Sore ini kami balik dari Tulungagung ke Yogyakarta menggunakan kereta api Gajayana yang melayani rute Malang – Jakarta Gambir. Dari Tulungagung pukul 16.46 dan sampai Stasiun Yogyakarta Tugu pukul 20.19.
Kesan pertama adalah begitu mengagumkan gerbong eksekutif Gajayana ini. Gerbong terbaru dengan interior glamor dilengkapi panel informasi yang mirip dengan kereta cepat Whoosh.
Ketika kami masuk gerbong tercium harum bau toko, seperti kalau kita beli mobil baru. Menyenangkan. Gerbongnya juga relatif tenang. Saya pilih gerbong 4 saya kira bakal di tengah dekat gerbong makan. Ternyata gerbong 5 dulu baru gerbong makan. Di belakang nya ada gerbong 6-8 dan gerbong panoramic.
AC nya dingin, pencahayaan nya optimal, ada beberapa TV di depan dan menggantung di atap kabin. Di tiap gerbong ada 2 toilet, 1 untuk pria dan 1 untuk wanita. Informasi toilet kosong bisa dilihat di layar informasi masing-masing gerbong.
Untuk gerbong makan tampak cantik dengan ornamen batik. Ada mushola nya juga, dimana terdapat sandal wudhu dan sajadah. Untuk wudhu nya tersedia di toilet masing-masing gerbong. Dan untuk pertama kalinya saya temukan wastafel basuh kaki di kereta api Indonesia. Keren.
Saya rasa ini gerbong kereta eksekutif paling keren yang pernah saya tumpangi. Mungkin ada yang tahu nama atau seri gerbong kereta ini?
Bagi sebagian orang, berbuka puasa di masjid menjadi sebuah rutinitas selama bulan Ramadan. Tak sekedar membatalkan puasa, tapi juga ajang menimba ilmu melalui ceramah (misal kuliah tujuh menit) sebelum berbuka.
Berikut jadwal buka puasa gratis di Yogyakarta tahun 2026 yang saya ambil dari instagram masclink_kulineran
Terjemahan dari tulisan opini Allan Hibbard di Golsilver dot com yang mungkin bisa menjadi pertimbangan buat investor, walaupun belum tentu tepat.
Ilustrasi FOMO saham (juga emas, akik, anthurium dll)
Investor ritel Amerika Serikat (dan juga Indonesia) baru saja melakukan sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya. Mereka, investor ritel di Amerika Serikat menggelontorkan $48 miliar (750 triliun Rupiah) ke saham AS hanya dalam 21 hari — lonjakan terbesar yang pernah tercatat. Dan mereka melakukannya pada harga tertinggi sepanjang masa. Jika sejarah menjadi acuan, itu bukanlah sinyal yang menenangkan. Mari kita uraikan apa yang terjadi — dan mengapa itu penting. $48 Miliar dalam 21 Hari Data tersebut berasal dari grafik JPMorgan yang disorot oleh George Noble. Grafik tersebut melacak jumlah total aliran ekuitas ritel selama 21 hari — pada dasarnya mengukur berapa banyak uang yang diinvestasikan investor biasa ke (atau keluar dari) pasar selama periode tiga minggu. Pembacaan terbaru menunjukkan investor ritel menggelontorkan $48 miliar ke saham AS hanya dalam 21 hari — lonjakan terbesar yang pernah tercatat. Sebagai perspektif, tepat sebelum pasar bearish 2022 dimulai, investor ritel membeli sekitar $33 miliar di dekat puncak. Kemudian, ketika harga saham jatuh dan ketakutan melanda, mereka menarik hampir $10 miliar di titik terendah. Dengan kata lain, mereka membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah — kebalikan dari apa yang dibutuhkan untuk kesuksesan jangka panjang. Sekarang, mereka mengulangi pola itu lagi… hanya saja kali ini pada tingkat yang lebih ekstrem.
