Tag

, , , , , ,

Tadinya saya tak terlalu banyak berharap banyak yang menarik di Medan, karena teman-teman sekantor yang orang Medan dan sekitarnya bilang kota ini semrawut dan keras. Namun setelah menjalani, tak sepenuhnya sama dengan yang saya rasakan.
Perjalanan di hari Minggu ini kami awali dengan bangun jam 5, sholat subuh jam 5.30 WIB lanjut mandi dan sarapan jam 8. Kami sarapan di restoran siring-siring. Menunya sangat lengkap, mewakili semua etnis yang ada di Medan. Rendang padang, capcay, pecel, sosis, martabak lengkap dengan kari, nugget ikan asam manis. Minumnya juga lengkap. Kue2, roti, sereal dan susu, manisan tersedia nonstop.

nasi campur segala etnis di medan (capcay,rendang daging, murtabak, sosis, acar, nugget, ayam laos)
Jam 9 kami lanjut jalan ke belakang hotel, naik Blue Bird menuju ke masjid raya Medan. Di seberang masjid ada pagelaran budaya Batak Islam di halaman hotel syariah Madani. InsyaAllah lain kali kalau ke Medan coba tinggal di hotel itu. Kami memasuki gerbang masjid yang ada penjaganya dan pengemis, ketika masuk masjid juga ada penitipan sepatu. Melihat masjid ini hati terharu, melihat betapa megah dan agungnya masjid ini dan saksi kejayaan Kesultanan Deli di masa lalu, namun kini perlahan beberapa bagian sudah lapuk dimakan usia, seperti kaca patri yang sebagian sudah lepas. Kegiatan keagamaan tetap ramai,utamanya pengajian jamaah tablig. Hanya saja menyedihkan sekali melihat beberapa bagian lapuk dan rusak, seolah tidak ada yang peduli dengan masjid bersejarah ini. Pagar rusak dan pohon ditebang asal-asalan. Pengemis yang pakai baju rombeng turut membersihkan sampah di halaman dan makam, ada juga nenek-nenek melayu penjaga kebersihan telekung yang tetap setia dengan tugasnya. Sungguh di masjid ini saya merasa betapa waktu cepat berlalu, dan merasakan kebenaran bahwa perubahan itu sebuah keniscayaan.
Setelah sejam di masjid kami lanjutkan ke Istana Maimun dengan berjalan kaki melalui jalan masjid raya. Kemegahan istana ini begitu terasa, bahkan dimasa lalu, pemukiman padat sekitar jalan mahkamah dan perpustakaan daerah itu tidak ada, itu yang terlihat di salah satu foto yg ada di istana maimun yang diambil gambarnya dari menara masjid raya. Entah sejak kapan bermunculan pemukiman-cenderung padat dan kumuh diantara dua bangunan ini.
Untuk masuk istana, pengunjung cukup membayar Rp 5 ribu. Tempat pembayarannya di ujung karpet merah tangga istana. Terdengar alunan musik melayu mendayu-dayu yang ditampilkan langsung oleh 3 seniman di situ. Bikin mata berkaca-kaca bagi yang suka. Begitu masuk pintu istana, mulai tampak kemegahan istana kesultanan Deli. Terpampang foto-foto raja dan istri dari masa ke masa, singgasana raja, kursi lainnya. Di tengah ada toko souvenir dan di belakang ada penjual aneka kain sumatra. Kami sempat foto berdua memakai baju raja dan ratu. Bisa pilih warna kuning atau oren. Saya pilih kuning kerana warna khas Melayu. Biaya sangat murah, hanya Rp 10 ribu per kostum per orang. Jadi kami berdua hanya perlu bayar Rp 20 ribu. Plus cetak foto ukuran 10R seharga Rp 10 ribu per lembar. Petugas foto juga ramah membantu memfoto apabila kita bawa kamera pocket. Sungguh sangat murah berbanding semua kemewahan yang tampak dan kesyahduan yang terasa. Pengunjung tempat ini separuhnya saya rasa orang Malaysia, ada juga dari Riau. Saat kami hendak pulang ada orang Tamil beserta rombongannya datang, dan dari pembicaraannya dengan petugas istana, dulu orang Tamil ini pernah dibantu kayu sisa pembangunan istana ini untuk membangun tempat ibadah mereka. Jika itu betul, sungguh hubungan yang harmonis antar umat beragama di masa itu.

