrasi kami lanjut ke money changer, menukar sisa uang umrah Maret lalu sebesar 547 Riyal. Di website xe.com seharusnya dapat 183 Dollar Singapura (S$). Tapi di OCBC hanya dapat S$173 (94.5%). No choice. Untuk menuju pusat kota dan keliling Singapura paling mudah menggunakan kereta MRT. Kali ini kami pilih menggunakan Singapore Tourist Pass (STP) yang memberi kebebasan kami menggunakan kereta MRT dan bus SMRT tanpa batas. Lebih hemat jika kita suka berkeliling mengeksplorasi negara kota Singapura.

Kami tiba di stasiun MRT Bugis sejam kemudian, lanjut makan siang di Bugis Junction tepatnya di Punggol Nasi Padang-halal, memesan nasi lemak dan ayam bakar. punggol nasi padangPelayanan kurang ramah dan harga relatif mahal menjadi ciri khas makan di Singapura. Kami makan dekat stock bahan makanan, agak maklum saja ternyata beras impor product of Thailand, kecap ABC product of Indonesia, minyak dan margarin product of Malaysia. Impor semua. Minum kami bawa dari air yang kami isi di bandara tadi. Setelah makan kenyang, kami lanjut menuju Hotel Ibis Bencoolen. Banyak ibu-ibu sosialita Indonesia yang menunggu giliran dapat kamar. Harga kamar pemesanan langsung hari itu S$ 245 (Rp 1960ribu). Terlalu mahal untuk ukuran rata-rata manusia di dunia. Di Jakarta atau Bangkok harga yang wajar sekitar Rp 550 ribu termasuk makan pagi. Berhubung complimentary dari keanggotaan Accor, kami tak perlu bayar di sini.

Kami masuki kamar yang kecil (11 m2) namun bersih, wangi dan rapi ini.  ibis bencoolenAneka pilihan colokan listrik mulai bentuk USB, 2 lobang dan 3 lobang tersedia di sini. Internet juga sangat cepat seperti di Jakarta. Saluran TV kabel sangat sedikit tak sampai 20 channel dan tak seheboh di TV Indonesia. Ada teh kopi dan gula beserta pemanas air, ada kulkas, ada safety deposit box (walau ternyata tidak berfungsi karena tidak ada baterainya). Kamar mandi pakai shower yang deras. Ruangan kedap suara sehingga sangat nyaman untuk tidur. Setelah sholat, kami puaskan menikmati semua fitur yang ada. Sampai akhirnya kami bosan dan setelah Maghrib kami lanjutkan perjalanan ke IKEA Tampines.ibis room

Dari hotel kami lewati Bugis Street yang sangat ramai, lalu menuju MRT Bugis yang berada di dalam Bugis Junction. Kami naik kereta MRT East West menuju stasiun MRT Tampines. Stasiun ini ternyata menyatu dengan Tampines Mall. Karena bukan tujuan, kami langsung keluar menyusuri sebelah kanan menuju tempat parkir bus gratis menuju IKEA Tampines. Tempat parkir ini berada persis di depan kios Western Union (warna kuning). Menunggu bus ini makan waktu sekitar 30 menit meski di website IKEA dikatakan tiap 10 menit ada bus. Akhirnya pukul 20.30 kami berangkat ke IKEA.Ternyata tak hanya IKEA, di kawasan itu ada GIANT-hypermarket, COURT-toko elektronik, masing-masing gedung seukuran lapangan bola. Naik bus gratis ini bisa mengakses ke tiga tempat ini.

Pertama yang kami datangi adalah foodcourt IKEA yang menjual aneka makanan khas Swedia dan lokal. Kami penasaran dengan bakso Swedia yang kabarnya enak. Kami (istri berjilbab) langsung masuk antrian jalur 1, sampai akhirnya sadar dipandangi orang-orang. Ternyata kami salah masuk antrian, di jalur 1&2 menjual makanan non halal, bakso nya campuran daging sapi dan babi. yaks. Sambil mengingat yang pernah saya baca di website IKEA  di jalur 3 yang menjual makanan halal. Alhamdulillah. Bakso sapi 10 biji ditambah kuah susu dan selai cranberry dihargai S$5,5. Teh dilmah atau kopi dijual S$0,5 yang bisa di refill sesuka hati. Saya suka baksonya, enak kenyal. Enak juga selai berry dimakan sama bakso. Selesai makan, piring sendok dan garpu dikumpulkan di satu tempat. Kalau begini yang halal kecampur dengan yang non halal dong. Bismillah saja wis.ikea meatball

