Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Selasa, 18 Agustus 2015

Semalam kami bisa tidur dengan nyenyak. Dan hari ini kami mulai perjalanan jam 8 pagi. Setelah sebelumnya ada karipap, hari ini ada kelepon yang mereka sebut onde onde. Kami juga bikin kopi dan mengisi botol air untuk jalan-jalan.

onde2 melaka dan kopi

onde2 melaka dan kopi

Kami mulai perjalanan hari ini dengan sarapan di kedai Noor Al Banjary, yang pemiliknya merupakan keturunan Banjar Kalimantan. Beliau adalah keturunan kedua yang menjadi warga negara Malaysia. Masakan beliau enak dipengaruhi rasa melayu dan india, saya dan adik makan ayam goreng renyah, sedangkan istri makan sotong. Beliau juga baru pulang melancong ke Bandung. Mengambil makannya self service/ambil sendiri, kemudian dihitung. Kami bertiga makan minum kenyang total 19.5 Ringgit, lumayan terjangkau.3 sarapan

Usai sarapan kami menyusuri sungai Malaka yang kelihatan jelas di siang hari. Dimulai dari jembatan pasar, kampung jawa (disini ada madrasah dan warung halal yang ramai-kami tak sempat mencicipi), kampung india, gereja st francis, deretan kafe, baru kemudian area bangunan merah. Warna air sungainya sendiri hijau kecoklatan menandakan banyak organik dan lumut di sana. Namun bersih tanpa sedikitpun sampah. Ada pegawai yang rutin menyiram dan merawat bunga dan fasilitas yang ada. Kami juga temui ikan sepat sedang antri makanan dari saluran pembuangan. Unik. Kemudian kami melintasi beberapa hotel mewah dan hotel sederhana sepanjang pinggir sungai. Sungguh menyenangkan hati melintasi pinggir sungai melaka nan asri.

3 enak buat jalan 3 gereja st francis 3 pinggir sungai melaka

?????????????

ikan sepat malaka

?????????????

sungai malaka

Di bangunan merah kami kembali berfoto, mampir foto di taman dan kincir angin yang dibangun pemerintah Belanda tahun 1950 sebagai tanda pernah berkuasa di sini3 kincir angin dan mampir di gedung informasi pariwisata yang banyak menyediakan buku panduan dan poster gratis. lengkap sekali. Dari situ kami lanjut jalan kaki ke musium samudera, melalui kincir air kesultanan (rekonstruksi), jetty melaka river cruise dan tepian sungai malaka dengan pemandangan hotel casa del rio yang berdiri gagah. 3 casa del rioDi pinggir sungai ini ada penjual air es mata kucing dan air kelapa segar seharga 2 Ringgit. Segar dan enak rasanya. Di museum samudera yang berupa kapal zaman dulu-model kapal Portugis “Flor de Lamar” yang kandas di sungai Melaka- kami tak masuk, hanya ambil foto di luar. Setelah itu kami jalan lagi ke deretan museum melalui medan selera (foodcourt) dan pasar. Kami mampir dulu ke playground untuk main seluncuran sambil nonton becak hias yang sedang mengangkut penumpang diiringi lagu2 meriah. Kami lanjut ke arah patung sapi yang dibelakangnya ada rongsokan kapal terbang dan gerbong kereta api yang berfungsi sebagai toko souvenir.3 a famosa

?????????????

a famosa

?????????????

dataran merdeka

3 masa kecil kurang bahagia 3 museum samudera 3 tourism malaysia

Dari situ kami naik ke bukit dimana ada patung Fransiscus Xaverius yang dalam posisi bersyukur setelah selamat dan hampir tewas ditangan orang-orang di laut china selatan. Reruntuhan gereja St Paul namanya. Ada juga nisan bertulis yang bersandar di dinding gereja. Ada kesan angker tapi ramai pengunjung. Dari tempat ini yang dibangun Portugis tahun 1521, kemudian menjadi benteng 1567-1596 kami bisa mengambil gambar seluruh Malaka, dan pantas saja dulu dijadikan pusat mata-mata Portugis, Belanda dan sempat dilupakan ketika jaman Inggris. Oleh Belanda pun tempat ini pernah menjadi tempat menyimpan peluru untuk menyerang Jawa, begitu keterangan yang ada di prasasti bangunan ini.

