Tag

, , , ,

Rabu, 2 Nopember 2016

Setelah bangun jam satu malam, saya keasyikan internetan dengan WIFI hotel yang dahsyat kecepatannya. Setelah sholat subuh, tidur. Bangun lagi sudah hampir jam 8. Gagal kami melihat balon udara bertarif paling murah 14o Euro/orang atau 2,1 juta Rupiah yang ditawarkan penginapan untuk penerbangan satu jam tersebut. 

Hotel kami ini berada di Goreme, jantungnya Cappadocia. Cappadocia artinya tempat kuda cantik. Cappadocia sendiri terletak di pusat Anatolia, di jantung negara Turki. Bentang alam yang terdiri dari dataran tinggi lebih dari 1000 m di ketinggian yang ditembus oleh puncak gunung berapi, dengan Gunung Erciyes (Argaeus kuno) dekat Kayseri (Caesarea kuno) menjadi puncak tertinggi di ketinggian 3.916 m. Di selatan, Pegunungan Taurus membentuk batas dengan Kilikia dan Cappadocia terpisah dari Laut Mediterania. Ke barat, Cappadocia dibatasi oleh wilayah historis Likaonia ke barat daya, dan Galatia ke barat laut. Laut Hitam pantai berkisar Cappadocia terpisah dari Pontus dan Laut Hitam, sedangkan untuk Cappadocia timur dibatasi oleh sungai Efrat atas, sebelum sungai yang mengalir ke arah tenggara, ke Mesopotamia, dan dibatasi dataran tinggi Armenia. Karena lokasinya di pedalaman/tengah dan dataran tinggi, Cappadocia memiliki iklim benua, dengan musim panas yang kering panas dan musim dingin bersalju. Curah hujan jarang dan kawasan itu sebagian besar semi-arid.

Kami sarapan jam  9 pagi, dari balkon dekat dapur kami melihat ada 3 balon yang sedang mendarat, sempat diisengi Deniz bahwa semua tamu sudah sarapan dan sarapan sudah di bereskan. Gila saja, kan kemarin dia bilang sarapan jam 8-10. Ternyata berkelakar, kami dipersilakan duduk, dan mereka menyiapkan sarapan ala Turki. Manajemen penginapan Lisa, datang, menyambut kami dengan hangat, kelihatannya ia bule British merantau ke Turki. Tiba-tiba masuk pasangan turis Jepang yang berujar yang artinya kurang lebih” gila, beku menunggu balon udara terbang dari jam 6 sampai jam 8, tidak ada, dan ketika kami balik ke sini, bermunculan balon udara, hahaha”. Ya, pagi itu suhu udara -1 derajat Celsius. Sarapan lezat, dengan zaitun hitam, omelet, gozleme, desert buah campur yoghurt Turki, 4 macam selai dengan roti bertabur wijen yang hangat. Kami sempat dibantu berfoto oleh pasangan muda Turki (tadinya saya kira orang Denmark atau sekitarnya) yang sedang bulan madu. Di sini kami dapat penjelasan dari Lisa mengenai Goreme Open Air Museum, Sunset point, tempat makan yang enak, green dan red tour, serta menjawab pertanyaan kami mengenai lokasi farmer market, yang katanya jarang ada turis yang tertarik. Di situ kami bayar penginapan dan green tour untuk besok yang didiskon 20 TL/ orang karena kami sudah punya Turkey Museum Card yang kami beli di Istanbul kemarin. Ada beberapa museum dalam tur ini yang tercover oleh kartu museum.