Pola Ritel Abadi Membeli saham bukanlah masalahnya. Bahkan, kepemilikan ekuitas jangka panjang secara historis merupakan salah satu alat pembangunan kekayaan yang paling ampuh. Masalahnya adalah bagaimana dan kapan sebagian besar investor ritel membeli. Ketika Anda menggabungkan arus ritel dengan S&P 500, sebuah pola muncul: Ketika pasar turun → investor ritel menjual. Ketika pasar pulih → investor ritel membeli. Ketika saham mencapai level tertinggi baru → investor ritel berbondong-bondong masuk. Itu bukan alokasi modal strategis. Itu adalah reaksi emosional. Menurut JPMorgan, sentimen ritel kini telah mencapai level tertinggi yang pernah tercatat — bahkan melampaui mania saham meme tahun 2021. Ketika optimisme mencapai tingkat ekstrem seperti itu, biasanya perlu dipertanyakan apakah risiko diam-diam meningkat di bawah permukaan.
Seberapa Mahal Investasi Emosional? Jawaban singkatnya: sangat mahal. Menurut studi Dalbar, investor ritel telah berkinerja lebih rendah daripada S&P 500 sekitar 6% per tahun selama periode 20 tahun. Kesenjangan itu mungkin tidak terdengar dramatis pada awalnya — tetapi jika diakumulasikan selama beberapa dekade, itu mewakili kehancuran kekayaan yang sangat besar. Mengapa hal itu terjadi? Karena investor cenderung panik menjual saat terjadi penurunan, melewatkan pemulihan saat memegang uang tunai, dan kemudian memasuki kembali pasar setelah harga sudah pulih. Siklus ini berulang terus menerus: jual rendah, beli tinggi. Ini bukan masalah pengetahuan. Ini masalah emosional. Seperti yang dibahas dalam Rahasia Tersembunyi Nilai, aset populer terasa aman justru karena semua orang memilikinya. Ada kenyamanan dalam keramaian. Tetapi kenyamanan bukanlah hal yang sama dengan peluang. Bahkan, keuntungan jangka panjang terbesar seringkali berasal dari memegang aset yang terasa tidak nyaman sebelum menjadi jelas. Pada saat sesuatu dirayakan secara luas di setiap berita keuangan, sebagian besar keuntungan sudah hilang.
Alokasi Ekuitas Berada pada Tingkat Ekstrem yang Bersejarah Di sinilah data menjadi lebih mengkhawatirkan. Alokasi ekuitas rumah tangga saat ini berada di antara 45% dan 49% dari total aset keuangan — artinya hampir setengah dari kekayaan rumah tangga terikat pada pasar saham. Angka ini lebih tinggi daripada puncak yang dicapai selama gelembung dot-com pada tahun 1999 dan lebih tinggi daripada titik mana pun dalam sejarah keuangan modern AS. Ketika eksposur ekuitas meningkat hingga ekstrem seperti ini, muncul pertanyaan penting: dari mana gelombang daya beli berikutnya akan datang? Jika investor sudah banyak mengalokasikan dana ke saham, mendorong eksposur tersebut hingga 60% atau 70% dari total aset menjadi semakin sulit. Pada titik tertentu, modal tambahan akan menipis. Dan secara historis, ketika antusiasme mencapai tingkat maksimum dan posisi menjadi terlalu ramai, pasar menjadi lebih rapuh — bukan sebaliknya. Optimisme ekstrem tidak menghilangkan risiko. Seringkali justru memusatkannya.
Apa yang Terjadi Terakhir Kali? Sejarah tidak terulang sempurna — tetapi ada kemiripannya. Setelah puncak alokasi ekuitas tahun 1999, kehancuran dot-com dimulai dalam beberapa bulan. S&P 500 turun 49% selama 31 bulan berikutnya. Setelah puncak tahun 2007, krisis keuangan semakin intensif sekitar setahun kemudian, dengan S&P turun 57%. Apakah itu berarti kehancuran akan segera terjadi? Belum tentu. Waktunya tidak pernah pasti. Tetapi ketika posisi dan sentimen mencapai titik ekstrem, risiko meningkat — baik investor menyadarinya atau tidak.
