Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Ini adalah pengalaman pertama menjaga ayah yang rawat inap sebagai pasien stroke di rumah sakit RSUD Iskak Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Serangan stroke terjadi hari Minggu dan baru hari Kamis diantarkan ke rumah sakit. Sakit itu muncul kemungkinan akumulasi gaya hidup kurang sehat, puncaknya saat hari raya kurban lalu dimana melimpah daging kurban baik sapi maupun kambing memenuhi lemari pendingin dan dimasak, diantaranya kami masak rendang. Dari Yogya bawa gudeg, dari besan dapat kiriman pindang sapi dan rica-rica entog. Karena kondisi darurat maka langsung ke poliklinik penyakit dalam kemudian dirujuk untuk masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) Zona Kuning. Gejalanya yaitu kaki dan tangan kiri lemas, tanda kalau serangan stroke di kepala sebelah kanan. Sebelum masuk IGD didaftarkan dulu untuk rawat inap di Graha RSUD dr.Iskak menggunakan BPJS Kesehatan kelas 1 dengan estimasi biaya 15 juta dan siapkan 50% sharing cost 7,5 juta, mengingat ini naik kelas kamar dari kelas 1 ke VIP.

ruang ct scan rsud dr iskak tulungagung

Di IGD kemudian dilakukan CT Scan untuk memindai dan lanjut XRay torax dada. Hasilnya muncul keesokan harinya saat visit dokter, yang menunjukkan otak kanan tengah warna abu-abu, tanda ada cedera dampaknya stroke ringan yang masih bisa dipulihkan meski tidak kembali 100%, kalau hasil CT Scan sampai warna putih tandanya terjadi pendarahan, dampaknya stroke permanen/ mati separuh. Untuk torax dada paru-paru terlihat bagian bawah paru kiri yang tak tampak, kemungkinan dampak merokok, padahal ayah sudah berhenti merokok 30 tahunan lalu. Tampaknya jejak merokok tidak bisa dihapus dari paru-paru meskipun sudah puluhan tahun berhenti merokok.

Mengenai fasilitas rawat inap di Graha RSUD Dr Iskak Tulungagung cukup memadai. Graha adalah rumah sakit eksekutif, dimana 1 kamar untuk 1 pasien, ada 1 bed pasien yang bisa di naik turunkan tingginya, 1 bed penunggu, AC, TV, meja dan kursi kerja, kamar mandi dengan toilet duduk dan shower. Seperti hotel bintang 3. Buat peserta BPJS Kesehatan ada biaya tambahan untuk upgrade kamar dan fasilitas ini, dimana untuk peserta BPJS Kesehatan kelas 1 standarnya di kamar standar RSUD sekamar isi 2 pasien yang disekat tanpa tempat tidur buat penunggu pasien. Dan selama pandemi Covid-19, penunggu dan penjenguk/pembezuk hanya boleh 1 orang bergantian.

Obat dikasihkan pagi dan sore oleh perawat. Suntik obat syaraf, insulin, dan lainnya juga diberikan pagi dan sore. Selalu pakai infus rerata sehari 1-2 infus. Tiap hari ada kunjungan dokter syaraf dan dokter penyakit dalam, dan juga 15 menit latihan gerakan dari terapis sebelum pulang. Dokter syaraf yang memutuskan boleh pulang apa belum, berkordinasi dengan dokter penyakit dalam.

Ada kafe dan tempat karaoke di belakang Graha, yang saat hari Jumat malam sampai Minggu malam ramai terdengar sampai jam 11 malam. Buat saya sebagai penunggu cukup terganggu, tetapi buat ayah ini menyenangkan, karena tidak sunyi. Unik juga, pasien senang keramaian. Banyak tempat makan di sekitar rumah sakit, katanya masakan kantin enak, tapi saya belum coba. Cuma sempat beli nasi pecel + ayam mbak Som depan RS 12 ribu, enak. Nasi pecel samping rumah sakit 6 ribu, nasi ayam penyet 8 ribu, enak juga. Bakso pak Sabar seporsi 10 ribu isi 1 bakso urat+2 bakso kecil+ tahu bakso+ pangsit, lumayan asin mirip bakso malang. Teh panas di Alfamart depan rumah sakit 5 ribu. Snack Holland Bakery dari pembezuk juga enak, walaupun terlalu manis dan bersantan, pekat.

Untuk dokter penyakit dalam (dr Yasin) rajin visit, 4 hari berturut-turut, sementara dokter syaraf (dr Joko) hanya masuk hari Jumat dan Senin, Sabtu-Minggu beliau digantikan dokter lain (dr Djenar dan dr Dodo kayaknya) yang tidak bisa memutuskan boleh pulang apa tidak, sementara ayah sudah homesick/kangen rumah sejak hari kedua di rumah sakit. Keputusan boleh pulang apa tidak kembali ke dokter spesialis syaraf. Saat mau masuk kamar rawat inap dikasih opsi 3 dokter syaraf, 1 perempuan (dr Djenar), 2 laki-laki (dr Joko & dr Dodo). Karena awam, saya asal pilih saja dr. Joko. Sedangkan dokter penyakit dalam dr. Yasin adalah dokter poliklinik penyakit dalam yang menerima ayah dari awal periksa hingga keluar.

Total jenderal biaya perawatan pasien stroke dengan penyerta penyakit darah tinggi dan diabetes selama 5 hari 4 malam di kamar Arjuna (VIP) Graha RSUD Iskak Tulungagung adalah 9,4 juta. Untuk peserta BPJS Kesehatan kelas 1 (kebetulan ayah adalah pensiunan PNS golongan IVD) kena sharing cost 50%, sehingga masih perlu bayar sendiri sebesar 4,7 juta Rupiah. Kalau kamar standar buat kelas 1 yang ada di bagian depan rumah sakit, bisa gratis tanpa tambahan seperti waktu istri rawat inap di Bandung.

Semoga ayah lekas sembuh dan pulih kembali. Amin