Tag

, , , , , ,

Ahad, 30 Desember 2012

Kami mulai aktivitas hari ini dengan sholat subuh, kemudian sarapan dan browsing internet. Acara TV kabel lumayan menghibur. Minuman di tea and coffe maker yang disediakan juga simple dan enak, kopi  good day dan the sosro premium.  Untuk sarapan pilihan menunya cukup lengkap, ada nasi goreng, bubur ayam, empal daging, sosis, roti beserta selai dan aneka buah potong. Rasa masakan enak, otentik, mungkin karena hotel lama, koki nya sudah berpengalaman.sarapan empal sosis dan sayur labu

Setelah sarapan, kami ambil mobil di tempat parkir, menuju SPBU untuk mengisi bahan bakar yang tak jauh dari hotel-300 meter an. Kami isi penuh karena khawatir jika tidak ada SPBU di jalan menuju Pantai Kuta yang berjarak 56 km dari kota Mataram. Kami coba melalui jalur Praya, ibukota Lombok Tengah dengan resiko lebih lama daripada melalui jalur bypass. Kota Praya hanya kami lintasi sebentar, kemudian masuk bypass melewati Bandara Internasional Lombok (BIL). Jalan yang mulus sekali, sehingga untuk mencapai Pantai Kuta hanya perlu waktu kurang dari 1,5 jam. Pemandangan sawah dan hutan serta kampong tradisional suku Sasak-Sade ada dalam jalur ini.

Sekitar jam 11 kami sampai di Kuta, kami ambil jalur kiri ke arah pantai di sebelah Hotel Novotel Lombok. Ternyata pantai hotel dengan umum hanya dibatasi tonggak kayu. Sebuah kemewahan yang hemat mengingat tarif menginap di situ sekitar 3 juta/malam untuk long weekend/end of year 2012. Untuk masuk ke pantai ini cukup membayar 5 ribu/mobil untuk kas desa. Pantainya sangat bersih, selama 2 jam di sana tak ketemu sampah plastik, yang ada hanya rumput laut yang terdampar, dan pasir bulat seperti merica. Mungkin karena dekat hotel, ada petugas kebersihannya. Gradasi pasir putih, laut hijau, langit biru dan karang sungguh indah. Panas memang, tetapi dengan mencelupkan kaki  di air terasa sensasi kesejukan dan betah berlama-lama di sini. Hanya sayangnya banyak anak-anak penjual souvenir seperti gelang dan manic manic, penjual kelapa muda dan tenun yang tak henti-hentinya menawarkan barang dagangannya dengan mode memaksa. Di sini saya coba mempraktikkan saran pemilik rental mobil untuk memberikan uang seribu rupiah ke anak-anak jika tidak berminat beli, ternyata ampuh. Harga jual sebenarnya cukup murah. Dengan 10 ribu bisa dapat 2-4 gelang dan manik-manik, kelapa muda juga dijual 10 ribu/kelapa. Harga yang wajar bahkan cenderung murah.pantai kuta lombok yang mempesona

Puas di sini, kami lanjut ke Pantai Seger yang ada di sebelahnya, melalui jalan yang kurang bagus. Pantai ini lebar, ombaknya cukup besar sehingga banyak turis yang memanfaatkannya untuk berselancar. Tak hanya itu, di tempat ini tiap tahun ada acara Bau Nyale, yaitu panen cacing laut yang bisa dimakan. Posisi pantai ini di seberang muara sungai di samping Hotel Novotel. Tarif masuk 10 ribu/mobil. Ada sumur dan MCK yang bertarif 2 ribu.Tak lama disini kami lanjut jalan ke Pantai Tanjung Aan yang wow keren. Jalanan kurang nyaman karena berbatu dan ada tanjakan. Karcis masuk 5 ribu/mobil dan sangat populer di mata masyarakat local Lombok. Terlihat banyaknya masyarakat tua muda berkunjung ke tempat ini. Pantainya lebih panjang, luas dan indah, namun agak kotor oleh bungkus makanan. Banyak penjual makanan minuman (termasuk kelapa muda), kaos dan songket, serta souvenir. Namun di sini penjualnya tidak memaksa seperti pantai pertama tadi. Di sini kami membeli kain songket emas yang ditawarkan 100 ribu dan deal pada harga 85 ribu, dan kain tenun sasak yang ditawarkan 60 ribu dan deal pada harga 30 ribu. Sangat murah jika dilihat dari susahnya pembuatan yang perlu berhari-hari. Info penjualnya sih harganya bisa 300 ribu kalau beli di desa wisata Sade. Dari beberapa blog panduan wisata Lombok disebutkan harganya mulai 50 ribu-1 juta. Recommended beli kain di sini.pantai segerpantai tanjung aan

