Tag

, , ,

Selasa, 29 Oktober 2013

Rencana jalan-jalan hari ini adalah ke Shenzen untuk ke Windows of World dan shopping di Dongmen yang kabarnya murah karena dekat pabriknya. Jam 9.30 kami sudah siap untuk naik kereta dari stasiun East Tsim Sha Tsui menuju Stasiun MTR Hung Hom. Dari sini lanjut lagi naik MTR/KCR jurusan Lo Wu. Total perjalanan ditempuh dalam waktu 1 jam sehingga sampai di Lo Wu sudah jam 10.30. Kami tukar dulu USD200 dan MOP 120 sisa dari Makau kemarin. Nilai tukarnya lumayan, USD ditukar senilai 1199 dan MOP senilai HKD 66. Dari sini masuk ke imigrasi Hongkong menyerahkan form departure, lalu jalan lagi masuk wilayah Cina daratan melalui jembatan dan sampailah di imigrasi China. Untuk warga Indonesia dan beberapa negara barat bisa mengajukan visa kunjungan yang berlaku 5 hari, lokasinya di lantai 2. Dengan melalui 5 tahap, ambil nomor antrian dari mesin, isi formulir, setor paspor dan formulir yang sudah diisi, lalu ke counter pembayaran dan terakhir pengambilan paspor yang sudah ditempel visa China. Karena sepi, hanya perlu 15 menit untuk menyelesaikan semua proses ini. Ongkosnya CNY168 (Rp 300 ribu).

4.koin metro Shenzen 4.menu KFC Shenzen 4.penampakan WOW 4.shangrila shenzen

Beres urusan visa lanjut masuk ke imigrasi China, tanpa kesulitan kami bisa langsung masuk ke  wilayah China daratan, di sebelah rombongan anak-anak TK dari Hongkong sedang berwisata ke China, mereka di imigrasi terpisah dari orang dewasa. Tidak tampak kesan China yang angker, kecuali tali pengikat dan bolpen imigrasi yang terbuat dari besi. Keluar imigrasi banyak orang menawarkan transportasi ke berbagai tujuan. Gedung hotel Shangrila yang megah serta shopping center menyambut kami. Sempat bingung, namun melihat symbol seperti MTR tapi warna hijau kami ikuti tanda yang mengarah ke stasiun Louhu Metro Shenzen. Karena ini kunjungan singkat kami tidak ada rencana beli semacam kartu Octopus nya Shenzen. Kami beli aja langsung di vending machine. Tiket ke Windows of World hanya CNY5, yang ditukar dengan semacam koin plastic yang cara kerjanya mirip single ticket MTR Hongkong. Tempel di pintu masuk stasiun keberangkatan dan masukkan ke lubang telan di pintu masuk stasiun kedatangan, so simple.

Meski Shenzen dibuat semodern mungkin oleh pemerintah China, temasuk MTR yang lebih baru dari Hongkong, namun daya beli dan gaya hidup masyarakatnya tidak bisa menyaingi Hongkong. Sangat kontras. Jika di Hongkong kebanyakan berpakaian modis dan merk ternama, di Shenzen pakaiannya seadanya, bahkan tak jarang berpeluh bawa karung besar isinya barang dagangan. Mirip membandingkan penumpang MRT Singapura dengan KRL Jabodetabek. Begitu juga waktu beli air minum di vending machine, kami jadi tontonan ABG Shenzen yang penasaran pingin tahu bagaimana cara kerja mesin ini. Ndeso deh. Gedung-gedung tinggi memang sangat banyak, tapi sangat sederhana serupa rumah susun. Sesampai di stasiun Metro WOW, kami lanjut ke WOW yang tempat masuknya persis ditempat keluar Metro, tepatnya di miniature Museum Louvre (bangunan piramida kaca). Lihat depannya tidak membuat kami tergugah untuk masuk, lha wong isinya cuma miniatur dan patung-patung. Kebetulan kami sudah merasa lapar, kami mampir ke KFC yang ada di depannya. Kami pesan sepaket menu berdua yang berisi burger ayam, 2 sayap ayam, kebab ayam, 12 potong nugget ayam, kentang goreng dan 2 gelas pepsi cola. Selama makan ada 3 pengemis datang silih berganti, ada yang bawa sertifikat veteran perang pula. Kami berikan pecahan yuan kembalian KFC tadi ke mereka. Meski negara komunis, pengemis juga bebas berkeliaran ya. Soal kehalalan makanan, Insya Allah karena mereka tidak menjual menu pork. Langit Shenzen serupa Hongkong, tidak tampak matahari meski sudah jam 1 siang. Tertutup oleh kabut dari pabrik. Mulai bosan dengan tidak ada yang wow di lokasi yang bernama WOW ini, kami balik lagi ke Louhu dengan tarif yang sama. Karena kereta berhulu dari pedalaman Shenzen, yang dikereta pun makin ndeso. Reality show kehidupan orang China di negaranya. Tak mau dipusingkan dengan ketertinggalan Shenzen, kami balik lagi kearah Hongkong. Imigrasi lancar, ada brosur larangan membawa susu formula dari Hongkong melebihi 1.8 kg, karena kalau lebih dari itu kena pajak impor. Tampaknya minat mengkonsumsi susu formula di China sangat tinggi, sehingga pernah ada kasus susu bermelamin beberapa waktu lalu. Meski sudah bergabung dengan China, tampaknya kualitas produk makanan kemasan Hongkong lebih dipercaya masyarakat China. Diperbatasan kami naik KCR menuju stasiun MTR Hung Hom, dari sini lanjut ke East TST yang sambung ke TST dan kami keluar dari Exit D2 yang hanya 50 meter dari hotel. Istirahat sore.

