Tag

, , , , ,

Sabtu, 29 Desember 2012

Ini adalah perjalanan kedua saya dan yang pertama buat istri saya ke Pulau Lombok. Perjalanan ini sebenarnya bisa dibilang rencana jauh ke depan dengan memanfaatkan promo Garuda di bulan Juni 2012, atau enam bulan lalu. Tiket promo dari Jakarta ke Lombok sekitar 855 ribu pp/orang untuk berangkat 29 Des’12 dan pulang 4 Jan’13, akhirnya hanya terpakai untuk keberangkatan, karena pulangnya dimajukan karena banyaknya laporan di kantor, re schedule sama saja harus bayar full, refund juga nilainya nol karena harga promo. Ujungnya sama saja dengan tiket regular. Itulah resiko beli tiket terlalu jauh dari hari pelaksanaan.

Perjalanan kumulai dari Banjarmasin, bangun jam 3 pagi sholat malam, mandi lalu sholat subuh. Jam 5.30 pagi sudah berangkat ke Bandara Syamsudin Noor yang saya tempuh 15 menit dari rumah. Dekat bandara saya titip mobil di penitipan langganan saya dengan biaya inap 20 ribu per hari. Setelah di drop oleh petugas penitipan kami langsung check in dengan tiket dan bagasi transit/terusan ke Lombok.  Yang istimewa, baru pada penerbangan kali ini saya bisa check in dan memilih kursi secara online. Salut untuk perbaikan sistem online Garuda. Agak kaget juga karena tidak diminta airport tax di sini. Cuaca di luar hujan deras, sampai penerbangan pada telat 15 menit. Lion yang terbang ke Jogja terlihat seperti jetski ketika melaju untuk take off/terbang.

Jam 7.15 baru boarding dan terbang pada pukul 07.45 WITA, dari jadwal 07.30 WITA. GA-531 yang saya tumpangi pagi ini masih sangat baru, ada audio video on demand (AVOD), majalah Garuda masih kinclong (baru) meski sudah akhir bulan. Namun mungkin karena cuaca hujan, koran hari ini belum ada. Saya nikmati daftar hiburan yang ada di AVOD, cek artikel destinasi, daftar film, video music dan daftar lagu. Ada Bang Rhoma Irama juga nah. Kunikmati perjalanan ini dengan lagu klasik Bang Rhoma. Istriku asyik melanjutkan menonton film Delisa, yang berlatar belakang Tsunami Aceh.  Di penerbangan Garuda sebelumnya belum tuntas menonton film ini. Oh ya, menu sarapan pagi ini Omelet, dengan sayuran kukus, dan buah potong. Minumnya saya pilih jus jeruk. Segar.

Tepat jam 8.25 WIB pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Kami ke tempat lapor transit, baru ke ruang tunggu di atas. Kami ke lounge BNI. Berhubung hanya 1 yang gratis untuk pemegang kartu, kami membayar 60 ribu untuk istri. Di dalam ternyata penuh, tinggal di deretan kursi tinggi untuk browsing internet. Heran juga masih di masukkan terus padahal sudah penuh. Internet juga tidak ada sambungan. Untung pastry nya enak-enak dan modern, majalah dan koran melimpah. Untuk makanannya-pecel lontong enak.buah potongnya juga segar.Sarapan GA531

Jam 10.45 sudah ada panggilan boarding untuk pesawat menuju Lombok, dan jam 10.50 sudah panggilan terakhir. Kami bergegas ke ruang tunggu F4 yang persis di ujung, dan dicegat mbak-mbak petugas check list penumpang. Di suruh bayar airport tax 40 ribu, karena tiket saya beli di Bulan Juni’12, saat airtax belum masuk ke harga tiket. Ternyata di dalam pesawat juga belum penuh, di belakang kami mungkin masih setengah penumpang pesawat yang baru akan masuk. Pukul 11.15 WIB pesawat lepas landas. Kondisi kabin agak kusam, mungkin generasi awal Garuda Boeing 737-800ER. Tidak ada AVOD di masing-masing kursi, yang ada layar yang menggantung di kabin. Cukup mengherankan juga, penerbangan Jakarta Lombok yang hanya 2x sehari dan mungkin 80% turis bule dan Asia Timur dikasih pesawat yang kurang bagus. Syukurlah pramugaranya yang masih muda, Budy, cekatan dan lancar berbahasa Inggris, gesture dan senyumnya yang natural semoga memberi kesan baik untuk tamu/wisatawan mancanegara.Lunch Kari Ikan dan Cheese CakeHiburan GA430

Pukul 14.15 WITA pesawat mendarat di Bandara Internasional Lombok (BIL). Bandara megah, baru, modern dan serba kaca ini mengesankan buat penumpang yang baru ke sana, turis asing pun bilang WOW dan foto-foto begitu keluar dari garbarata. Semegah namun tak sebesar Bandara Hasanuddin Makassar. Ruang tunggu, pengambilan bagasi dan check in juga seperti Bandara Changi Singapore dalam versi mini. Hanya sayangnya begitu masuk ke ruang pengambilan bagasi kok bau toilet ya ?.Mungkin karena begitu turun dari escalator langsung didepannya ada toilet. Perlu pembenahan di sini. menunggu bagasiSebagian sisi BILKeluar bandara kami disambut orang yang menawarkan pengantaran ke daerah tujuan. Dari pengalaman kemarin untuk menuju pusat kota Mataram yang berjarak sekitar 40 km dengan jalan mulus biaya yang ditawarkan sbb :