Mengenai IKEA Tampines, seperti toko besar yang menjual gabungan produk Lion Star (plastik dan pecah belah) dan Olympic (perabotan murah), dengan merk tunggal IKEA. Bisa dibilang murah sekali, karena contohnya wadah plastik kedap udara yang bisa dipanaskan di microwave 120 derajat Celcius, 17 biji hanya di jual S$4,9 (Rp 40ribu). Di online shop Indonesia di jual Rp 150-200 ribu (maklum ongkos kirim dan proses bawanya agak berat dan ribet-kalau beli banyak bisa kena pajak import). Selain memajang barang, ada juga model rumah aneka tipe yang sudah diisi perabotan dan produk IKEA. Inspiratif sekali.ikea room modelikea model

Puas dari IKEA Tampines, kami menuju ke tempat tunggu bus gratis, sambil menunggu kami mendengar lagu populer Swedia yang keluar dari speaker di atas tempat duduk. Dan melihat betapa uletnya orang Singapura berwirausaha. Dengan mobil pick up mereka beli perabot plastik untuk warungnya sambil bawa 3 anak yang masih balita. Begitu bus tiba kami langsung naik, kali ini mengantar kami ke stasiun MRT Bedok. Dari sini kami turun di MRT Bugis. Bugis Junction sudah tutup, Bugis Street sudah sepi, maklum sudah pukul 23.30. Tapi aman kok, gak ada preman. Mampir dulu di minimarket 7-11 yang ada di samping Hotel Ibis Bencoleen untuk beli Nasi Rendang spesial dan minuman ringan. Sebelum tidur kami makan seporsi berdua, maklum bakso tadi kurang mengenyangkan. Enak dan pas porsinya.

Pengeluaran hari pertama (x1000)

– Garuda Banjarmasin Jakarta  600×2 = Rp 1200

– Tiger Jakarta Singapura 375×2 = Rp 750

– Airport tax Jakarta 150×2 = Rp 300

– Singapore Tourist Pass 2 hari $26×2 = $ 52 = Rp 416

– Makan Siang $12 = Rp 96

– Hotel Ibis Bencoolen Rp 0

– MRT Bugis – Tampines, Bedok-Bugis, Bus Rp 0

– Bakso Swedia dan Teh S$ 6×2 = S$ 12 = Rp 96

– Nasi rendang dan teh botol S$ 5,4 = Rp 43

Pengeluaran hari pertama = Rp 2901ribu

Hari Kedua, Ahad 9 Juni 2013

Pagi ini mendung dan hujan. Subuh di Singapura baru pukul 06.00. Biasanya setelah sholat, kami jalan pagi, namun karena hujan membuat kami malas keluar hotel. Lebih baik menunggu terang sambil lihat lokasi yang akan kami kunjungi hari ini-Botanic Garden di Youtube. Streaming nyaris tanpa buffering. Ada juga 1 channel TV yang terus menerus menyiarkan promosi tempat wisata di sana. Sampai akhirnya pukul 09.30 hujan terang dan kami turun ke lantai 1 menuju 7-11 untuk sarapan hemat dan halal. Kami pilih menu nasi briyani dan chicken rice, minuman teh botol. Hotel menyediakan sarapan all you can eat seharga S$ 18 namun campur baur antara makanan halal dan non halal. Sambil makan, kami melihat penjaga toko yang sarapan mi instan sambil mencoba menerka, berapa gaji penjaga toko di sini ya, untuk sarapan mi instan + teh botol saja $4 (Rp 36 ribu)?briyani and chicken rice

Selesai makan kami lanjut jalan melalui Bugis Street yang mulai buka toko, terus ke Bugis Junction yang masih tutup, lalu melalui Beach, Midle (ada Singapore Library), dan kembali ke Bugis Junction. Toko BHG sudah buka, ada sale. Meski sale harga kaos tidak ada yang kurang dari S$10. Karena tidak ada yang menarik, kami balik ke hotel melalui Bugis Street yang sudah meriah. Beli tas untuk istri dan adik. Pukul 11.00 kami sudah tiba kembali di hotel untuk packing sebelum check out.muka perpustakaan nasional Singapurasudut Singapura

