Tag

Penasaran dengan namanya yang terkenal, malam ini kami ke Gudeg Pawon yang tak jauh dari rumah mertua- 2 km seiring dengan adanya teman bisnis istri yang lagi melancong ke Yogyakarta bersama keluarga besarnya.
Nama gudeg ini sudah terkenal sejak lama, baik melalui blog, koran, maupun buku panduan kuliner, serta cerita sanak saudara yang sudah pernah ke sana. Beberapa kali ke sana menyerah, karena kemalaman, menu sudah habis, atau ngeper lihat mobil parkir memenuhi jalan sepanjang jalan terdekat warung.
Kebetulan teman bisnis istri sudah standby sejam sebelumnya, sehingga saat kami tiba pukul 21.25 tak perlu lama menunggu, karena jam 21.30 warung baru dibuka.
Saya tak membahas sejarahnya, karena mungkin sudah banyak yang membahasnya. Namun saya disini ingin membahas rasanya.
Dalam Indra perasaku, gudeg ini di atas rata2, baik rasa maupun harga. Namun masih sepadan. Aromanya ayamnya harum panggangan-mirip ayam lodho/ayam percik, berkuah seperti kuah padang, namun rasanya ringan. Plus kulit sapi pedas dan gudeg manis. Ngeblend. Semua orang rumah bilang enak. Sembilan porsi 215 ribu berisi ayam hitam (cemani), kulit sapi dan gudeg serta nasi.
Dalam menanti makanan juga tersedia minuman teh lemon 3 ribuan. Sila mencoba

image