Tag

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Minggu, 6 Nopember 2016

Setelah hampir sepekan berputar di pedesaan Turki, akhirnya kami balik ke Istanbul. Saya sempat telpon ke Indonesia selama 20 menit menggunakan aplikasi WhatsApp. Kami check out jam 8 pagi, atau lebih cepat 30 menit dari jadwal sarapan hostel ini. Tak terlalu jadi masalah, karena kami sudah bikin mie Cup Nudo + mie gelas. Dan juga simit kemarin sore simit itu roti khas Turki seperti roti umumnya namun dibentuk lingkaran dengan permukaan diolesi mentega dan ditaburi wijen. Ada yang manis, asin atau plain, tergantung keberuntungan kita ketemu penjual simit apa. Yang pasti harum menteganya itu bikin kangen. Harganya murah 1-3 TL tergantung dimana kita beli. Kalau di daerah, pinggir Istanbul-Kabatas 1 TL, di Eminonu/Sultanahmet/Taksim 1,25 TL, di toko Simit Sarayi 3 TL. Dari hotel ke stasiun Selcuk sangat dekat, sekitar 100 meter. Tiket menuju stasiun Adnan Menderes harganya 5TL. Berada di selatan Izmir, kota terbesar ke tiga di Turki setelah Istanbul dan Ankara, dan kota ini sempat menjadi wilayah Yunani saat Turki kalah perang melawan sekutu, namun akhirnya bisa direbut kembali oleh nasionalis Turki yang dipimpin Mustafa Kemal Ataturk. Sepanjang jalan kami melihat kebun jeruk, peach dan delima yang sedang berbuah. Di jalan umum pun berbuah. Tak mengherankan jus buah 1 liter di sini hanya 2,5 TL atau 10 ribu Rupiah saja, kalau di Indonesia jus se liter sekitar 25 ribu Rupiah. Stasiun kereta api di sini terbuka, tak ada pengamanan seperti bandara, orang keluar masuk stasiun bebas, hanya sekali ada pemeriksaan di dalam kereta. Tiap gerbong hanya satu orang jualan simit dan ayran, tapi tertib dan tidak mengganggu penumpang.

Dari Izmir Adnan Menderes ke Sabiha Gokcen Istanbul (SAW) kami naik pesawat Turkish Airlines “yang asli”, mengingat sebelumnya dari SAW ke Kayseri kami naik anak perusahaan Turkish Airlines yaitu Anadolu Jet, semacam Citilink nya Garuda Indonesia. Tapi sebenarnya hampir sama saja, AVOD nya cuma model gantung di atas, yang kelas bisnis kursinya sama dengan yang ekonomi, cuma bedanya, kursi tengah ditaruh meja makan. Anadolu Jet menyediakan roti burger dan minum gratis ke penumpang, sedangkan Turkish Airlines ternyata sama saja, bedanya cuma rotinya lebih besar, hangat dan ada tulisan Do&Co, brand restoran udara elit untuk beberapa maskapai. Di sini kami menemukan wajah-wajah anak Turki seperti di patung Yunani, mungkin mereka penduduk asli area ini yang memang banyak ditemukan patung Yunani.