Dari Pantai Aan kami lanjut melalui jalan akses ke Pantai Seger, Pantai Novotel dan ke Kuta Lombok. Ternyata di Kuta Lombok lah pusat keramaian turis. Banyak hotel, guest house, tempat makan, masjid bank dan ATM berada. Mirip di Kuta Bali versi jadul yang masih sepi. Angkutan umum, berhentinya juga di daerah ini. Perjalanan lanjut melalui BIL lanjut bypass yang sepi dan tibalah kami di Kota Mataram, di Jalan Gede Ngurah kami belok kiri, tersasar di bypass lingkar selatan, balik ke Gede Ngurah belok ke jalan Sriwijaya, Udayana, lalu ke Mataram Mall untuk makan siang setengah sore. Mall nya sudah tua, pengap, mirip dengan Mall Blok M di Jakarta. Di sini kami makan paket Big Prosperity yang gencar diiklankan di TV. Menu yang berisi burger daging, kentang aneka rasa dan bubble mangga sepaket dihargai 44 ribu termasuk pajak. Mc D big prosperityLumayan lezat dan mengenyangkan. Puas makan kami mampir dan belanja di Hero. Jualannya lengkap, banyak produk impor yang kelihatannya untuk memenuhi konsumsi turis asing yang banyak dan expatriate tambang Newmont. Seharusnya Mataram punya mall yang lebih baru, besar dan nyaman mengingat ini ibukota daerah tujuan wisata.

Sesudah dari mall kami kembali ke hotel, saat keluar mall kami tidak ditarik lagi biaya parkir mobil meski lebih sejam dan saat weekend. Tarif parkir 2 ribu saja. Di hotel kami sholat Dzuhur dan Ashar, istirahat dan bangun sekitar jam 5.30 sore. Dan kami teringat agenda rencana sore ini kami mau lihat sunset di Pantai Senggigi. Berbekal peta Lombok yang dijual di toko Periplus Soekarno Hatta dan google map akhirnya kami sampai di pantai. Kami parkir dimana banyak mobil dan motor di parkir. Kami bayar 5 ribu tanpa karcis dan segera menuju pantai yang sudah banyak di datangi pengunjung. Sunset sudah mulai, sungguh indah pemandangan sore itu. Subhanalloh. sunset di pantai senggigiSembari merekam saat saat matahari tenggelam, kami pesan jagung bakar seharga 5 ribu, numpang duduk di tikar milik penjual. Kami salut dengan para penjual makanan dan souvenir di sini, yang tidak semena-mena pasang harga. Ketika matahari benar-benar lenyap dari pandangan, kami balik ke kota Mataram. Cukup dekat, tak sampai 10 km sudah sampai tugu masuk kota. Kami lalui jalan yang berbeda dengan saat berangkat tadi. Melalui Jalan Adisucipto dimana Bandara Selaparang (bandara lama sebelum pindah ke BIL). Melalui Jalan Udayana, kami lihat odong-odong dan sepeda gembira yang dipasang lampu warna warni, indah. Di seberang taman terlihat warung-warung yang menjual sate bulayak, rapi dan terkoordinir. Jalan terus belok ke Jalan Pejanggik, Ngurah Gede, Sriwijaya, kami putar-putar 3 x untuk cari nasi Puyung tapi tak ketemu, karena sudah lelah, kami balik ke hotel, parkir mobil lalu ke warung tenda depan hotel. Pesan Ayam Taliwang, Beberok, Pelecing Kangkung  dan teh hangat.ayam taliwang warung tenda Lumayan enak dan tidak pedas. Kami bayar 52 ribu untuk ini semua, alias setengah harga dari makan serupa kemarin malam. Kalau mau Taliwang otentik, lezat, mantap rasanya/ tak sekedar kenyang, Ayam Taliwang HM.Moerad di Jalan Pelikan adalah pilihan yang tepat. Kalau hanya sekedar kenyang, murah dan lumayan enak, di warung-warung tenda pinggir jalan juga banyak yang jual. Setelah itu balik ke hotel, sholat lalu istirahat. Hari yang menyenangkan.