Tag

, , , ,

Kemarin malam tak sengaja di buku obral nya Gramedia Merdeka Bandung ada tumpukan buku 10-15 ribuan, salah satu diantaranya buku After Orchard karya Margareta Astaman yang diterbitkan Kompas Gramedia tahun 2010. Buku yang sudah lama saya incar, sempat terlupakan, dan ketemu kembali kemarin itu berisi kisah penulis selaku lulusan SMA di Indonesia yang juga tim olimpiade Indonesia yang melanjutkan kuliah di Nanyang Technology University (NTU).

Buku setebal 193 halaman dan terdiri dari 4 bab ini dicetak di kertas buram, namun dengan bahasa yang santai namun serius itu membuat buku ini enak di baca.

Begini overview isi saya dari bab 1 sampai 4

Bab 1 : Kampusku sayang, kampusku…

Penulis memasuki kuliah di NTU dengan sejuta harapan, kenyamanan seperti turis yang ia rasakan selama 3 hari 2 malam beberapa tahun sebelumnya. Ternyata untuk tinggal di kampus perlu perjuangan, perlu mengikuti ekstrakulikuler supaya tidak ditendang dari asrama. Pernah ia ditendang dan menyelundup di asrama temannya, saking sempit tidur pun sambil duduk. Ketahuan, temannya kena hukuman karena menyelundupkan orang. Mau tinggal di luar juga sulit, karena 20 menit jalan kaki dan sewanya yang mahal. Belum lagi di sana semuanya berorientasi nilai, 4-5 hari seminggu selalu begadang mengingat selalu ada tugas. Dan mereka umumnya ketakutan dengan dosen tugas akhir, biasa umpatan “dasar mahasiswa bodoh” keluar dari dosen di sana.

Bab 2 : Bisik-bisik Singapura

Karena tekanan hidup yang tinggi, sering orang yang tinggal di sana bunuh diri, namun pemerintah juga tak mau kalah, setiap pelaku bunuh diri kena denda 5000 SGD jika hidup, jika mati keluarganya yang menanggung. Tekanan tinggi dimulai sejak anak TK yang berangkat jam 5.30 pagi saat subuh (belum kelihatan matahari).  Mengenai pengobatan di Singapura semua nya text book (berdasar buku panduan), bukan kreativitas dokter, sehingga biayanya tidak mahal menurut ukuran sana, namun karena text book-prosedural jadinya tidak bisa cepat sembuh. Penulis yang muntah2 karena pernah hepatitis A, diduga sakit maag kemudian diduga hamil. Karena ingin cepat sembuh, dia cek laboratorium di Singapura kemudian minta rekomendasi dokter di Jakarta, baru berobat lagi di Singapura, supaya cepat teratasi. Orang Singapura juga banyak yang individualis dan cuek terhadap orang lain, suka membentak dst, mereka sering frustasi dengan pelampiasan beli barang mahal yang kadang menghabiskan uang mereka. Ketika ada ancaman teroris mereka luar biasa panic berhari-hari.

Bab 3 : Romancing Singapore

Banyak bangku dan kolam renang di kampus yang kosong karena kesibukan mahasiswa dengan kuliahnya, tukang bersih asrama juga sangat cerewet soal hemat energy dan tak segan memarahi mahasiswa yang baca Koran sambil nonton TV. Semua kenyamanan dan fasilitas diberikan pada anak muda Singapura, membuat mereka tidak tangguh di luar akademis, mayoritas menyatakan akan lari dari Singapura jika ada perang, meski mereka sudah ikut wajib militer. Pertumbuhan penduduk yang rendah membuat kampus mencampur asrama cowok dan cewek, muncul istilah asrama sebagai “baby factory”. Tingkat kompetisi yang tinggi membuat mahasiswa tidak mau rugi-kiasu-menjadi nomor satu dimanapun. Masing2 sibuk dengan urusannya dan penulis memperhatikan ada satu kamar di apartemen di seberang yang dihuni bapak2 yang merenung tiap malam, mungkin kesepian karena rutinitas kerja di Singapura yang sampai jam 9 malam pun baru pulang kerja. Dan suatu hari orang itu pergi, mungkin kembali pada keluarga di kampong halamannya.

Bab 4 : Lebih Singapur dari Singapur

Ini bab pamungkas, banyak bercerita tentang menjelang dan pasca lulus kuliah. Setelah 4 tahun mengalami penderitaan, merubah karakter menjadi lebih tangguh dan mandiri, kompetitif daripada orang lain. Namun jengah melihat kesantaian rekan sekerja ketika bertugas kembali di tanah air. Banyak lulusan Singapura yang bercita2 bekerja di sekitar Raffles Place dengan taman-tamannya yang hijau. Karena sibuknya mereka bekerja sehingga tidak bisa menikmati semua fasilitas yang ada. Saat selesai kuliah juga ada pesan dari Menlu Singapura untuk menjaga rahasia terutama mengenai relasi antar ras. Semua penderitaan ujungnya memberikan ketangguhan dan kesempatan yang lebih besar untuk mendapat kompensasi yang tinggi. Dan jenakanya penulis yang masuk tim olimpiade matematika Indonesia ini namun di Singapura “hanya” diterima di jurusan jurnalistik karena kurang lancer berbahasa Inggris, membuat hitungan/simulasi berapa bulan lulusan universitas di Indonesia dan Singapura dapat membayar uang muka rumah dari gaji mereka, ternyata sama, sekitar 46 bulan. Tentu dengan gaji dan harga rumah di masing-masing negara.

Buku ini saya rasa cukup menggambarkan kompetitifnya Singapura, terlepas dengan esktrimnya perjuangan hidup di sana, sehingga mereka tetap eksis bahkan termaju meski tidak punya sumberdaya alam yang memadai. Keterbatasan itulah yang membuat mereka membangun sumberdaya manusia yang kompetitif dalam system yang teratur.