Dari SAW menuju Sultanahmet kami naik bus kota E10 ke Kadikoy, tarifnya 4,3 TL memotong deposit Istanbulkart. Lebih murah dari Havatas yang 10 TL yang harus bayar cash. Cuma karena bis kota ini berhenti lebih dari 10 halte, lama perjalanan sampai Kadikoy 1,5 jam. Kalau pakai Havatas 1 jam. Dari Kadikoy lanjut fery Sehir Hatlari ke Eminonu. Fery ini punya pemerintah sehingga bisa bayar pakai Istanbulkart dengan tari diskon 2.15 TL/orang. Kami sempat abadikan foto stasiun Haydarpasa yang dulu sangat sibuk melayani kereta sampai ke Arab dan Iran, kini hanya melayani dalam negeri. Dan juga kami bisa melihat dari dekat kesibukan selat Bosphorus yang merupakan jalur kapal yang mengikuti hukum laut internasional. Dari pelabuhan ke halte tram Eminonu bisa ditempuh dengan jalan kaki karena dekat, sedangkan dari  halte Eminonu kami naik tram melewati Sirkeci dan akhirnya turun di halte Gulhane, dari sini kami melangkah 100 meter menyusuri jalan Ebusuud menuju hotel Erboy. Kondisi hotel ini cukup bagus dan posisinya strategis, dan saya rasa setara dengan tarif normalnya yang sekitar 550 ribu Rupiah/malam, bisa dapat lebih murah jika sesekali memeriksa harga promo di booking.com dsb. Resepsionis menerima dengan baik, memberikan informasi dan paket tour yang ada di Istanbul. Kami dapat kamar di lantai 4. Kamar berkarpet lama, namun bersih, AC Sentral. Kami istirahat sejam di sini sambil menikmati anggur murah (0,5TL~2100 Rupiah/kg) nan manis yang kami beli di pasar Selcuk kemarin sore.

Setelah Maghrib kami jalan lagi, naik tram dari Gulhane ke arah Kabatas, di sini top up Istanbulkart dan beli 3 roti yang berbeda termasuk 1 simit. Lanjut bus no 22 rute Kabatas-Istinye Dereici, turun  ke masjid Ortakoy melalui stadion Besiktas. Pemandangan masjid bergaya neo-Barok yang dibangun era sultan Abdulmecit 1 tahun 1854-1856 ini sangat cantik ditambah backgroundnya jembatan yang berlampu merah. Kami makan kumpir , yaitu kentang besar yang dibelah, diberi keju mozzarella dan diberi topping yang kita inginkan. Campur/mix juga boleh. Harganya 15 TL. Sejam di Ortakoy kami naik bus lagi ke arah Taksim. Di sini kami naik tram kuno, melalui pertokoan modern sepanjang lebih dari 1 km di jalan Istiklal caddesi, yang merupakan jalan utama untuk belanja di Istanbul dan juga kafe2 terkenal berada. Lalu jalan menurun melewati Galata Tower dan akhirnya tiba di tram Karakoy. Jalan jalan di Taksim, Istiklal dan Galata waktu malam agak menyeramkan, bukan karena hantu, tapi banyaknya orang berwajah kurang bersahabat yang lekat kehidupan malam serta beberapa bagian jalanan yang remang-remang. Sebaiknya ke sini siang saja. Kami juga menemukan tukang sol sepatu yang sengaja menjatuhkan sikat sepatu, kemudian minta uang (model SCAM yang pernah dibahas para traveller). Lalu kami pulang ke Gulhane. Jam 9 malam masih ramai orang memancing di jembatan Galata. Oh ya, untuk pilih bus kami terbantu sekali dengan aplikasi Android : Mobiett, yang merupakan dinas transportasi kota Istanbul.

Biaya hari ke-9 :

  • Kereta api Selcuk-Adnan Menderes = 2×5 TL= 10 TL =42k Rupiah
  • Turkish Airlines Izmir-Istanbul = 2*89 TL = 178 TL = 720k Rupiah
  • Bus SAW-Kadikoy = 2*4.3TL=8.6 TL = 36k Rupiah
  • Feri Kadikoy-Eminonu = 2*2.15=4.3 TL= 18k Rupiah
  • Tram Eminonu-Gulhane = 18k Rupiah
  • Tram Gulhane-Kabatas = 18k Rupiah
  • Bus Kabatas-Ortakoy = 18k Rupiah
  • Bus Ortakoy-Taksim = 18k Rupiah
  • Tram Istiklal = 18k Rupiah
  • Tram Karakoy-Gulhane = 18k Rupiah
  • Kumpir = 15TL (62k Rupiah)———————————————————————————————————————Total 968k Rupiah