Tag

, , , , , , , ,

Si A punya uang Rp 60 juta pada akhir 2015 yang ingin diinvestasikan, karena bingung si A coba investasi saham yang lagi hits saat itu, yaitu AISA, yang konon akan seperti Unilever di masa yang akan datang. Selain itu juga investasi di saham PPRO, anak BUMN PT PP yang baru go public. Beli juga saham BUMI (Bakrie), TAXI (taksi ekspress), AUTO (onderdil Astra), JPFA (nugget so good), MPPA (Hypermart), PTPP (BUMN karya). Pokoknya hanya beli saham yang dekat dengan kehidupan sehari-hari si A.

Berapa nilai uang Rp 60 juta itu sekarang ?, ternyata tinggal Rp 25 juta, potensi rugi 35 juta (-60%). Kenapa bisa begitu ? Karena harga saham-saham tersebut turun 20-76%, tanpa satupun yang naik. Maka tak heran jika Jiwasraya merugi hingga puluhan trilyun. Lalu siapa yang menikmati keuntungan selisih ini ? para bandar/pemain besar tentunya yang bisa mempengaruhi naik turunnya harga saham, termasuk tersangka BC. Sejak BC aktif dan sering muncul di berita setahun dua tahun terakhir si A mulai malas bertransaksi saham. Kenapa? malas jadi mainan.

Lalu bagaimana dengan emas? seandainya si A belikan emas waktu itu (Rp 550.000/gram), dapat 109 gram emas. Kalau dijual di butik Antam (per 27 Februari 2020 harga buyback Rp 735.000/gram), laku Rp 80,115 juta. Atau untung Rp 20,115 juta (+33%).

Kenapa bisa terjadi ? emas dan saham bekerja berkebalikan, disaat dunia stabil dan penuh harapan (presiden baru misalnya), saham akan meningkat pesat seperti tahun 2015. Namun saat dunia gelisah seperti saat ini (virus Corona, ancaman perang), emas biasanya meningkat. Jadi tidak ada investasi yang benar-benar menguntungkan/bebas dari resiko. Bisa jadi setelah kegelisahan ini lewat, saham akan naik dan emas akan mendatar. Namun perlu diingat, emas tidak bisa dimanipulasi seperti mata uang dimana bisa dicetak sesuai kemauan pemerintah/negara.