kereta kencana halaman istana ramai pengunjung dandan ala rajo melayu penampakan istana dari menara masjid raya, yang tengah kini jadi pemukiman padat dan perpustakaan daerah tiket masuk pintu masuk istana istana maimun dinding almashun interior almashun hotel madani pakaian harus sopan ya masjid raya almashun
Sekitar jam 1 siang kami balik ke hotel untuk istirahat, dan jam 3 kami kembali jalan lagi mencoba naik bentor (becak motor). Cukup menegangkan awalnya, bagaimana tidak,tempat duduknya sempit untuk 2 orang ukuran sedang, dan motor yang narik hanya Honda Win yang tenaganya unyu2 itu, belum lagi diteror klakson mobil yang ada di belakangnya. Tapi lama2 asyik juga. 15 menit kemudian kami tiba di Tjong Afie Mansion, yaitu rumah orang terkaya di Asia Tenggara di era 1930-an. Rumah seluas 6000 m persegi ini berisi peninggalan Tjong Afie seorang perantau dari China daratan yang menyusul kakaknya yang telah sukses lebih dahulu. Ada ruang Melayu, untuk menjamu tamu Melayu, bilik China dan bilik Eropa. Di atas juga ada ballroom untuk dansa. Dari foto2 juga tampak, orang ini bersahabat dengan sultan Deli, Belanda dan etnis lainnya. Dia juga membantu pembangunan 2 masjid salah satunya masjid bengkok kesawan yang tak jauh dari rumahnya, beberapa jembatan dan bangunan lainnya. Dia sendiri orang Konghuchu. Lagi2 tampak bahwa hubungan antar ras dan agama di Medan waktu itu sangat mesra. Selama berkeliling ada kakak-kakak pemandu yang menjelaskan seluk beluk dan foto sejarah yang ada di rumah ini. Yang menjadi penerus dan perawat rumah ini adalah salah satu cucu Tjong Afie. Pantas saja semua terawat dengan baik.
Sekitar satu jam di sana, kami lanjut menyusuri jalan Kesawan (A Yani), sepanjang jalan terpasang lampion diantara gedung-gedung tua yang terawat. Menarik sekali seperti jalan Braga, namun dengan kondisi jalan yang lebih lebar dan mulus. Kami tertarik dengan sebuah bangunan yang memakan trotoar dan tampak banyak mobil baru parkir di depannya. Oh, ternyata restoran Tip Top yang terkenal sejak 1935. Pelayan laki2 memakai peci hitam. Yang perempuan pakai rok selutut. Makanannya bermacam ragam, kami pesan nasi goreng spesial yang legendaris itu, capcay, desert es krim jagung dan minum the hangat. Termasuk murah dan worthed karena untuk sajian seenak itu totalnya kurang dari Rp 90 ribu sudah termasuk pajak. Alhamdulillah.

tampak depan ruang dansa keluarga tjong afie meja makan perangkat kerja tjong afie 4 tjong afie 3 tjong afie 2 tjong afie 1
Puas makan minum, kami lanjut jalan kaki ke Merdeka Walk dimana sekelilingnya terdapat bangunan penting seperti gedung tua kantor perkebunan Lonsum dimana ada lift pertama di Hindia Belanda, Bank Indonesia, stasiun kereta api, dan lapangan merdeka dimana masyarakat Medan berkumpul untuk berolahraga. Jalan lebar dan mulus, anak mudanya kreatif, lebih indah dari bayangan saya semula. Tadinya saya berfikir-maaf kaku dan buruk seperti logo/lambang provinsi Sumut.
Di Merdeka Walk banyak tempat makan lokal, maupun fast food macam KFC, Pizza Hut. Di tengahnya ada plaza untuk panggung hiburan. Karena sudah makan, di sini kami beli souvenir berupa kaos bergambar bandara Kualanamu di kaunter ayam kinantan.
Dari sini kami lanjut jalan kaki ke stasiun kota Medan. Tepatnya stasiun airport link di lantai 2. Ternyata tempat reservasi cukup bagus dan luas, untuk pemesanan tiket bisa ke petugas atau self service di mesin semacam ATM. Kami beli tiket esok pagi pada petugas saja kebetulan ada promo BNI, yang jika pakai debit BNI tarif kereta ini hanya Rp 50 ribu dari harga normal 80 ribu. Berbaloi baloi lah kata orang Malaysia.
Dari stasiun kami jalan ke kanan melalui jembatan yang melintas rel kereta, ramai orang melihat kereta dari sini. Dari sini kami turun menuju mall baru Centerpoint melalui gang yang gelap gulita karena pas mati lampu. Agak menakutkan, sehingga ibu2 yang tadinya di depan kami, balik, dan ikut kami di belakang.
Centerpoint adalah mall yang baru dan luar biasa, semacam mall yang ada di Jakarta atau Singapura. Aneka toko tas, baju-Parkson dan parfum luar negeri, supermarket yang besar Lottemart juga ada. Mayoritas pengunjungnya Tionghoa. Kami coba ke supermarket ini dan mendapati produk yang dijual hampir seluruhnya made in Indonesia, berkebalikan dengan bayangan kami yang mengira Medan dekat Malaysia, kami kira bakal banyak produk impor. Justru pengunjungnya lah ramai pelancong asal Malaysia, baik Melayu maupun Tionghoa.
Sekitar jam 9.30 malam kami tuntaskan jalan2 hari ini meskipun orang2 masih berdatangan.Taksi Blue Bird tersedia, dan tarif ke hotel hanya Rp 11 ribu saja. Setelah sholat kami tidur. Perjalanan padat dan menyenangkan.

capcay kuah dan teh panas menu tiptop menu eskrim pakai oven kayu nasi goreng spesial dan teh susu

 

mall centerpoint downtown medan merdeka walk merdeka walk 2 lapangan merdeka balaikota dan hotel aston hotel inna dharma deli kantor pos medan bank indonesia medan rekreasi di loko stasiun medan ticketing starbuck stasiun medan mesin tiket promo bni jadwal dan bukti reservasi

 

 

Pengeluaran (2 orang) x 1000 rupiah
Taksi ke Masjid Raya 20
Masuk Istana Maimun. 10
Taksi ke hotel. 20
Hotel Grand Angkasa. 280
Bentor ke Kesawan. 20 Makan Siang Tiptop. 85
Masuk Tjong Afie. 70
Tiket Airport Link. 100
Makan malam Lottemart. 100
Taksi ke hotel. 15
Total. 720