Uang Cerdas vs. Uang Emosional Investasi yang sukses membutuhkan satu sifat yang tidak nyaman: kemauan untuk terlihat salah sebelum terbukti benar. Itu sering berarti menolak kerumunan ketika kepercayaan diri paling tinggi dan rasa takut ketinggalan paling kuat. Jika Anda ingin membangun kekayaan dari waktu ke waktu, emosi harus dikesampingkan demi disiplin. Mengejar apa yang terasa aman, menambah investasi hanya karena semua orang melakukannya, atau melakukan penjualan panik selama penurunan pasar mungkin terasa rasional saat itu — tetapi sejarah menunjukkan bahwa reaksi tersebut cenderung menghancurkan keuntungan. Itulah perbedaan nyata antara perilaku investor ritel dan alokasi modal yang cerdas. Yang satu didorong oleh kenyamanan dan konsensus. Yang lain dipandu oleh kesabaran, posisi, dan probabilitas. Saat ini, investor ritel menunjukkan kepercayaan diri yang ekstrem. Dan secara historis, momen kepercayaan diri maksimal sering kali merupakan saat pertanyaan terpenting perlu diajukan.
Ringkasannya
Mengapa rekor pembelian saham ritel merupakan tanda peringatan? Ketika investor ritel menggelontorkan sejumlah besar uang ke saham pada titik tertinggi sepanjang masa, hal itu sering kali menandakan optimisme puncak. Secara historis, lonjakan serupa telah terjadi di dekat puncak pasar utama, seperti tahun 2000 dan 2007. Dalam video penjelasan lengkapnya, Alan menjelaskan mengapa sentimen ekstrem dapat meningkatkan risiko penurunan.
Apakah investor ritel benar-benar membeli saat harga tinggi dan menjual saat harga rendah? Data menunjukkan bahwa mereka sering melakukannya. Studi seperti Dalbar menunjukkan bahwa investor ritel berkinerja lebih rendah daripada S&P 500 sekitar 6% per tahun dalam jangka waktu yang lama, sebagian besar karena mereka menjual selama penurunan dan membeli kembali setelah pasar pulih. Seberapa tinggi alokasi ekuitas rumah tangga saat ini? Eksposur ekuitas rumah tangga saat ini berada antara 45% dan 49% dari aset keuangan — lebih tinggi daripada puncak gelembung dot-com pada tahun 1999. Ketika alokasi mencapai titik ekstrem historis, daya beli di masa depan mungkin menjadi terbatas.
Apa yang terjadi setelah investor ritel berbondong-bondong membeli saham pada tahun 1999 dan 2007? Setelah alokasi ekuitas mencapai puncaknya sekitar 40% pada tahun 1999, S&P 500 turun hampir 49% selama 31 bulan berikutnya. Setelah puncak tahun 2007, saham turun sekitar 57% selama krisis keuangan.
Bagaimana investor dapat menghindari kesalahan investasi emosional? Investor yang sukses fokus pada disiplin dan strategi daripada sentimen massa. Membeli aset yang tidak populer sebelum diterima secara luas secara historis menghasilkan keuntungan jangka panjang yang lebih kuat.
Euforia Spekulasi Di Pasar Saham (dan lainnya seperti emas, tulip, anthurium, batu akikdll) , semacam monkey business Gambarnya Seperti Ini Harga saham mulai naik sedikit. Influencer / grup saham mulai bahas. Volume transaksi melonjak. Ritel masuk bersamaan. Harga melonjak cepat. Bandar / big player mulai distribusi pelan-pelan. Harga tiba-tiba turun tajam. Ritel panik jual rugi.
Tadi malam kami menjadi tuan rumah tahlilan dan yasinan keluarga Bani “T” batch Yogyakarta. Karena mendekati bulan ramadhan, kami mau coba adakan menu yang beda dari kebiasaan (makanan khas Indonesia seperti bakso, soto, ayam penyet, rendang, sambelan, ayam kremes seperti yang sudah-sudah), maka kami pilih menu khas Arab Saudi, yaitu nasi kebuli dengan ayam khas Arab Saudi. Kami sudah 2 kali ke sini, dan merasa ini paling pas dengan budget di bawah 50 ribu/porsi dan punya rasa yang paling mirip dengan nasi mandhi yang kami makan saat tur Taif di sela haji Juni 2025 kemarin.
Kami pesan 35 porsi nasi kebuli, terdiri dari 17 paket emir duo (2 box nasi kebuli dengan dada/paha atas, dengan 2 macam sambal (bawang putih & sambal bawang merah)) @62 ribu, dan 1 emir set (nasi kebuli dengan dada/paha atas dengan 1 pilihan sambal) seharga 32 ribu Rupiah. . Pesan 5 hari sebelum hari pelaksanaan (H-5).
