Tiga hari lagi sudah tahun 2016, tahun baru dan sekaligus menandai diawalinya MEA-Masyarakat Ekonomi ASEAN, yang dalam bahasa Inggrisnya AEC-ASEAN Economic Community.
Berbeda dengan MEE-Masyarakat Ekonomi Eropa, di MEA ini tidak terjadi penyatuan mata uang, tidak ada visa bersama-Schengen dll.
Meski begitu ada tantangan semakin bebasnya keluar masuk antar negara ASEAN di produk, jasa, dan tenaga kerja. Sebelum berlaku MEA  sebenarnya Indonesia sudah jadi tempat investasi negara ASEAN lain seperti contoh nya di perbankan (CIMB, Maybank, UOB, OCBC), jasa (Grab Taxi/Bike), transportasi (AirAsia), pangan (Charoen Pokphand) dll. Indonesia sangat menggiurkan bagi asing karena 38% populasi ASEAN dan 36% GDP ada di Indonesia. Yang baru dalam MEA adalah bebas nya arus tenaga kerja, dari sini akan terlihat kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), semakin bagus, semakin mudah menjangkau tempat lain. Seperti yang kita lihat, bahwa expat dari Filipina sangat banyak tersebar di dunia baik formal maupun nonformal, bukan karena lebih pintar, tapi karena kemampuan Bahasa Inggrisnya. Dan yang kompetisinya ketat seperti Singapura, kemungkinan akan lebih bisa bersaing. Hanya saja, apakah mereka tertarik masuk ke negara2 yang upahnya rendah? Apakah malah tidak tertarik ke negara yang upahnya lebih tinggi seperti saat ini?