3.larangan bawa susu formula 4.trade center louhu 4.tumis domba masjid ammar

Rencana sore ini kami ke daerah Causeway Bay, tepatnya ke Victoria Park yang mana kabarnya TKI TKW sering berkumpul di sini pada hari Minggu. Kemudian jalan ke barat menuju ke Wanchai lihat butik dan shopping lanjut ke masjid Ammar untuk makan malam. Rencana tinggal rencana, kami disorientasi, tidak tahu arah mata angin. Asyik lihat toko yang jual makanan Thai, Vietnam, restoran lalu melewati panti pijat dan seterusnya, lewat Oil Street,  akhirnya kami baca tulisan North Point Church, lah ini artinya kami ke timur, bukan ke barat. Lelah sekali jalan sore ini, nyasar-nyasar di tempat yang benar-benar pertama kali kami kunjungi. Google maps di BB juga gak jalan seiring buruknya sinyal SmartOne-rekanan XL Axiata di Hongkong. Dengan langkah kaki tertatih, Akhirnya kami cari petunjuk arah ke Victoria Park. Alhamdulillah dapat, dan kami duduk sambil dengar orang ngobrol pakai bahasa Jawa, tampaknya para TKW yang lagi  mengantar bos lansianya lihat pemandangan malam hari di taman kota ini. Sesudah agak pulih kami menuju air mancur dekat Sugar Street, banyak mall di sekitar situ. Ada Sogo, Daimaru, Jardine dll, nongol juga tulisan IKEA. Sesekali tampak perempuan melayu berjilbab menenteng belanjaan. Puas lihat-lihat luaran mall sebentar, dan rasakan hangatnya neon sign board mall, kami cari tram ding ding. Ternyata nyasar lagi ke timur ke Oil street. Balik lagi pakai tram dingding akhirnya sampai juga dekat jembatan layang Canal road tempat butik Toffe kemarin berada, karena sudah belanja kami tak mampir lagi di sini dan lanjut ke pasar basah yang mulai tutup. Tak seindah pemandangan kemarin sore. Namun toko-toko di sekitar Wanchai road semakin indah dengan lampunya. Kami jalan terus sampai jalan Oi Kwan untuk makan malam di Masjid Ammar. Pas Adzan Isya berkumandang. Di sini kami pesan tumis daging domba dengan cabai kering seukuran jari telunjuk dan tumis sawi dengan bawang plus nasi, karena sudah bawa air minum kami tak pesan minuman.  Rasanya seperti dimsum kemarin, uenak sekali. Tak seperti restoran masjid di Indonesia, Malaysia maupun Arab Saudi, meski adzan berkumandang tetap saja restoran ini buka, tampaknya dimaklumi karena yang beli kebanyakan wisatawan asing yang mendapat keringanan untuk meringkas waktu sholat. Wallahu A’lam.

Puas makan malam kami lanjut lagi jalan, bersamaan itu ada wisatawan dari Malaysia baru datang dan ternyata restoran sudah tutup tepat jam 8 malam. Melanjutkan hasrat naik tram dingding kami naik dari perhentian terdekat, ternyata arahnya ke timur. Sebelum kebablasan, kami turun diperhentian Hing Fat street dekat stasiun MTR Tin Hau ujung Victoria Park. Dari sini naik lagi kea rah sebaliknya. Usut punya usut setelah cek di peta www.hktramways.com ternyata setelah Sogo departemen store rutenya ke Times Square (most famous shopping center in HK) dan berhenti di Happy Valley terminus dimana di sebelahnya ada tempat pacuan kuda legendaries di Hong Kong. Tampak nya semua jalan yang dilewati tram ding ding ini adalah jalan utama dan penting selama pemerintahan Inggris di Hongkong. Di Happy Valley sebagai terminal terakhir kami turun, seharusnya ganti tram, karena tak tahu kami naik lagi tram yang sama yang memutar kea rah timur. Kami nikmati saja ketersesatan ini, walaupun istri bilang sudah 4x lewat Times Square malam ini. Hahaha. Tak mau buang waktu kami turun saja di perhentian dekat stasiun MTR Tin Hau untuk lanjut ke Admiralty, dan setelah ganti kereta kami lanjut lagi menuju stasiun MTR Mongkok dimana Ladies Market berada. Barang semuanya dari China, dengan harga yang tidak murah untuk beli eceran. Kualitas barang sama saja dengan barang impor murah meriah China. Kalau beli eceran bisa lebih murah di Jakarta daripada di sini. Kualitas barang palsu lah. Pasmina saja di hargai fixed HKD 45 (Rp 62 ribu), di online shop Rp 50 ribu sudah dapat. Di toko permanen sekitarnya dijual sepatu sport original yang tak murah. Rata-rata di jual atas Rp 1 juta. Coba memutuskan untuk beli di Jakarta atau di factory outlet Citygate TungChung besok saja. Dan keputusan ini adalah yang tepat…..

Malam makin larut, mendekati jam 11 malam, lapak mulai tutup, MTR sejam lagi juga tidak beroperasi, seiring itu pula orang berduyun memenuhi halte bus dan MTR untuk kembali ke penginapan masing-masing. Sampai di depan hostel masih ada ratusan orang lalu lalang di Nathan Road. Kota yang hidup. Lelah sekali namun bisa tidur dengan tersenyum mengingat kekonyolan demi kekonyolan-salah jalan yang terjadi malam ini. Ini adalah puncak kelelahan perjalanan, quote istri : kelelahan membuat orang jadi error, disorientasi. So, rehatlah.