Tag

Dalam satu setengah tahun terakhir berada di Bandung ini kami seringkali menggunakan kereta api sebagai moda transportasi utama ke kota lain, termasuk pulang kampong/mudik lebaran. Jika sebelumnya 100% menggunakan pesawat udara mengingat Banjarmasin=Surabaya/Yogyakarta tidak memungkinkan transportasi darat, kini sekitar 75% menggunakan kereta api dan 25% menggunakan pesawat udara. Untuk pulang kampong kali ini semuanya naik kereta api sebanyak 3 kali, yaitu

  1. 28 Juni 2016 (H-7 Lebaran) Bandung-Yogyakarta menggunakan kereta Lodaya Malam kelas Bisnis, tarif Rp 140 ribu sama seperti hari biasa

Kereta berangkat pukul 18.50 dan tiba di pukul 03.50 pagi, setiba di Yogyakarta kami masih sempat sahur. Kereta ini ada 2x keberangkatan, pagi dan malam. Karena kereta berangkat malam kami lebih banyak tidur dalam 9 jam perjalanan ini. Satu kursi besar yang cukup untuk berdua dan bisa diatur posisinya apakah berhadapan atau membelakangi kursi di belakangnya.

Stasiun Bandung menerapkan check in, 12 jam sampai keberangkatan. Mesin check in ada 4. Setelah check in kami mendapat secarik kertas seperti boarding pass pesawat. Di stasiun Bandung tersedia lengkap fasilitas, seperti minimarket Alfamart, Indomaret, dan Yomart yang merupakan anak usaha Yogya Supermarket yang juga menjual kopi, makanan siap saji dan snack seperti sosis panggang. Ada juga toko oleh-oleh Mayasari, Dunkin Donuts dan Hoka-hoka Bento. Tersedia pula ATM Mandiri, BNI, BRI, CIMB Niaga dan BCA. Dan jika membawa mobil tersedia parkir yang luas dimana biaya parkir per jam 3 ribu Rupiah, dan dikenakan 24 ribu Rupiah untuk maksimal 24 jam.Kami biasa menggunakan stasiun Bandung sisi utara dimana penumpang kereta jarak jauh dan ke Jakarta berangkat, sedangkan untuk kereta local Bandung Raya biasa dari sisi selatan yang lebih sederhana dengan fasilitas tak selengkap di utara.

Di kereta juga tersedia makanan dan minuman yang bisa dipesan ke pramugari atau datang langsung ke gerbong makan. Harga makanan 30 ribuan Rupiah, sedangkan minuman 5-9 ribu Rupiah, mi instan cup 8 ribu, ada juga snack kemasan.

  1. 7 Juli 2016 (H+1 Lebaran) Yogyakarta-Tulungagung menggunakan kereta Malioboro Ekspress kelas Ekonomi, tarif Rp 200 ribu, di hari biasa Rp 140 ribu

Kereta berangkat pukul 07.30 dan tiba pukul 13.10. Perjalanan makan waktu 5 jam 40 menit. Di perjalanan pagi ini seringkali bersimpangan dengan jalan raya, terlihat antrian kendaraan pemudik yang sangat panjang mungkin sekitar 1 km. beberapa tahun lalu pernah mencoba bawa mobil saat pulang kampong dengan rute yang sama, dan makan waktu hampir 12 jam karena macet dan sempat tersasar. Kalau bawa keluarga besar bisa menggunakan kendaraan pribadi kelebihannya lebih hemat biaya namun dengan resiko macet, sedangkan untuk keluarga kecil lebih baik naik kereta karena kalkulasi biaya bahan bakar yang hampir sama dengan naik kereta tetapi bebas resiko macet dan kelelahan.

Di Malioboro Ekspress tidak tersedia kelas bisnis, hanya ekonomi dan eksekutif. Jika di kelas ekonomi kereta lain formasinya 3-2, di sini formasinya 2-2 dengan kursi fixed berhadapan. Agak lebih lega. Tersedia juga makanan dan minuman seperti di kereta Lodaya.

Fasilitas stasiun Tugu Yogyakarta cukup lengkap, ada mesin ATM Mandiri, BNI, BRI, BCA. Ada juga kafe loko yang merupakan anak perusahaan kereta api. Dan juga penjual makanan, minuman, oleh-oleh khas Jogja dll, minus minimarket. Ada minimarket yang dulu Indomaret sekarang tanpa nama di pintu keluar dekat jalan Pasar Kembang.

  1. 18 Juli 2016 (H+12) Tulungagung-Bandung menggunakan kereta Malabar kelas Eksekutif, tarif 395 ribu Rupiah.

Berangkat pukul 18.30 dan tiba pukul 08.30 (14 jam). Berhubung perjalanan yang lama kami pilih kelas ini. Fasilitas cukup OK. Meski tak baru, kursi nya adalah personal yang bisa direbahkan. Diberikan juga fasilitas bantal kecil dan selimut. AC kereta juga sangat dingin. Di tiap ujung gerbong ada TV yang  memutar film, lagu dan iklan. Film yang diputar hari itu adalah film “The Adventure of Tintin” yang sangat menarik. Lagu yang diputar bertema lebaran yang dinyanyikan oleh Opick, Melly Goeslaw, Maher Zain, dan lagu baru yang dinyanyikan Gigi, Rio Febrian dll. Berhubung jarak jauh dalam perjalanan ke Bandung ini saya melihat film dan lagu ini diputar 4x. Lumayan mengurangi kebosanan di dalam kereta. Kami sempat mencoba snack kue bagelen produk D’Cost isi 4 seharga 8 ribu, dan tea produk Popso seharga 7 ribu.

Stasiun Tulungagung merupakan stasiun kecil dengan satu gerai Roti O dan satu penjual snack dan minuman kemasan. Tetapi di depan stasiun lengkap fasilitasnya, ada hotel,wartel, warung sate, soto, pecel dan pempek, krupuk kulit sapi/kerbau dll

Secara keseluruhan pulang kampung dengan kereta api memuaskan, ada colokan listrik untuk isi batere gadget, toilet yang bersih, AC yang dingin, petugas kebersihan/customer care/security yang standby, bebas asap rokok, makanan dan minuman yang selalu tersedia, stasiun yang terjaga keamanan dan kebersihannya, serta pengumuman yang disampaikan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan fasih adalah hal baru yang saya dengar di edisi pulang kampung tahun ini. Kereta api Indonesia terus maju dan mengembangkan diri.