Tag

, ,

Tadi malam saya nonton film tersebut di Blitz Megaplex. Pilihan studio nya yang 3D. Begitu masuk ke ruang studio, ada kacamata 3D yang disediakan.
Filmnya sendiri berawal dari kelompok Avengers yang melawan teroris di Lagos Nigeria, bom musuh hampir membunuh Captain Amerika, namun diselamatkan oleh Avenger yg lain, penyelamatan ini menyebabkan korban puluhan jiwa.
Maka dari itu Avenger mau ditarik, untuk perdamaian dunia. Saat raja dari Afrika berpidato perdamaian ini di kantor PBB di Wina Austria, bom meledak, dan terekam pelakunya. Anak sang raja menuntut balas Dengan mengejar pelakunya. Nah di sini lah konflik antar Avenger terjadi. Captain Amerika dan sekutunya melawan Stark dan sekutunya. Captain Amerika meyakini orang yg dituduh pem bom ini bukan pelaku sebenarnya. Sedangkan putra mahkota Afrika dan Stark percaya orang itu adalah pelaku yg harus ditangkap.
Aksi kejar-kejaran dan perkelahian yang seru terjadi, ditambah adanya Avenger Spiderman remaja serta Tic Tac manusia semut turut menambah keseruan pertempuran di bandara Berlin, Jerman. Dan terakhir pertempuran di Siberia, Rusia yang membeku. Di sini ketahuan otak di balik semua kejadian ini adalah prajurit Sokovia yang dendam karena semua keluarganya tewas dalam aksi Avenger terdahulu.
Pesan film ini cukup jelas, dendam dan pembalasan menyebabkan dendam dan pembalasan berikutnya, berdamai dengan sakit hati adalah solusi untuk menghentikan peperangan. Cukup menarik jika di bandingkan film heroik yang sebelumnya, di film ini minim adegan dewasa, hanya sekali ada adegan ciuman. Mengenai jalan cerita, kurang menarik. Tapi bagi penggemar game atau perkelahian, mungkin sangat menarik. Perkelahian antar Avenger juga serasa seperti orang yang bertanding di bela diri, karena mereka saling mengenal sebelumnya, dan tidak ada nafsu membunuh.
Di luar isi film ada plus minus nonton di Blitz Megaplex
Minus : -3D nya tidak maksimal, tulisan terjemahannya cukup mengganggu karena tidak 3D
-layar tak selebar XXI
-terkesan agak murahan, meriah seperti Broadway tapi ya begitulah
-kursi kecil, tidak seperti XXI yg kursinya relatif besar
Plus:
-sering ada promosi kerjasama dengan  Bank, provider telekomunikasi, supermarket.
-bisa pesan online via aplikasi nya atau lewat aplikasi gojek. Ini memudahkan sehingga menghindari antrian.
Meski tak sebagus XXI, tapi dengan kemudahan pemesanan tiket di Blitz, bisa menarik penonton XXI pindah ke Blitz. Tapi jika XXI segera bertindak dengan mempermudah pemesanan, mungkin pelanggannya akan loyal, mengingat layar nya lebih lebar, kursi nya lebih nyaman, dan suaranya lebih mantap.