Kemudian kami turun ke benteng A Famosa peninggalan Portugis yang dibangun Alfonso de Albuquerque di tahn 1512, abad ke 17 dikuasai Belanda dan akhirnya Inggris, sempat akan diratakan dengan tanah namun dicegah Sir Stamford Raffles dan dibiarkan hingga seperti sekarang. Disebelahnya ada museum replika istana kesultanan Malaka yang zaman sultan Mansur Syah (1456-1477). Museum ini sedang tutup. Kami juga beli aneka minuman di vending machine seharga 2 Ringgit/kaleng. Dari situ kami melangkah ke Museum Proklamasi Kemerdekaan yang bertulis tiket percuma. Bapak yang ada di pintu masuk mempersilakan kami masuk dan bilang percuma. Di dalamnya berisi sejarah Malaysia, mulai jaman Sriwijaya dan Majapahit, Portugis, Belanda, Inggris, pembentukan persekutuan tanah melayu, kemerdekaan, pemberontakan komunis, rujuk pasca konfrontasi dengan Indonesia, hingga zaman modern sekarang. Semua ditampilkan dengan baik dan indah. Meski museum daerah dan gratis tapi dikelola profesional.

3 diorama museum kemerdekaan 3 rujuk

Keluar museum sudah jam 12.30, saat nya makan siang. kami ke mal Dataran Pahlawan mencari KFC, makanan murah meriah di Malaysia. Kami beli paket jimat/hemat seharga 6.9 Ringgit yang berisi ayam goreng, nasi lemak, kentang tumbuk, sambal dan minuman soda pepsi. Lumayan. Kami betah di sini dan baru beranjak jam 13.30 untuk mencari surau di mall terbesar di bagian selatan semenanjung malaya ini. Setelah 15 menit mencari, akhirnya ketemu surau di basement melalui semacam pasar yang menjual produk UKM. Lebih ramai yang jualan daripada yang beli. Kabarnya mall ini sangat ramai di akhir pekan. Ada 800 toko ritel dan ada kapsul waktu The Vision 2020 yang berisi rencana Malaysia menjadi negara maju di tahun 2020.  Mal ini berdampingan dengan mal lain seperti Pahlawan megamall, terminal pahlawan dan mahkota parade, berhadapan dengan area bersejarah yang sudah disebut di atas. Ada juga hotel Hatten dan Fenix Inn yang berdekatan.

Usai sholat kami jalan lagi menuju musium setem/prangko yang sempat kami lewati tadi. tiket masuknya 3 Ringgit, naik dari 2 Ringgit bulan lalu. Koleksinya bermacam-macam, mulai sumbangan tokoh setempat, prangko zaman Inggris, zaman kerajaan (Pahang, Kelantan, Terengganu dll), zaman persekutuan hingga zaman kemerdekaan. Ada juga sampul hari pertama Malaka Jogja yang menampilkan masjid kampung hulu berarsitektur jawa (masjid tertua kedua di Malaysia). Usai dari Museum kami kembali ke arah taman kota yang rindang. Terlihat tanda warung ayam bakar wong solo persis di seberang dataran pahlawan mal. Hebat ya, ekspansi sampai sini.

enak

enak

3 koleksiku jaman sd 3 mal dataran pahlawan dan hotel hatten 3 masjid kampung hulu

?????????????

mural

3 museum setem 3 taman merdeka yang sejuk3 ada ayam bakar wong solo

Kami terus berjalan ke arah pantai, namun terhenti di depan hotel Holiday Inn karena kendaraan yang berlalu lalang dengan kencang, kami tak menemukan tempat penyeberangan plus hari yang sangat panas menyengat. Kami balik saja ke arah menara Tamingsari, menara setinggi 110 meter ini menawarkan pemandangan 360 derajat kota Melaka, beli es krim milo, makan di bawah pohon rindang, lalu jalan lagi melalui museum samudera, museum angkatan laut, foto di murah pinggir sungai, foto dekat dinding hard rock cafe dan kami tiba kembali di hotel sudah jam 3 sore untuk istirahat.

Jam 6 sore kami bangun, mandi, sholat maghrib dan bersiap menjelajah alias mencari tempat makan malam yang paling populer di kota Malaka, yaitu ayam tandoori pak Putra. Jam 7.30 setelah maghrib kami berangkat. Selain tandoori masih banyak menu lain yang dijual, tapi menu inilah yang paling dicari. Kami pesan ayam tandoori, dengan 2 naan cheese dan 1 nasi briyani. Antrian sangat panjang, jeda antara kami datang, pesan, hingga pesanan datang sekitar 45 menit. Jam 8.45 kami baru bisa menikmati makanan terenak di kota ini. Tak hanya orang India, orang China, Barat dan Melayu pun terlihat sangat menikmati makan di sini. Dan memang enak, naan kejunya lumer dan terasa tebal. Ayam tandoori nya juga meresap. Nasi briyani sepiring besar pun habis dimakan sendiri saking enaknya. Coba saja sendiri untuk membuktikannya. Jam 9.30 kami selesai makan dan membayar 39.5 Ringgit sesuai tagihan. Agak mahal, tapi kami puas dengan kelezatan makanan ini. Oh ya tandoori, naan dan briyani ini adalah makanan khas India utara muslim.pak putra

3 dapur pak putra 3 makan bertiga 39 ringgit enak banget 3 segar sekali minuman ini3 ramainya warung pak putra