Tag

,

Di sela jalan-jalan, boleh dong tengok dan review investasi kita.
Nah terkait dengan itu, Jumat lalu 18 Desember 2015 bertempat di Plaza Mandiri Jl Sudirman Jakarta diadakan gathering alias kopi darat nasabah Mandiri Sekuritas.
Untuk ke lokasi sangat mudah, dari Bandung ada shuttle Daytrans dari Dipatiukur, bisa turun di FX Senayan atau main dulu ke mall Senayan City seperti yang saya lakukan.
Dari Senayan City ke lokasi bisa jalan kaki sejauh 1,6 km lewat trotoar sepanjang jalan Sudirman yang lebar dan lumayan nyaman, atau naik taksi atau naik gojek 15 ribu (tapi memutar sejauh 4,5 km karena ada pekerjaan MRT).
Sholat Jumat juga bisa dilakukan di masjid An Nur komplek Plaza Mandiri. Untuk masuk ada pintu akses otomatis yang bisa diakses dengan menukar KTP dengan kartu akses.
Yang hadir kebanyakan orang yang menjelang pensiun dan mapan, namun masih belum lama jadi investor saham. Istilahnya old & rich but beginner in share investment.
Bahasan kopdar kali ini adalah prospek ekonomi Indonesia tahun 2016 dan analisis fundamental serta teknikal sahamnya.
Mirip yang diceritakan Pak Marthin Panggabean, ekonom sekaligus pengajar di SBM ITB, analis dari Mandiri Sekuritas juga menyampaikan hal yang serupa, yaitu pertumbuhan ekonomi 2015 adalah terendah dalam 10 tahun terakhir, yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi Tiongkok dan dunia yang juga melambat.
Kenaikan Federal Rate juga menjadi isu, kebalikannya di beberapa negara termasuk Indonesia kemungkinan malah akan menurunkan SBI rate karena inflasi yang lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi sekalipun terendah dalam 10 tahun.
Untuk memperkirakan apakah bursa akan naik kita perlu perhatikan fundamental ekonomi Indonesia, di Q4 untuk jasa konstruksi biasanya sudah dibayar, sehingga saham kontruksi biasanya naik, namun aktualnya saat ini belum. Untuk tahun depan anggaran desa dan beberapa lainnya sudah dianggarkan, sedangkan untuk konstruksi pakai sisa pajak. Berkaca tahun 2015, target pemerintah 85% rencana pemasukan pajak tercapai, namun optimisnya 77% saja.
Beberapa saham yang dipandang prospektif dilihat dari rasio mereka terhadap perusahaan lain yang satu sektor antara lain : WSKT, ADHI, BBRI, BMRI, HMSP, Gudang Garam. Sedangkan Unilever sebagai mature company sudah terlalu tinggi harganya sehingga yieldnya kemungkinan tidak besar.
ASII masih stagnan, otomotif belum naik, sawit terpengaruh elnino, anak perusahaannya UNTR terimbas harga batubara yang jatuh.
PGAS belum direkomendasikan beli karena meski investor asing sangat minat invest di Indonesia, namun infrastruktur bahan bakar yang murah seperti gas belum tersedia dg merata
KLBF bahan baku impor dalam USD sedangkan pemasukan dalam IDR, adanya BPJS kesehatan menekan produk KLBF yang cenderung premium, yang naik hanya produk susu.
Kimia Farma bergantung BPJS, cashflow kurang bagus, kasus obat dipakai Februari, baru dibayar Desember.
WIKA dan PTPP lagi cari tambahan dana dari pemerintah, namun belum disetujui DPR.
MIKA- Mitra Keluarga, saham rumah sakit melihat trend 3-5 tahun ke depan orang sakit akan meningkat karena gaya hidup yang tidak sehat.
BBCA harganya sudah paling mahal dibanding yang lain. Yang paling prospek adalah BBRI yang paling bisa menjaga margin dari kredit UMKM.
Windows dressing akhir tahun kemungkinan tidak terjadi, mungkin bergeser menjadi January effect.