Tag

, , , , , , , ,

Jumat, 4 Nopember 2016

Jam 5 pagi bus yang kami tumpangi tiba di Denizli, kota yang cukup besar di Turki dengan penduduk 525 ribu jiwa. Dari sini kami lanjut ke Pamukkale dengan shuttle Mercedes-Benz rekanan Suha Turizm, yg makan waktu sekitar 1/2 jam. Sempat mampir ke toilet pom bensin, yang pakai sensor tubuh, sempat panik karena ketika masih di dalam listrik mati. kami diturunkan di kantor Pamukkale Travel. Di sini ditawari berbagai paket tur. Bersama kami ada orang Jepang, China dan Korea. Subuh di Pamukkale jam 6.15, kami jalan kaki masjid Jamik yang berjarak 100 meter. Ternyata setelah adzan masih ada pengajian sebelum sholat, terpaksa Kami jamaah sendiri. Setelah sholat, balik lagi ke kantor travel. Jam 7.00 ada jemputan dari hotel Bellamaratimo tempat kami menginap. Setiba di hotel kami dipersilakan langsung check in, padahal jadwalnya jam 11.00. Mantap banget, berhubung semalam hanya tidur di bus, sekarang bisa tebus dengan tidur yang nyaman sebelum naik ke Travertin dan Hierapolis.

Hierapolis (Yunani Kuno: “Kota Suci”) adalah sebuah kota kuno yang terletak di sumber air panas di Frigia klasik di barat daya Anatolia. Reruntuhannya berdekatan dengan Pamukkale modern di Turki dan saat ini terdiri dari sebuah museum arkeologi yang ditunjuk sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Mata air panas telah digunakan sebagai spa sejak abad ke-2 SM, dengan banyak pengunjung pensiun atau meninggal di sana. Pekuburan besar penuh dengan sarkofagus, yang paling terkenal yang dari Marcus Aurelius Ammianos, yang mengenalkan mekanisme engkol dan batang. Bagian dari situs arkeologi dari Hierapolis dibangun dari blok batu besar tanpa menggunakan semen dan terdiri dari berbagai bagian tertutup atau terbuka termasuk mandi, perpustakaan, dan ruang olahraga. Sedangkan Travertine sendiri berarti batuan sedimen yang terbentuk dari endapan yang dibawa air dari mata air. Endapan ini sejenis kapur yang umum untuk membangun bangunan besar di zaman dahulu kala.

hierapolis

Peta Pamukkale dan Hierapolis

Setelah bangun tidur dan mandi, kami ke Travertine dan Hierapolis jam 12.45, jalan kaki mampir ke supermarket beli air mineral 1,5 liter dan jus buah, lalu sholat Jumat ke masjid Jamik di kota Pamukkale. Semua dalam jangkauan dalam jarak kurang dari 1 km, dengan jalan yang datar kadang menanjak. Sholat Jum’at seperti di Indonesia, adzan 2x, tapi Amin nya pelan. Meski ada khutbah dan sholat Jumat, kafe di depannya yang banyak orang lokal dan turis main semacam mahyong tetap asyik bermain. Mungkin itu cukup menggambarkan sekulernya Turki. Tapi yang sholat Jumat jauh lebih banyak dan terlihat lebih bersih, makmur dan berpendidikan. Usai sholat kami mampir ke warung depan masjid, makan pide/pizza keju dan minced serta minum ayran/yoghurt asin. Lalu jalan lagi melalui taman dan kolam samping Travertin dekat pintu Selatan. Kami masuk pakai museum pass, pada jam 2 siang.

Untuk memasuki Travertin, pengunjung harus lepas alas kaki karena ini adalah kapur putih yang masih akan terus bertambah. Jalan sejauh 1 km dengan beberapa kolam alami. Sesudah itu masuk bagian belakang Hierapolis yang berisi reruntuhan bangunan bersejarah. Di kedua tempat ini sangat menarik untuk ambil gambar dan duduk di kursi serta menikmati sejuknya hembusan angin di musim gugur, sambil membayangkan keadaan ratusan bahkan ribuan tahun lalu, betapa ramainya tempat ini, betapa orang di zaman dulu melihat panorama yang sama, gunung tinggi yang mengelilingi daerah ini. Kami jalan melalui jalanan reruntuhan. Selain museum terbuka ada lagi museum tertutup yang berisi koleksi patung yang relatif utuh dan benda-benda kecil seperti keramik, mahkota emas, mainan anak-anak, yang terlindung kaca. Di situ bayar lagi, tapi tercover kalau punya Museum pass. Jam 5.15 sore kami keluar melalui pintu Selatan lagi.