Tag

, , , , , , , ,

Jumat,14 November 2014
image

Rencana untuk lihat lelang ikan tuna Tsukiji Fish Market dan Tokyo University (Todai) kami batalkan karena kami baru bangun jam 5 pagi. Lebih baik untuk istirahat dan menikmati kamar hotel yg cukup mahal ini sampai waktu checkout jam 10 tiba.
Saat checkout kami ambil beberapa teh sachet Aneka rasa yang tersedia gratis di resepsionis. Setelah itu ke arah pintu A5 untuk naik subway dari Ningyocho ke Daimon. Dan dari Daimon ke monorel Hamamatsucho jalan kaki melalui world trade center (WTC). Di sini kami menitipkan 3 tas ke locker dengan sewa 600 Yen per 24 jam. Lalu dua kali ganti kereta menuju Yoyogi Uehara dimana masjid Turki berada. Jam 12 masih sepi di sana, namun kita bisa kunjungi pusat kebudayaan Turki yang ada di lantai dasar. Di situ ketemu bapak orang melayu (tak tahu orang Indonesia atau Malaysia) membagikan CD Alquran dan terjemahannya. Beberapa wartawan TV Jepang tampak mewawancarai beberapa orang, dan saya serta istri juga diwawancara seputar makanan, artis/aktor favorit dan cara kami mendapat info tentang Jepang. Sekitar 10 menit wawancara terdengar kumandang adzan, maka kami bergegas ke dalam masjid. Sholat jumat dimulai jam 12.45 dengan jamaah laki-laki di bawah sedangkan perempuan di atas. Adzan 2 x layaknya Sunni mazhab Imam Syafiie dan khotbah 3 bahasa diawali dengan orang Jepang yang khotbah dalam bahasa Jepang, sedangkan orang Turki khotbah dalam bahasa Turki dan Inggris. Jam 1.30 siang sholat Jumat usai dan kami langsung ke pelataran mendapat pembagian nasi samin, lauk ayam suwir dan minum yoghurt turki yang asin. Lumayan saving cost makan siang.hehe. Di sini kami ketemu dengan kakaknya kakak ipar istri yang sudah tinggal di Jepang selama 13 tahun sejak melanjutkan S2 di Jepang hingga bekerja di perusahaan telekomunikasi di sana. Sambutan hangat kami terima. Meski umur beda 6 tahun diatas saya, namun seperti teman sendiri. Di sana kami juga ketemu komunitas Indonesia, ada yang mahasiswa ada juga yang freelance, bahkan ada kakek-kakek dari Ternate yang puluhan tahun tinggal di Tokyo, punya tempat makan dan mushola di Shinjuku, tepatnya di area red light district yang dikuasai yakuza (gangster Jepang). Kami juga sempat beli jus sekotak 130 Yen dan permen khas Turki ‘Lokum’ 1300 Yen yang terasa maknyus, serta bumbu masakan instan khas Turki seharga 200 Yen. Menyenangkan sekali bertemu dengan WNI di perantauan dan menikmati budaya negara lain di negara lain pula. Dan berkat guide saudara ipar ini pula kami bisa mendapat banyak informasi seputar kultur masyarakat Jepang secara lebih akurat, dan juga tempat wisata yang menarik menurut orang yang sudah lama tinggal di Jepang. Satu lagi, kali ini kami tak perlu buka peta atau tersasar. Bukan itu saja, kami dibayari tiket JR, diajak makan sashimi yang lezat dan diberi oleh-oleh halal. Alhamdulillah

?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??????????

Jam 3 kami cabut dan beranjak ke arah Asakusa menggunakan JR. Turun dekat arena sumo, kami sempat mampir dan melihat museum sumo yang gratis serta belanja souvenir kaos sumo, lalu ke kantor ipar tersebut dekat sungai Sumida. Dari kantor ke Asakusa jalan kaki sejauh 400 meter, dan kami temui beberapa rumah kardus yang kabarnya ini orang Jepang yang terbuang dari keluarganya. Mereka juga di razia dinas sosial namun kembali lagi menggelandang di kolong jembatan. Kabarnya banyak diantara mereka yang tewas saat musim panas yang suhunya di atas 40 derajat dan saat musim salju dimana suhunya 0 derajat. Sepintas sungai ini mirip sungai Martapura di Banjarmasin, beda gedung dan warna airnya. Jalan untuk pejalan kaki juga cukup lebar, selebar 2 city car. tak jauh dari situ terdapat komplek Asakusa. Tadinya saya kira ada taman seperti di Osaka castle. Ternyata dikelilingi bangunan, tempat belanja dan temple. Aneka produk di jual dan banyak umat Budha yang sedang sembahyang dan berdoa.

