Tag

, , , ,

Ini adalah hari terakhir kami dari serangkaian perjalanan ini. Acara utama adalah beres-beres dan packing bawaan bagasi, beli oleh-oleh, check out jam 11 pagi (strike aturan Tune), titip bawaan ke Tune, dan jalan-jalan ke Bukit Bendera (Penang Hill) karena pesawat kami baru berangkat pukul 22.30. Acara packing bagasi/bawaan kami mulai jam 7 sambil menikmati AC prabayar yang sisa 3 jam dan streaming radio Indonesia menggunakan BB roaming unlimited. Setelah beres, jam 8.30 kami masih sempat jalan untuk cari sarapan. Langganan kami nasi kandar Al Hass ternyata masih tutup, kami menuju ke Jalan Transfer yang konek ke Jalan Penang. Di samping kantor polisi ketemu ibu-ibu Cina minta uang untuk makan. Waduh. Tak jauh dari situ terdapat Pasar Chowrasta. Di sana kami bisa menikmati nasi lemak yang sudah dibungkus daun, sebungkus harganya MYR 1.2 (IDR 3.600) yang dijual orang India. Lumayan rasanya, 3 bungkus cukup mengenyangkan buat dimakan berdua. Selesai makan kami pergi ke toko oleh-oleh di  pertigaan Lebuh Chulia, persis di seberang grosir Mydin yang belum buka. Di sini kami beli 2 kaos untuk dipakai sendiri masing-masing seharga MYR 20 dan MYR 25, kualitas cukup baik-kualitas kaos jatah kalau ada acara kantor. Gantungan kunci model terbaru 6 biji dihargai MYR 9. Penjualnya Cina, tapi ramah dan lancar berbahasa Melayu. Dia juga punya toko oleh-oleh jeruk (manisan) aneka buah seperti nanas, mangga, apel dll yang dinamai Ali dijamin 100% halal. Tidak jelas apakah mereka muslim atau bukan. Tepat jam 10 kami balik lagi ke hotel Tune, dan check out. Kami menitipkan 1 backpack, 1 koper dan 1 tas tenteng bawaan kami, dengan membayar MYR 2 per barang setiap 24 jam. Kami juga diberi tag bernomor. Cukup murah dibandingkan harus repot angkut ke sana kemari. Setelah titip barang, kami jalan kaki 600 meter menuju KOMTAR menunggu bus Rapid Penang no 204 di terminal. Cukup lama menunggu, sekitar setengah jam kami baru ketemu bus.  Dengan membayar MYR 2.4 kami diantar ke Bukit Bendera yang ditempuh selama sekitar 1 jam. Sopirnya perempuan Cina berjilbab, namanya …binti Sofyan Tan. Sepanjang jalan kami saksikan sekolah kebangsaan (negeri), masjid negeri Penang, rumah susun Kek Lok Si Temple-kuil terbesar di Asia Tenggara. Sesampai di Bukit Bendera kami harus antri panjang. Harga tiketnya MYR 30 untuk turis dan MYR 8 untuk pemegang My Kad-KTP Malaysia, termasuk tiket naik kereta yang memanjat gunung pergi pulang. Pemandangan cukup indah, kiri kana n ada rumah liar juga ternyata. Sekitar 10 menit sampai di puncak, dan kami bersama-sama menuju Bukit Bendera dengan pemandangan kota Georgetown, laut, jembatan dan kota Butterworth di seberang laut. Ada teleskop yang bisa dipakai dengan membayar pakai koin 2 x MYR 0,5. Berhubung kehabisan uang receh, kami tak memakai fasilitas ini, toh kami sudah bawa kamera yang lebih awet dalam mengabadikan gambar. Di sini kami beli kacang berempah kari dan ramuan khas India. Enak dan unik, belum pernah kami temukan di Indonesia. Sebungkus kecil dihargai MYR 2. Kemudian kami duduk di teras yang menghadap alun alun sambil menikmati kacang rempah ini. Berhubung angin semilir dan sejuk, perut meronta minta diisi.Ha3x. maka kami makan di food courtnya.  Saya pesan Asam laksa penang yang tersohor itu seharga MYR 6 yang isinya suwiran ikan tuna, kecombrang, mie ramen, dan bumbu lain yang awalnya terasa amis lama-lama lezat memikat, diselingi pedasnya irisan cabe rawit. Istri saya pesan nasi goreng Tomyam seharga MYR 5. Pedagangnya Melayu berjilbab. Lagi-lagi kami terpikat rasa yang enak-tidak asal asalan dan harganya yang murah untuk tempat wisata terkenal seperti ini. Tempat bersih, sayuran yang akan dimasakpun ditata rapi sehingga menggugah selera makan. Kami bawa air minum sendiri-air mineral 1,5 liter dari hotel pun tidak mereka permasalahkan. Hari makin sore, sekitar pukul 15.30 kami turun menggunakan kereta kembali. Di bawah