Tag

,

Jumat, 27 January 2017

Link video https://youtu.be/SI6wCRBeOZo

Hari ini, hari terakhir saya di Sydney Australia. Bangun pagi-pagi dari Big Hostel, mandi, berdandan, sholat subuh, lalu sarapan. Sarapan menghabiskan belanjaan kemarin, antara lain : susu, pisang, apel, pie daging. Tiga pertama langsung saya konsumsi, sementara pie harus saya panaskan di microwave. Saya juga buat bekal berupa 2 tangkup roti yang olesi bermacam selai buah khas Australia seperti : peach, apricot, blueberry, orange peel, strawberry. Dan saya masukkan ke dalam wadah Tupperware. Untuk minum saya bikin tea hangat. Sesudah itu nonton channel 7 yang menyiarkan beberapa peristiwa kemarin, antara lain Australia Day, jatuhnya pesawat kecil di Swan River Perth yang menewaskan 2 orang, dan suasana berkabung national atas kejadian di Melbourne hari Minggu lalu. Ada juga live boyband dan undian cashcow yang berhasil 20ribu AUD.

Beres sarapan, saya packing ulang. Setelah beres, bawa seprai dan sarung bantal untuk mencairkan deposit 20 AUD. Perjalanan ke bandara saya tempuh dengan jalan kaki 400 meter dari hostel menuju Central Station. Tap on kartu Opal lalu ke lorong no 21 naik Train ke Mc Arthur melalui Bandara International Sydney. Kalau langsung, biayanya 17 AUD. Sedangkan bila tidak langsung seperti yang saya lakukan, dari Central ke Mascot dulu, tap off 2 AUD, masuk lagi tap on masuk platform 2, naik kereta arah terminal international, tap off 8 AUD. Total 10 AUD. Hemat 7 AUD. Ada cara yang lebih hemat, turun di stasiun Mascot, jalan kaki ke halte depan TNT, naik bus no 400. Biayanya sekitar 7 AUD. Hemat 10 AUD. Ada beberapa penumpang budget ketat yang menempuh cara ini. Sah-sah saja.

Sesampai airport jam 10 masih menunggu 30 menit. Beli jus oren asli seharga 3.2 AUD pakai koin. Nikmat dan segar betul jus ini. Tiba – tiba ada nenek-nenek berjilbab logat Betawi, ngobrol dengan saudaranya, pas saudaranya pergi check in Air Asia ke Kuala Lumpur, malah ngajak ngobrol saya, nanya-nanya dan ganti saya tanyakan ternyata sejak tahun 1975 beliau migrasi ke Australia bersama suaminya yang seorang dokter, dan tahun 1986 resmi jadi warna negara Australia. Beliau bilang, Australia terima orang punya skill keterampilan seperti dokter dan insinyur. Beliau juga cerita di Australia mudah dapat duit, yang susah mendidik anak cucu. Bagai mana tidak, pakaian mini, alcohol, tato, berciuman adalah hal yang umum di sana. Beliau dan suaminya cinta mati dengan Indonesia, meski berpaspor Australia. Berhubung sudah pensiun, tiap bulan pelesiran. Tiap seminggu dibayar 16 juta Rupiah (1600 AUD). Kali ini beliau mau liburan ke Kuala Lumpur bersama keluarga.

Pas rombongan beliau selesai check in, sudah jam 10.30 pagi dan waktunya check in Scoot TZ1 yang saya tumpangi ke Singapura. Proses check in cepat. Meski ketentuannya kabin 7 kg, pas saya timbang 9 kg, tidak di minta tambahan. Karena memang ada jatah tambahan buat laptop 3 kg sehingga asalkan tidak lebih 10 kg tidak masalah. Check in lancar, lalu ke Australia Post buat menghabiskan 10 keping koin bermacam nominal yang susah menukarkannya di luar Australia, total nya senilai 4 AUD. Muter-muter nyari akhirnya menemukan notes bersampul gambar orang Aborigin dan binatang khas seperti kanguru, koala, burung dkk.