?????????? ?????????? ???????????????????? ?????????? ?????????? ??????????

Sekira maghrib kami balik ke arah subway menuju Akihabara melihat lokasi awal berdirinya AKB 48 dan deretan toko elektronik yang tersohor. kami juga sempat mampir ke toko resmi AKB 48 dan ketemu gadis-gadis cantik yang kami kira personel AKB 48. Ternyata mereka misionaris Kristen yang membagikan buku. Kabarnya di Jepang usaha missionaris sudah sangat gencar namun kebanyakan penduduk Jepang tak pernah benar-benar masuk ke agama samawi (Yahudi, Kristen, Islam) sehingga agama samawi ini kalau dijumlah penganutnya tak sampai 5%. Usai dari AKB yang tidak wow, kami lanjut ke Ueno menggunakan subway. Ini adalah stasiun yang sama dengan saat kami tiba 3 hari lalu. Tak jauh dari sini ada pasar Ameyoko. Seperti pasar pada umumnya disini dijual beraneka barang, ada baju, parfum, lauk pauk, daging, sayur, kain, kosmetik, obat-obatan, alat elektronik serta kebab. Kami menemukan snack keju lezat yang 1 pack seharga 200 Yen. Murah, sangat sepadan dengan harganya. Di sini pula kami diajak makan sashimi yaitu makanan laut mentah dengan nasi seporsi 850 Yen. Awalnya kamu ragu, tetapi setelah sesumpit baru ketahuan kalau ternyata rasanya enak, karena ikan salmon dan telurnya (salmon roe) segar. Melihat saya doyan, tuan rumah memesankan lagi makanan laut yang berisi tuna, salmon, tongkol, landak laut, tiram, telor salmon dihargai 1000 Yen. Penyajiannya dengan soyu/kecap jepang di mangkuk kecil yang diaduk dengan wasabi ada juga seiris jeruk lemon kalau mau kurangi bau ikan, lalu dijadikan cocolan ikan. Rasanya manis, asin, pedas, sedaplah pokoknya. Ini pertama kali makan sashimi dan tidak ada penolakan  dari tubuh, mungkin karena ikannya segar. Sedangkan istri makan belut laut (edo mae) panggang yang empuk lezat. Masih terbayang kelezatan dan kesegarannya. Enak semuanya.

?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ?????????? ??????????

Puas makan kami diantar sampai stasiun JR Hamamatsucho. JR (Japan Rail) ini umumnya berjalur di atas permukaan tanah sehingga kami bisa melihat pemandangan kota. Dan di sini kami berpisah sambil berucap terimakasih, selamat tinggal, sampai bertemu di lain waktu dan kesempatan. Dari Hamamatsucho ke terminal internasional Haneda tersedia monorel yang bertarif 490 Yen. Malam itu saya beruntung dikasih orang one day pass seharga 700 Yen sehingga saya tak perlu keluar uang untuk bayar tiket. 30 menit berada di monorel, kami tiba di terminal internasional. Lebih megah rasanya daripada Narita maupun Kansai. Bandara ini juga termasuk yang paling baru. Kami tiba jam 9 malam dan antrian sudah mengular di counter AirAsia X, sementara di belakang ada counter Garuda Indonesia yang tak kalah panjang antriannya. Sekitar sejam kami antri, akhirnya bisa checkin dan drop bagasi. Total bagasi 29 kg, jauh dibawah bagasi yang kami beli sebelumnya sebanyak 40 kg. Seandainya banyak ketemu oleh2 halal mungkin beli tas lagi untuk bawa oleh2. Imigrasi tak terlalu banyak petugasnya, cuma ada 2 meja saja. Begitu masuk ruang tunggu terasa begitu modern dan cantik. Di sini kami sempat mampir di Uniqlo yang menjual kaos Tokyo seharga 1500 Yen dan kaos dalam 500 Yen. Menarik dan tak kusia-siakan 4 biji sisa koin logam 500 Yen yang tersisa. Agak beda yang dijual di sini yang secara umum adalah pakaian dalam dan kaos, beda dengan yang di kota yang menjual jaket menyambut musin dingin. Usai belanja kami duduk sejenak di ruang tunggu no 144.
Alhamdulillah pesawat berangkat tepat waktu pada pukul 23.55, nyaris tengah malam. Kondisi pesawat tak sebaru dan sebagus saat berangkat namun lebih tinggi load factornya. Bismillah.