Tag

, , , , , , ,

Senin, 31 Oktober 2016

Ini adalah perjalanan terjauh kami ke arah barat, yang sebelumnya sampai ke Arab Saudi. Keinginan ke Turki termotivasi cerita pendamping umrah (muthowif) dan cerita teman-teman yang pernah ke Turki. Kami naik pesawat Qatar Airways yang tiketnya sudah kami beli sejak Januari 2016, dimana saat itu ada promo diskon 40℅. Di bulan September 2016 kemarin ada promo yang lebih dahsyat, diskon 50% tapi tak kami ambil. Qatar Airways dan maskapai Timur Tengah yang lain (Etihad, Emirates, Air Jordania, Saudia) tampak sering kasih promo tahun ini mungkin karena harga minyak sebagai biaya terbesar telah jatuh lebih dari 65% dari harga 120 an USD/barrel, hingga sekitar 40 USD/barrel saat ini.

Keberangkatan dari KLIA pada pukul 2 dinihari. Sebagai antisipasi kami sudah check-in online 48 jam sebelumnya saat di Bandung, sekalian cetak tanda bagasi. Jatah bagasi Qatar Airways adalah 30 kg/orang + tas kabin 7 kg. Proses penyerahan bagasinya cepat. Kemudian pengecekan paspor juga cepat. Kami menunggu di ruang tunggu C34. Bersama kami banyak yang baru pulang GP Sepang 2016.

Kami naik pesawat Qatar Airways tipe Boeing 787 Dreamliner yang sangat modern. Ini juga pertama kalinya kami naik pesawat jenis ini. Seperti Boeing 737-800 yang kemarin kami naiki kemarin (Malindo Air) dan pesawat domestik ( Lion & Garuda), di bagian atap pesawat pencahayaan nya bisa diatur (mood light). Namun di Dreamliner ini jendelanya tanpa tutup, bisa di setel terang gelapnya menggunakan tombol di bawah jendela. Hiburannya juga banyak, selain audio video yang padat dan update isinya, ada juga majalah Qatar yang tipis dan majalah belanja yang tebal. Sepanjang perjalanan kami gunakan untuk istirahat, kebetulan audio video di depan saya error, cuma muncul gambar demo safety, dan pengumuman dari awak kapal.Kami juga menikmati snack dan hidangan sarapan dengan pilihan menu omelette atau bubur lauk ikan, dengan pilihan minum teh atau kopi.

Jam 4 pagi waktu Qatar kami mendarat di Hamad Internasional Airport. Kami sholat subuh dan aktivitas pagi. Lalu ke ruang tunggu tepatnya ke seberang depan boneka besar untuk mendaftarkan diri mengikuti tour gratis Qatar. Kami yang antri jam 5.45 atau 15 menit sebelum buka counter, tidak kebagian tur jam 8. Tur jam lain tidak memungkinkan karena pukul 12.10 harus sudah boarding. Kami habiskan waktu dengan tidur, baca baca, browsing internet di ruang TV samping family room. Bandara ini memberikan free WIFI ke pengunjung tanpa proses yang berbelit.

Sebelum ke ruang tunggu kami sholat Dzuhur jamak dengan Ashar. Musholanya bagus. Jam 1 tepat kami berangkat lagi. Oh ya, WIFI di Hamad Airport bagus dan kencang. Ditambah lagi banyak colokan buat charge gadget yang sebagian berfungsi dan sebagian cuma pajangan.

Perjalanan ke Istanbul ini menggunakan pesawat Airbus 330-200 yang berformasi kursi 2-4-2, kami kebagian kursi 2 kiri, yang memungkinkan kami melihat sunset dan wilayah Yunani di barat Turki. Pesawat lebih lama dari Dreamliner, tetapi masih bagus dan berfungsi dengan baik AVOD nya. Menu makan siang ini dengan pilihan Beef dan ayam, dengan minum jus jeruk, jus tomat, jus apel atau wine. Ada juga kopi dan teh. Saya pilih beef, istri pilih ayam. Minum semua kecuali wine. Pendampingnya hummush, orange cheese cake, roti gandum dengan olesan keju, butter dan selai strawberry. Ada juga cokelat batang kecil yang kandungan coklatnya 37%. Enak sekali, lebih dari waktu berangkat dari Kuala Lumpur. Mungkin karena ini berangkat dari Doha, base mereka, pakai katering mereka sendiri. Sedangkan dari KL pakai katering lain.

Pukul 16.50 kami tiba di Ataturk Airport Istanbul, masuk imigrasi yang antriannya mengular, mirip antrian imigrasi LCCT KL yang sudah ditutup sejak 2014, lalu menuju pengambilan bagasi. Kelihatan ketinggalan zaman bandara ini, dan kabarnya sedang dibangun bandara baru yang lebih modern selain bandara ini dan Sabiha Gokcen yang ada di wilayah Asia. Setelah bagasi langsung keluar pintu pertama bandara, kami belok kanan ke arah mesin ATM HSBC untuk tarik tunai dengan kartu ATM paspor BCA. Kurs nya 4188 Rupiah/ Lira Turki (lihat di internet banking sesudah transaksi) ternyata lebih bagus daripada rata-rata kurs hari itu yang 4191 Rupiah/Lira Turki. Setelah pintu keluar kedua kamu tanya ke petugas bandara dimana stasiun metro. Ternyata lurus saja Di depan bis Havatas. Turun ke bawah, ada mesin pembelian token maupun pembelian Istanbulkart. Bingung awalnya, setelah dibantu petugas penjaga pintu masuk, akhirnya bisa dapat juga kartu Istanbulkart dengan uang 20 Lira, yang isinya 14 Lira, sedangkan 6 Lira adalah harga kartunya. sesudah itu kami bisa isi sendiri buat perkiraan penggunaan beberapa hari ke depan. Kami naik Metro M1a turun di stasiun Zeytinburu, berpindah ke tram, melalui beberapa stasiun, lalu setiba di halte Sultanahmet kami turun. Hotel Esra Petrol yang jadi tempat kami menginap persis berada di seberang halte,dan saat kami tiba petugasnya dengan benar menebak nama saya. Kami dikasih kamar 104 yang ternyata menghadap persis Blue Mosque dan deretan tugu peninggalan kuno. Fasilitas kamarnya bagus dan luas, meski resepsionis nya sempit.

Kesan pertama mengenai Turki, tak se detil dan disiplin Jepang atau Singapura, tetapi saat ini lebih maju dan teratur daripada Indonesia.

Biaya hari ke 3 :

  • Qatar Airways KL-Doha-Istanbul = 2xRp2,9 jt = Rp 5,8 jt
  • Istanbulkart = 6 TL = 25k Rupiah
  • Metro Ataturk-Zeytinburnu = 2*2.15 TL=4.3 TL (18k Rupiah)
  • Tram Zeytinburnu-Sultanahmet = 18k Rupiah
  • Bayar hotel Esra Sultan = 69 TL = Rp 280 k———————————————————————————————————Total Rp 6,141 juta