Lalu masuk ke imigrasi. Meski belum epaspor saya masuk autogate, scan paspor, lalu scan iris mata, lalu ditanya-tanya kapan ke sini, berapa hari, kemana saja, apa yang dilakukan dan seterusnya. Itu saya rasa resiko kalau jalan sendiri. Karena biasanya wisatawan datang ramai-ramai bersama rombongannya. No way, yang penting jawab jujur dan tegas. Tidak sampai itu saja, pas pemeriksaan barang bawaan di geledah lagi. Ada susu kotak rasa pisang yang belum saya minum, mau disita. Sayang dong, saya minta izin, dan diperbolehkan. Saya minum dekat petugasnya. Jauh lebih ketat rasa nya pemeriksaan di Sydney, dibanding dengan Perth 2,5 tahun lalu yang pemeriksaan nya cepat sekali serasa jalan tol.

Masuk ruang tunggu saya terpana, brand ternama dunia membikin butik di dalam bandara. Keren. Karena recehan sudah habis, maka saya jalan terus kurang lebih satu km menuju ruang tunggu 58 yang masih sepi. Oh ya, ada tempat isi air dekat toilet, air nya segar serasa Aqua. Ada juga WiFi gratis yang kencang. Cocok dengan airport tax yang mahal, 700 ribu an. Saya mau habis kan kuota 1,5 GB Optus yang saya beli kemarin lusa, dengan nonton YouTube, update aplikasi. Ternyata masih sisa 400 MB. Ya sudah, tak terkejar lagi. Tahu gitu pakai Optus dari hari pertama. Perlu nya dikit, hanya buat kabar kabar, googlemap, Myki & Opal card, dan update email. Di hostel dan tempat umum juga tersedia WiFi gratis.

Pukul 14.00 pesawat berangkat. Jumlah penumpang tak sampai setengah kapasitas. Kabinnya benar-benar ekonomis, tanpa audio video. Meski sudah 3 kursi buat 1 orang, masih banyak deretan yang kosong. Mungkin karena pas tahun baru imlek, orang-orang tidak berpergian. Karena longgar dan bisa selonjoran, maka penerbangan 8 jam ini menyenangkan. Termasuk nonton film di gadget sendiri. Kalau mau nonton di Scoot juga boleh, pakai gadget masing-masing penumpang, pakai jalur WiFi, film jadul, bayar 9 Dollar Singapura . Beberapa kali turbulensi ketika masuk wilayah negara tercinta, Indonesia. Saya pesan mi rebus rasa ayam, dan teh heaven and earth. Sedap sekali, meski mahal, 9 SGD, yang penting halal dan memang lagi haus dan lapar. Bayar nya bisa pakai SGD atau kartukredit.

Ada kabar dari majalah Scoot kalau Tiger Air pada tengah tahun 2017 akan menjadi Scoot.

Sampai di Changi sudah pukul 18.30 alias lebih cepat 20 menit dari jadwal (padahal berangkat ya telat setengah jam). Pesawat parkirnya jauh sekali dari terminal 2, sehingga harus naik bus ke terminal, langsung imigrasi yang panjang mengular. Kondisi Changi suram, tak secemerlang 2-3 tahun lalu, dan tak sudah terlihat tua/out of date. Panduan bandaranya cuma selembar kertas lipat, dulu buku. Lalu pindah ke terminal 1 dimana Air Asia berapa, dengan Skytrain. Sesudah cetak boarding pass, masuk imigrasi dan menunggu pesawat Air Asia yang jadwal nya berangkat pukul 21.50, namun mundur satu jam menjadi 22.50. Penerbangan ini penuh penumpang, sehingga saya dapat kursi no 3 (hot seat) tanpa bayar. Alhamdulillah pukul 23.30 pesawat mendarat dengan selamat di Cengkareng.

Biaya hari ke 6 :

-Refund deposit BIG hostel 20 AUD ~ 200 k Rupiah

– kereta ke bandara turun naik di Mascot 10 AUD~100 k Rupiah

-Jus Oren dan souvenir 7,2 AUD~73 k Rupiah

– Scoot 1,7 JT Rupiah

-Makan minum di Scoot 9 SGD ~ 90 k Rupiah

—————+++

Rp 1,76 jt