Nota untuk pemesanan 35 box nasi kebuli dan ayam goreng almaz
Pada hari H, kami tiba 1 jam lebih awal dari rencana, karena mengingat Yogyakarta saat itu dibanjiri wisatawan long weekend imlek dan awal puasa. Kami pesan dulu makan sore pakai nasi putih dan ayam goreng yang harganya 25 ribu sambil menunggu pesanan di siapkan. Jadi makanan pesanan benar-benar dibuat fresh sesuai jam pesanan. Setelah menunggu setengah jam semua pesanan siap. Kami juga minta 9 balon Almaz buat anak-anak yang akan ikut orang tuanya malam nanti. Dan sendok plastik sesuai jumlah pesanan. Pelayanan ini gratis.
Singkat kata acara tahlil dan yasinan selesai jam 9 malam, dan saat itu paket nasi kebuli almaz beserta teh panas, chiffon cake, air mineral, buah (anggur dan jeruk shantang) dan gorengan (tahu susu dan tempe goreng) kami sajikan. Sengaja tidak dibagikan di awal acara, biar fokus dan tidak ngantuk saat acara dilaksanakan.
AnggurGorenganNasi kebuli dan ayam goreng almaz
Nasi kebuli Almaz ini menurut kami enak, mirip dengan nasi di Arab Saudi waktu haji tahun lalu. Demikian juga kata saudara yang sudah pernah umroh/haji. Beras pera, berbumbu ringan merata, ayamnya berbumbu rempah kuat. Bahkan orang yang baru pertama coba, suka.
Kami juga sempat foto outlet Almaz jalan Sultan Agung Yogyakarta. Ada ornamen Masjidil Aqsa, bendera Palestina, dan di dus nya tertulis 5% disumbangkan untuk Palestina. Berbeda dengan 2 kunjungan sebelumnya, kali ini tidak diputar murottal Alquran terus menerus, hanya video promo dan program Almaz.
Berawal dari jemput keluarga terlalu awal ke stasiun Maguwo/bandara Adisucipto, tadi malam akhirnya saya mampir ke SPBU Adisucipto Maguwo untuk sholat Isya dan jajan donat kesukaan saya, Dunkin Donuts. Selain donat, ada juga minimarket, toilet, orang jualan kacang rebus, pengisian nitrogen dan gas 12 kg.
Saya biasa beli 2 donat. Salah satunya kesukaan saya, Sugar Raised, donat yang tidak bolong di tengah yang isinya selai lemon dan ditaburi gula halus. Manisnya pas, tidak bikin gigi sensitif ngilu. Satunya lagi Caramel Ring (kadang disebut Caramel Frosted) Donut ring dengan topping karamel dan drizzle cokelat di atasnya. Rasanya sangat manis, sepertinya skala kemanisan nya paling tinggi di coating/lapisan karamelnya.
Dua donatSugar raised isi selai lemon
Harga untuk 2 donat ini 33 ribu Rupiah, cukup fancy buat saya yang biasa beli donat 3 ribu. Sebenarnya ada juga paket kombo 33 ribu dapat minuman dan 1 donat, tapi tadi malam saya lagi kangen dengan donat Dunkin. Di Yogyakarta, setahu saya tinggal dua tempat yang ada outlet Dunkin donuts, selain di SPBU Adisucipto Maguwo ini, ada juga di Ramai Mall jalan Malioboro, sisi barat jalan.
Program bundling yang cukup menarik di sini adalah beli 5 gratis 1 (jatuhnya jadi 13.750/biji) , atau beli 9 gratis 3 (jatuhnya jadi 12.375/biji). Seperti tertera di foto di atas. Lebih murah daripada beli bijian 16.500/biji.
Manisnya Dunkin Donuts ini luar biasa, khususnya yang caramel, cukup sekali ini saja. Mungkin ke depannya beli yang double chocolate yang ada pahitnya cokelat, dan sugar raised isi strawberry seperti yang biasa saya pesan.
Oh ya, list varian Dunkin donuts sangat banyak, tapi di lapangan tidak semua tersedia. Seperti tadi malam habis Isya, beberapa varian sudah habis.