Tag

, , , , , ,

Mungkin sebagian dari kita bertanya-tanya siapa yang membayar reward/hadiah kartu kredit berupa poin yang bisa ditukar misal dengan tiket pesawat, diskon belanja, tempat makan dll. Pertanyaan ini terjawab di video Youtube ” who actually pays for your credit card rewards?” channel Vox.

Berdasar penjelasan Brian Kelly yang terkenal sebagai “The Points Guy” yang sering melakukan perjalanan naik pesawat first class secara gratis dengan menggunakan reward kartu kredit.

Bank memberikan janji misalnya cashback, bonus miles dan bonus tunai dari setiap pembelanjaan. Ketika resesi, bank besar Amerika (Wells Fargo, JP Morgan dan Bank Of America) mengalami  kesulitan mencari untung di pinjaman rumah/KPR/mortgage, mereka mengalihkan bisnis ke kartu kredit. Untuk menarik nasabah, mereka memberikan tawaran yang menarik cashback lebih tinggi, bonus miles dan bonus tunai. Untuk pertama kalinya tahun 2011 bank Chase memberikan reward 100.000 point untuk pengguna baru kartu British Airways Visa.

Sejak saat itu bank meningkatkan reward dan konsumen mulai banyak yang memanfaatkan reward. Tahun 2018, 92% pembelanjaan menggunakan kartu kredit menghasilkan reward. Dari hanya 67% di tahun 2006.

Bagaimana cara kerjanya ? ketika konsumen belanja ke toko menggunakan kartu kredit, toko dikenakan biaya interchange atas penggunaan EDC. Bank memungutnya, dan memberikan ke konsumen berupa reward, misal kartu kredit ANZ memberikan gratis kopi Starbuck. Sedangkan dari konsumen, bank dapat uang dari iuran tahunan dan bunga. Keuntungan terbesar bank di biaya interchange. Biaya ini berbeda antara kartu kredit biasa (blue/silver/gold/titanium) dengan kartu premium(platinum/solitaire/world/signature).

Biaya interchange kartu kredit biasa sekitar 1,5% sedangkan kartu premium sekitar 3%. Tahun 2017 di Amerika. toko membayar 43,4 milyar USD (600 Triliun Rupiah) untuk membayar biaya interchange. Tak mengherankan kalau toko kurang begitu menyukai penggunaan reward kartu kredit karena secara tidak langsung mereka menanggung. Kebanyakan toko tidak punya kekuatan negosiasi biaya interchange. apalagi Visa dan Mastercard memperlakukan sama, kartu kredit bisa diterima dimana saja, baik kartu kredit biasa maupun premium.

Konsumen yang membayar tunai secara tidak langsung ikut membayar reward/hadiah kartu kredit, karena toko menambahkan biaya interchange ke dalam harga. Ketika sebuah negara membatasi besarnya biaya interchange, bank akan merespon dengan mengurangi reward/hadiah. Ketika  belanja menggunakan kartu debit atau tunai, konsumen seperti meninggalkan poin dan uang di meja. Membuang uang saat membayarnya dengan tunai.

Tips pengguna kartu kredit : bebas hutang, disiplin keuangan, bayar pengeluaran tiap bulan, bayar sebelum jatuh tempo, untuk menghindari bunga, dapatkan poin, Maka konsumen menjadi pemenang.

Mungkin saat ini yang mirip adalah penggunaan digital money semacam Gopay, Grabpay, OVO, Tcash dll. Pernah menemukan suatu warung yang jual menu makanan seharga 18 ribu saat dipesan di aplikasi online dan bisa dibayar dengan digital money. Tetapi ketika datang langsung ke warung dan dibayar tunai, menu tersebut harganya 15 ribu. Lebih murah 20% (free interchange fee).