Tag

Ini adalah pengalaman pertama pindah tempat tinggal dan meninggalkan semua kenyamanan sebagai karyawan tetap di perusahaan tambang yang memberi gaji 10x UMR demi mengejar salah satu cita-cita hidup saya. Untuk pindah tempat tinggal kami hanya punya waktu 5 hari (9-13 Februari 2015), 2 hari di rumah di kota, 2 Hari di kontrakan dekat tempat kerja, dan 1 hari finishing pindah rumah di kota dan balik ke kota tujuan.
Dua hari di kota Banjarbaru kami manfaatkan untuk mengepak barang-barang yang akan kami kirim via kargo Garuda dan kami muat bersama mobil yang akan kami kirim via laut ke Bandung transit Tanjung Priok. Untuk memindah barang di rumah yang sudah mulai diisi sejak 7 tahun silam, rasanya tak cukup 2 Hari, akhirnya kami fokus bawa baju dan pernik2 rumah saja yang kami bawa. Isi rumah saya tinggal, dan akan saya titipkan ke yang menyewa rumah (jika ada). Dari sini ada 8 koli yang kami kirim via Garuda ke Yogya. Dan 3 koli masuk ke mobil. Cukup melelahkan namun selesai dalam waktu 1,5 hari. Sisanya kami pakai untuk urusan ke bank dan perjalanan ke site dimana kami tinggal.
Sampai di site sudah maghrib, kami packing dan tertegun, barang sebanyak ini bagaimana mengeluarkannya supaya bisa kami kembalikan ke pemilik kontrakan bersih seperti sediakala. Karena saking lelahnya, kami tertidur. Namun sebelum tidur kami sounding ke teman2 barangkali berminat. Saat tertidur, banyak yang respon dan berminat, karena ternyata sudah mengincar inventaris kami sejak 3 minggu sebelum saya resign, .
Paginya satu persatu datang dan bayar dan mengambil barangnya. Untuk kulkas Toshiba saya hargai 500 ribu, atau 1/3 dari harga baru, lumayan karena di pembukuan sudah saya nilai 0 karena sudah 5 tahun saya pakai, rak beserta piring dan alat masak, meja makan, kompor, regulator dan tabung gas, meja TV, lemari sepatu, dispenser dan calonnya,semua kami jual rata2 1/3 harga beli. Untuk spring bed, lemari pink dan lemari kayu kami berikan ke pasutri sahabat kami sejak pertama kontrak yang kebetulan kurang seberuntung kami dalam pendapatan. Lumayan kami sama2 puas, mereka dapat inventaris murah meriah, kami dapat tambahan uang untuk pindah. Alhamdulillah dalam sehari habis barang kami, sampai sampai kami diminta sama sahabat yang kami kasih springbed untuk tidur di rumahnya, mengingat springbed sudah berpindah ke rumahnya. Kami tolak secara halus, karena kami coba nikmati kontrakan kosong dan tidur berbekal tikar batik dan bantal dengan ditemani sajadah, obat nyamuk elektrik, dispenser dan galon. So simple. Saking lelahnya kami tertidur lelap dan bangun dengan badan yang segar bugar. Kaget juga karena mendapati kamar sudah kosong melompong, akhirnya kami sadari bahwa kemarin sudah kami jual dan kasihkan ke orang2 yang membutuhkan.
Usai sholat subuh dan mandi kami dapat sms untuk mampir dan sarapan di rumah sahabat yang kami beri springbed dan kasur. Kami masukkan dulu ke mobil barang2 yang akan kami kirim via kargo Garuda (3 koli) ke Bandung dan via laut beserta mobil. Sebelum berangkat 5 orang teman Kantor mampir ke kontrakan sebelum ke lokasi kerja- thanks temen2 atas kerjasama dan persahabatan yang tulus selama ini (10 hari sebelumnya sudah ada acara perpisahan di kantor), lalu bapak dan ibu kos juga datang dan kasih closing speech yang intinya mendoakan semoga kami sukses di masa depan, saya juga mengakui bapak kos ini manusia super, bagaimana tidak, meski tinggal di kampung, kontrakannya tidak dibikin sembarangan, seperti pavilion, tiap unit dilengkapi ruang depan, tengah, dapur dan kamar mandi, ada parkiran mobil, tanah 2000 meter diisi 20 pavilion, kalau ada keluhan cepat ditangani, sebenarnya ini kampung tidak benar2 kampung juga sih, ada 3 bank (BRI, Bank Kalsel, BNI), kantor polisi, pasar, perumahan PLN, dan 4 BTS operator yang sebagian sudah 3G, untuk streaming Youtube juga kadang tanpa buffering-Telkomsel, kami juga pakai TV kabel Transvision. Itulah kampung Asam2 dimana PLTU Asam2 berada. Lalu berangkat dan mampir, di sana putri sahabat kami riang gembira menunjukkan lemari pink yang kami kasih. Waduh, terharu, ternyata benda2 yang kami anggap biasa dan membosankan bisa memberi kegembiraan pada orang lain.
Selanjutnya perjalanan ke Banjarbaru via kota Pleihari dan mampir makan soto ayam yang overrated. Semangkuk minim daging ayam dihargai 22.5 ribu. Tak apalah, alhamdulillah masih ada rezeki.
Jam 12.15 siang saya sampai rumah, tiba2 ada telpon orang yang mau sewa rumah kami, kebetulan 2 Hari yang lalu saya pasang kertas di kaca depan bawa rumah ini disewakan. Ada 2 orang yang menelepon, yang pertama agak mencurigakan dan cuma mau sewa sebulan dan yang kedua lebih meyakinkan, bapak-bapak PNS kementrian keuangan yang menunjukkan badge dan tanda kepangkatan serta 2 orang rekan sekantornya tinggal di komplek ini pula. Harga sewanya memang dibawah target saya, namun melihat keseriusan dan niatnya untuk renovasi kami tidak keberatan dengan harga yang akhirnya kami sepakati. (Ujungnya baru2 ini rumah kami direnovasi dengan cat ulang serta menambal kebocoran sirap). Beliau juga punya 2 rumah di Yogya yang dikontrakkan, jadi mengerti psikologis orang yang mengontrakkan rumah. Kebetulan ada ipar istri yang tinggal di Banjarbaru kami serahi pengawasan rumah dan kami pinjami sepeda motor untuk aktivitasnya. Alhamdulillah, kami sama sekali tak menyangka semua bisa beres dalam waktu singkat. Kami sempat khawatir meninggalkan rumah ini kosong, takut kalau ada bocor dll, tak ada yang merawat. Ternyata saat injury time ada bapak2 yang 3 kali bilang merasa sangat beruntung dapat kontrakan selama masa dinasnya di sini. Sama2 senang. Demikian juga kisah barang inventaris kami di site. Dalam usaha maksimal dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT, Alhamdulillah semua beres dalam waktu yang kami rencanakan.Semoga ini pertanda yang baik buat langkah kami berikutnya. Amin