–          Jemputan Blue Bird (bukan taksi tapi semacam Innova-karena taksi Blue Bird sejauh ini di larang jemput ke BIL) 130 ribu, namun kalau dari Mataram ke BIL (antar ke BIL boleh) tarif argo nya sekitar 113 ribu. Info dari CS nya Blue Bird

–          Carteran di BIL. Harga pembukaan 150 ribu, jalan terus saja, tanpa di tawar turun sendiri jadi 100 ribu. Gigih sekali, dia baru berhenti menawarkan jasanya begitu kita sudah dekat dengan counter DAMRI

–          Kombinasi DAMRI dan Blue Bird. Tarif murah hanya 15 ribu sampai terminal/pool DAMRI di Terminal Mandalika. Di depannya terminal ada pool Blue Bird yang berderet mobil taksi ini. Dengan 13 ribu sudah sampai di Hotel Lombok Garden/Raya/Mataram Mall. Total ongkos kombinasi ini hanya 43 ribu. Salut dengan sopir taksi Blue Bird di sini, yang memberi kembalian ketika kusodori 20 ribu, dan gembira sekali ketika saya bilang ambil saja kembaliannya (anggap saja sedekah untuk penduduk kota yang kita kunjungi seperti ajaran Rasul Muhammad SAW). Kalau mau langsung ke Pantai Senggigi juga bisa dengan tarif DAMRI 25 ribu/orang.DAMRI Lombokwarga sekitar bandara

Entah kenapa rasanya tenteram di sini, lihat petak sawah sepert di Jawa tempo dulu, ibu-ibu pakai kain jarik/katun batik. Rasanya kembali ke beberapa puluh tahun lalu. Masjid besar dimana-mana, Alhamdulillah ya Allah.

Ketika sampai di Hotel Lombok Garden (ex Hotel Granada), adzan Ashar berkumandang. Check in dan kami diantar ke kamar superior 159. halaman yang asritampak luarinteriorAgak kaget lihat kamarnya yang besar (sekitar 36 m2) dan kelihatan tua. Hotel angkatan 80-an kelihatannya. Telpon ke resepsionis minta kamar yang baru gedung bertingkat yang ada di belakang, bersedia membayar tambahan upgrade, tapi ternyata penuh semua kamar deluxe itu. Waduh. Kalau buat tidur/istirahat OK lho, tenang, redup, ada kulkas jadul, TV layar datar tapi masih tebal-tapi channelnya banyak lho (TV kabel), lemari pakaian yang superbesar, kamar mandi dengan shower yang mengucur kencang dan air segar-tidak asin. Tamannya super besar dan terawat. Ada sofa empuk dan meja. Di luar juga ada kursi dan meja yang menghadap ke taman. Macam bungalow.

Acara selanjutnya jamak Sholat Dzuhur dan Ashar di ruang yang super luas ini. Mandi sore dan menunggu mobil rental yang rencananya diantar ke hotel. Saya hubungi kontak person yang saya peroleh dari seorang teman, yang ternyata sedang sibuk untuk mengikuti orientasi calon legislatif kota yang akan selesai jam 7 malam. Ternyata pula, orang ini ketua organisasi pemuda partai terbesar selama orde baru. Jam 7 kami bertemu, dan mendapat permintaan maaf karena mobil yang akan saya rental masih dipakai dan dalam perjalanan ke hotel. Sambil menunggu kami mengobrol dan saya mendapat tips cara menghadapi orang/anak-anak yang ada di lokasi wisata Pantai Aan/Kute yang terkesan memaksa menjual barang/souvenir ke wisatawan. Caranya yaitu kasih tahu sudah beli dan kasih uang 1000 rupiah, Karena mereka benar-benar membutuhkan biaya sekolah. No problem, toh kita bisa melihat pemandangan yang super indah secara gratis, masa kita tidak peduli dengan kesulitan orang yang tinggal di situ.

Karena mobil sewaan tak kunjung datang, kami diantar menggunakan Suzuki Carry nya ke Rumah Makan Ayam Taliwang H.Moerad yang legendaries itu. Lokasinya di Jalan Pelikan. Kemudian mas nya balik ke tempat rapat.  Kami pesan ayam taliwang pelecing, beberok, pelecing kangkung, tahu goreng, jus tomat dan jeruk panas. Karena cuma ada 3 keluarga yang makan di situ, kami tak perlu menunggu lama untuk makanan pesanan kami. Rasanya nampol, ayamnya empuk , pedas dan berempah, terasa siraman jeruk purutnya, beberok nya sueger dan kangkungnya empuk dan segar. Sip banget. The best ayam taliwang which ever (sebelumnya pernah makan di Taliwang Irama di Mataram dan Taliwang Bersaudara di Bandung).inilah ayam taliwang terlezat seduniaharga yang pantas Jam 9 malam kami telpon ke mas nya untuk di jemput. Tak terlalu lama datang dengan mobil yang akan kami rental. Antar mas nya ke tempat rapat (aktivis banget stylenya), dan kami coba memakai mobil untuk keliling kota. Kami baru sadar di Mataram ini banyak jalan satu arah, untung ada google map, kami bisa tahu arah kembali ke hotel. Kami sempat mampir ke Alfamart untuk belanja kebutuhan seperti air minum. Jam 9.30 malam kami sudah tiba kembali ke hotel, parkir mobil dan beristirahat.