Jam 10 kami ke Goreme Open Air Museum yang sudah buka. Tiket masuknya 30 TL (125k Rupiah). Perlu 15 menit berjalan kaki (1,7 km/1,2 mil) dari hotel. Melewati farmers market (tiap Rabu di Goreme, hari lain di kota lain), penyewaan ATV, salah satu tempat peluncuran balon udara, penyewaan kuda dan unta, sampai akhirnya tiba di museum. Goreme Open-Air Museum menyerupai sebuah kompleks biara besar terdiri dari sejumlah biara dengan masing-masing gerejanya. Dengan lukisan dinding yang indah yang warnanya masih mempertahankan semua kesegaran aslinya. Goreme Open Air Museum telah menjadi anggota dari Daftar Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1984, dan merupakan salah satu dari dua situs UNESCO pertama di Turki. Sebagian besar gereja di Goreme Open Air Museum dibuat di abad 10, 11 dan 12. Ada banyak gereja dan kapel di Goreme Open Air Museum tapi yang paling penting adalah: Nunnery, St.Barbara, Apple, Snake, Dark, Sandals dan Buckle. Kalau dilihat orang awam, sepintas tidak ada yang menarik dengan tempat ini. Disarankan bawa catatan sejarahnya, agar lebih menghayati arti tempat ini di zaman dahulu. Pemandangan dari sini sangat cantik. Pelajaran yang bisa kami ambil adalah manusia tidak ada yang abadi, ada masa kejayaan dan masa kepunahan. Museum ini mengingatkan hal itu.

Dari museum jam 1.30 siang, kami balik melalui rute yang sama dengan berangkat tadi, belok kiri ke downtown/pusat kota. Jalannya enak, ada trotoar yang cukup lebar, ada deretan kafe dan toko souvenir. Jalan terus sampai mescit camii (masjid Jamik), disini kami mampir, duduk-duduk di bawah gazebo pohon anggur yang sedang berbuah, dan tampaknya tak ada yang berminat pada anggur ini, karena tampak bekas buah anggur yang terinjak. Masjid yang terawat, ada teras tertutup di depan yang bisa untuk sholat di luar waktu sholat berjamaah, ada bacaan tentang Islam dalam bahasa Jepang, China, Rusia, Perancis, Spanyol, Jerman dll. Kami tak menemukan yang bahasa Inggris ataupun Indonesia. Di sini kami sholat.

Usai sholat, kami jalan ke terminal untuk beli tiket di agen bus yang berjejer. Diantara banyak agen bus, hanya Suha Turizm yang memanggil kami,” bus to Pamukkale, come here”, bapak tua ini seperti sudah tahu kami mau kemana besok. “Where are come from? Malaysia?, ” No, I come from Indonesia”. Si bapaknya langsung menepuk “ahlan wa sahlan bil khair”, haha, malah disambut pakai bahasa Arab, mungkin bapak ini melihat banyak orang Indonesia yang umrah/haji di Mekkah. Harga tiket per orang di counter untuk bis malam Suha Turizm ke Pamukkale adalah 55 TL, lebih murah daripada jika pesan lewat internet yang bertarif 60 TL.

tiket-suha-turizm

Usai beli tiket, kami menuju Safak cafe yang banyak direkomendasikan oleh turis di TripAdvisor. Dari terminal melewati taman mini yang bersih. Di kafe, kami disambut Safak pemilik kafe, kami pesan Adana Kebab 17 TL, kopi, teh Turki dan 3 potong Baklava. Enak dan unik. Belum pernah kami rasa 3 pesanan kami, kecuali teh Turki. Teh Turki seperti teh wangi, namun lebih pekat, yang kepekatan nya bisa kita atur sendiri. Gula di sini gula pasir dalam bentuk blok . Adana Kebab ini adalah potongan daging domba yang digoreng dan diletakkan di atas nasi atau kentang, ada campuran salad sayur dengan dressing lemon Turki yang segar. Kopinya mantap, pahit, tanpa gula. Baklava nya manis banget, pas dengan kopi.

adana-kebab-18-tl

Usai makan kami jalan kaki ke arah Sunset point yang aksesnya ada di samping masjid Jamik tadi. Jalan menanjak dengan hotel-hotel gua (cave hotel) di sekitarnya. Pemandangan yang indah. Bersama kami ada foto pre wedding dan turis asal India yang juga ke sini. Hari berangsur gelap, dan kami balik melalui farmer market yang sedang beres-beres dagangan/mau tutup. Kami ambil 7 buah jeruk dan 2 buah delima, penjual hanya minta 1.5 TL (6 ribu Rupiah). Murahnya kebangetan.

Karena lelah seharian jalan kaki, usai sholat Isya kami tertidur lelap. Sampai akhirnya saya terbangun jam 12 malam karena mendengar pasangan Turki yang kamarnya disebelah kami bertengkar, saya tidak mengerti bahasanya, tapi kira-kira si istri cemburu pada suaminya. Tidur lagi.