Pukul 12 tepat kami check out dan langsung menuju ke stasiun MRT Bugis. Dari sini kami menuju stasiun MRT Aljunied, melalui 2 stasiun. Dari stasiun kami menuju Geylang lorong 20 dimana Hotel Fragrance Ruby berada. Kami sempat kaget melihat wanita berpakaian sangat minim berjajar di sepanjang jalan. Ternyata mereka adalah PSK yang sedang mangkal meski hari sedang terik begini. Pantas saja dari berbagai informasi wisata disarankan tidak membawa anak-anak kalau menginap di sini. Konon dulu bandara dan pelabuhan ada dekat sini sebelum dipindah ke Changi dan Jurong.

Alhamdulillah begitu masuk ke lobby hotel ada sekelompok turis keluarga melayu Malaysia sedang menunggu kamar. Paling tidak lebih tenang, karena ada orang setipe di sini. Karena belum waktunya check in (check in pukul 15.00) kami menitipkan tas saja dulu. Untuk makan siang kami menuju ke warung makan halal yang ada di ujung jalan yang pelayannya TKW berkerudung. Ketahuan TKW karena logat Jawanya medok banget. Selesai makan, lanjut ke MRT Aljunied menuju MRT Paya Lebar untuk ganti jalur kereta, selanjutnya ke MRT Botanic Square.botanic garden

Cuaca siang ini berawan dan selesai hujan sehingga sangat nyaman buat jalan-jalan di Singapore Botanic Garden. Rindangnya pohon, beningnya kolam dan hijaunya padang rumput sangat nyaman untuk dilihat dan dirasakan. TKI dan TKW beradu heboh dengan tenaga kerja dari Filipina. Selanjutnya ke Orchid Garden yang sangat indah, aneka anggrek di tanam di sini. Berbagai tokoh dunia yang pernah berkunjung di sini diabadikan menjadi nama anggrek hasil persilangan di sini. Sejam tak cukup, setengah hari mungkin waktu yang tepat dialokasikan di sini. Lebat, besar dan rapi membuat suhu udara sejuk meski Singapura ada di daratan rendah dan tropis. VIP orchirdseperti di bandunganggerekRecommended. Setelah kaki pegal-pegal maklum jalan jauh dan naik turun akhirnya kami balik ke hotel untuk check in pada pukul 16.00.anggrek

Mengejutkan, kamar kami diupgrade ke executive room dari sebelumnya di superior, karena ada masalah di drainase toilet. Begitu masuk ke kamar, kami lihat kamar dengan penampakan tak jauh beda dengan Hotel Ibis Bencoolen namun dengan tarif seperempatnya. Fasilitas sama dengan channel TV lebih banyak. Sama dengan kemarin, kami nikmati fasilitas hotel sampai maghrib pukul 19.15.frag ruby

Usai jama sholat Magrib dan Isya, kami menuju MRT Aljunied, berganti kereta ke MRT Paya Lebar, berganti lagi ke MRT Serangoon. Dari sini kami lanjut menuju MRT Farrer Park dengan tujuan Mustafa Centre. Keluar dari stasiun, kami susuri Serangoon Road dan tampak ribuan laki-laki India mengalir ke semua arah. Antrian mengular di depan Western Union, menandakan inilah tempat berkumpul kuli kasar India di akhir pekan. Menakutkan buat perempuan, dan membuat takjub saya melihat lautan manusia menutupi jalan. Pantas saja jika biasanya MRT isinya kebanyakan orang Cina tapi di jalur ini isinya mayoritas orang India.