kami menunggu bus Rapid no 204 dan sampai di KOMTAR sejam kemudian. Kami cari mushola/surau di mall, tapi tak kunjung ketemu. Akhirnya kami putuskan balik ke hotel saja, untuk sholat di sana. Ternyata surau nya dikunci dan minta ke resepsionis. Surau cukup luas dan bersih. Setelah sholat kami ambil barang yang kami titipkan. Kemudian saya mencoba alat pijat elektrik yang biayanya MYR 1 per 3 menit. Cukup murah dan terasa pijatannya. Alhamdulillah, pegal-pegal di kaki, punggung dan pinggang bisa terkurangi. Setelah puas, kami jalan lagi ke KOMTAR untuk mencari bus Rapid nomor 401E yang menuju Bandara Bayan Lepas Penang. Kami tak kebagian kursi, karena sudah penuh sejak dari jetty pengkalan weld. Oh ya, di terminal KOMTAR juga ada TV papan display yang menunjukkan bus Rapid no sekian dalam waktu sekian menit akan tiba. Sangat informative dan modern. Untuk menuju bandara memakan waktu sekitar 1 jam. Melewati University Sains Malaya (USM), jembatan di atas laut dan Queensbay Mall. Di bus ini banyak bertemu TKI dan TKW yang entah mau pergi kemana. Lebih dari separuh berwajah Melayu Indonesia. Di sebelah kami ada ibu-ibu konselor TKI/TKW dari Disnaker RI yang tak henti ngobrol ke para TKI/TKW. Entah karena sudah pengalaman, dia tidak pernah salah dan selalu dapat mengidentifikasi TKI/TKW berikut daerah asalnya. Mengenai TKI/TKW kondisinya macam-macam, ada yang masih takut-takut dan minder, ada juga yang santai dan dengan cuek nya muter lagu pop Indonesia pakai speaker handphone. Umumnya mereka masih muda-muda/belia. Semoga mereka baik-baik saja di sana, walau bagaimanapun dengan segala keterbatasannya, mereka adalah pahlawan, minimal untuk keluarganya, yang berjuang dengan harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Di terminal Rapid Penang tadi juga ada kounter pengiriman uang lewat BNI dan BRI. Tepat 1 jam kami tiba di bandara. Ternyata hanya kami berdua, dan 3 orang (satu keluarga) WNI keturunan India yang turun. Selebihnya lanjut entah kemana. Hari sudah menjelang pukul 6 petang. Masih ada waktu 4 jam lagi untuk mengeksplorasi bandara ini. Namun karena di sini ada counter khusus drop baggage Air Asia, kami langsung menuju tempat ini, mumpung masih lengang. Bagasi saya timbang di counter yang tidak ada petugasnya. Koper yang sudah kami wrapping dengan plastic beratnya 20 kg, tas beratnya 8 kilo. Wah over 3 kilo dari yang sudah saya beli online (25 kg). terpaksa kami bongkar lagi tas dan kami pindahkan ke backpack. Lumayan setelah ditimbang lagi beratnya turun menjadi  4,5 kg. Tak jadi bayar kelebihan bagasi. Hahaha. Setelah itu drop bagasi dan ternyata bisa langsung check in juga, kami balik ke toko oleh-oleh, beli 5 kotak coklat khas Malaysia-Beryl seharga MYR 12/kotak, yang per kotaknya isi 3 pack aneka rasa (almond, hazelnut dan praline). Setelah itu kami makan sore di kopitiam halal, beli nasi dan bihun goring seharga total MYR 15. Ngobrol sampai puas. Sekitar pukul 19.30 kami masuk ke ruang keberangkatan di imigrasi Malaysia. Proses singkat dan lancar, kemudian kami ke ruang tunggu. Tak seperti rute Ho Chi Minh-Jakarta yang diisi backpacker bule dan anak-anak muda yang suka jalan-jalan, rute Penang-Jakarta ini banyak diisi orang mampu/kaya yang berobat di Penang hospital yang terkenal ramah terhadap pasien. Bahkan kabarnya pasien boleh menginap di hotel/apartemen. Jika biasanya announcement AirAsia tidak banyak basa basi, kali ini ketika akan naik pesawat petugas menyambut istri saya“ Encik mau ke Jakarta?, hati-hati di perjalanan” dan Di perjalanan pulang ini kami sudah pesan online nasi lemak pak Nasser dan Lasagna Combo yang enak, meski tampilannya agak berantakan. Setelah makan kami tidur sampai akhirnya ketika akan mendarat di Jakarta ada sambutan dari pramugara “ For foreigner, welcome to Jakarta Indonesia. And for Indonesian, welcome home”. So sweet. Duh serasa puluhan tahun di luar negeri.

Perjalanan yang sangat mengesankan.