Untuk mengamankan diri dari lautan manusia, kami masuk ke ABM restaurant yang menjual makanan minuman India halal. Posisinya persis di samping Mustafa Centre. Dari pintu masuk juga terlihat Anguilla Mosque (Masjid Anguilla). Makanan disini porsinya super besar. Ayam 1/4 dengan nasi briyani beserta sayur okra. Enak dan sangat mengenyangkan. Setelah kenyang kami menuju Mustafa Centre. Hypermart yang sangat besar, 4 lantai, menjual aneka produk, untuk makanan minumannya dari seluruh penjuru dunia. Takjub kami dibuatnya. Harganya lebih murah dari minimarket manapun di Singapura. Satu jam lebih kami mengaduk-aduk isi toko dan membeli beberapa produk importnya seperti susu kambing Inggris, coklat Spanyol, pisang Filipina. Seperti keliling dunia meski kami belum pernah ke sana. Produk Indonesia juga banyak seperti Indomie, mie gelas, Energen dll. Puas keliling dan belanja, kami balik ke MRT Farrer Park, ganti kereta di stasiun MRT Brass Basah, dari sini kami turun ke MRT Paya Lebar dan akhirnya kami turun di MRT Aljunied. Di sini saya mau mengembalikan kartu STP, namun ternyata disini mereka tidak melayani. Kami bawa pulang ke hotel lagi deh. Malam itu udara dingin dan gerimis, kami melihat ada 1 PSK merana yang masih menunggu pelanggannya di pinggir jalan. Kasihan.briyani mahal

Pengeluaran hari kedua (x1000)

– Nasi Briyani dan nasi Ayam + minum S$ 9.8 = Rp 78

– Tas wanita S$ 10x 2 = Rp 160

– Hotel Fragrance Ruby S$67 = Rp 536

– Makan siang S$ 7,5 = Rp 60

– MRT Aljunied-Paya Lebar-Botanic Square-Buona Vista-Aljunied Rp 0

– Singapore Botanic Garden Rp 0

– Orchid Garden S$5 x2 = Rp 80

– Souvenir Perunggu S$ 2 = Rp 16

– MRT Aljunied-Paya Lebar-Serangoon-Farrer Park-Brass Basah-Paya Lebar-Aljunied Rp 0

– Nasi briyani porsi kenyang + mango lassy S$ 18 = Rp 144

Pengeluaran hari kedua = Rp 1074

Hari ketiga, Senin 10 Juni 2013

Hari ini kami harus bersiap balik ke Jakarta. Pukul 04.00 dinihari sudah mulai mandi dan sholat Subuh. Pukul 06.00 kami hendak ke MRT Aljunied, namun karena hujan deras kami pesan taksi Comfort dari hotel, jarak hotel ke Bandara Changi sebenarnya hanya 16 km dengan tarif argo S$ 14, namun karena terlalu pagi kami kena tambahan charge S$ 7 (50%) dan fee hotel S$3. Hujan sangat deras. Pukul 06.20 kami tiba di terminal 2 pintu paling akhir dimana check in Tiger Airways berada. Taksi di sini sudah canggih dan sopir sudah familiar dengan pembayaran menggunakan kartu kredit. Cepat dan efisien.

Check in cepat dan lancar. Karena masih 2 jam lagi saya keliling bandara. Tak lupa turun ke stasiun MRT Changi  untuk mencoba menukarkan kartu STP dengan deposit yang pernah saya setor. Alhamdulillah bisa. Oh ya, di changi ternyata ada beberapa turis yang menggelandang disini alias tidur dengan sleeping bag di bandara. Kami masuk pesawat pukul 07.40 dan berangkat ke Jakarta tepat pada pukul 08.10. Pukul 09.45 WIB pesawat sudah mendarat di Jakarta. Acara selanjutnya keluar dari imigrasi Indonesia, dan sarapan di Hoka-Hoka Bento terminal 2D. Kami pilih menu C dan D plus jus konyaku. Nikmat sekali rasanya.

Kami sempat menginap dulu di Mercure Ancol Jakarta untuk menikmati Seaworld dan lanjut ke Banjarmasin menggunakan pesawat Citilink keesokan harinya.

Pngeluaran hari ketiga

-Taksi Comfort S$ 24 = Rp 192

-Cashback STP S$10×2 = -Rp 160 (pemasukan)

-Tiger Singapura Jakarta Rp 375x 2 = Rp 750

-Sarapan Hokben = Rp 189

-Citilink Jakarta-Banjarmasin Rp 523×2 = Rp 1046 (termasuk pesan online nasi empal dan kwetiaw goreng)

Pengeluaran hari ketiga = Rp 2017

Total pengeluaran Rp 2901 + Rp 1074 + Rp 2017 = Rp 5992