Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Sesudah sholat Subuh kami tidur lagi, karena semalam baru bisa tidur jam 2 dinihari. Pagi ini kami akan mengisi sehari penuh dengan jalan-jalan di ibukota Pulau Pinang, yaitu Georgetown yang meliputi bagian kota tua yang mendapat gelar world heritage city oleh UNESCO. Agenda pertama adalah sarapan di Al Hass. Saya pesan nasi campur lauk ayam, istri pesan nasi campur sayur lauk telur ikan. Minumnya teh tarik. Untuk makan minum yang sangat banyak dan mengenyangkan ini kami membayar MYR 12. Dari sini kami menyeberang menggunakan tangga penyeberangan  ke arah jalan Penang berbaur dengan turis dan warga lokal. Sepanjang jalan kami temui toko souvenir dan oleh-oleh. Pedagangnya campur, ada Melayu, Cina, India. Di sebelah kantor polisi ada pusat grosir Mydin. Dari jalan Penang kami melalui Lebuh Campbell, Lebuh Chulia, di sini ada Love Lane, area dengan banyak hostel backpacker berada, kami belok kanan ada masjid Kapitan Keling. Cukup mencolok, mengingat toko kuno dan bangunan lain di sekitarnya yang kecil-kecil. Kami jamak sholat Dzuhur dan Ashar di sini. Masjid ini peninggalan kapitan Caudeer Mohudeen. Di sekitarnya ada warung nasi Kandar, toko emas, kain yang bernuansa Islam, kantor komunitas Islam keturunan India. Sepanjangan jalan kami temui gedung kuno yang terawat dan masih digunakan sebagai toko dan kantor. Dari masjid kami mampir ke Pos Malaysia di samping masjid. Di sini kami beli prangko untuk kirim kartu pos ke Indonesia. Cukup murah, hanya 50 sen Ringgit (IDR 1500) untuk pengiriman ke Indonesia, tarif yang tidak berubah sama dengan tahun 2010. Berhubung belum belum beli kartu pos dan di sini tidak menjual kartu pos, saya simpan saja 4 keping prangko di dompet. Dari sini jalan terus sepanjang jalan Masjid Kapitan Keling, melewati Sri Mahariaman Temple, gereja St.George’s dan di sebelahnya ada museum Negeri Penang. Tarif masuk museum hanya MYR 1 untuk umum dan MYR 0,5 untuk pelajar. Sangat murah. Di dalamnya ada informasi sejarah Penang dari zaman penjajahan Inggris, Jepang, hingga kemerdekaan. Ada juga gambaran etnis besar yang ada di Malaysia. Suku Jawa, Aceh, Minangkabau dan Bugis ditampilkan sendiri sebagai bagian dari etnis Melayu. Yang membanggakan disebutkan orang Bugis pemberani, menjadi penguasa kerajaan Selangor hingga saat ini, orang Aceh dan Minang sebagai saudagar dan pedagang, sedangkan orang Jawa sebagai orang yang ulet dan tahan lasak (tahan banting).Selain itu ada juga orang Siam, Burma sebagi sub etnis Cina dan terakhir adalah etnis  India dengan berbagai sukunya. Diorama sangat bagus, dilengkapi dengan barang asli maupun imitasi tentang suatu peristiwa, misalnya senjata saat kerusuhan, sejarah kopitiam, sejarah piala Thomas local ala Malaysia. Di sini pengunjung juga bisa main congkak (dakon), dam aji (dam-daman), batu seremban dengan guide warga melayu Malaysia. Semua bagian etnis melayu hampir sama dan ada di Indonesia, karena latar belakang orang nya juga sama, pendatang dari kepulauan nusantara/Indonesia juga yang merantau ke sana ratusan tahun lalu hingga sekarang, sehingga membentuk budaya melayu seperti sekarang. Jadi stop bakar-bakaran/musuhan dengan Malaysia karena budaya itu memang ada juga di mereka. Yang asli/originalnya memang ada di Indonesia. Mereka pandai mendokumentasikan/melestarikan apa yang mereka dapat dari nenek moyangnya. Daripada teriak-teriak ganyang Malaysia dan nyatanya lebih menikmati hedonisme ala barat/Amerika, lebih baik kita bersyukur ada saudara kita meski beda negara, yang mau melestarikan budaya kita. Stop mental kere.Di museum ini juga menceritakan sejarah bangsa asingsampai ke Penang, diantaranya karena perdagangan rempah-rempah dan strategisnya pulau ini yang juga memiliki sumber air tawar yang melimpah.

Dari sini ke halte bus CAT (gratis) yang mengantar kami keliling kota Penang. Kami turun di halte Town Hall (balai kota), jalan kaki menuju pantai. Karena hujan, kami berteduh ke kompleks makanan medan renong yang ada di sebelahnya. Kami makan pasembor-rujak India yang isinya gorengan udang, nugget ikan, cumi, telur dll, yang 6 potongnya dihargai MYR 13 plus air mineral 1,5 liter dan soda plus 100 MYR 4,8. Cukup kenyang buat makan sore berdua. Sesudah hujan reda, kami jalan lagi melalui pantai yang banyak dimanfaatkan masyarakat untuk memancing. Akhirnya sampai di ujung ada fort/benteng Conrwallis yang berseberangan dengan kantor pelancongan/pariwisata Malaysia. Di dekatnya ada menara jam Queen Victoria. Tak jauh dari situ ada dermaga dimana kapal pesiar Superstar Libra bersandar yang rutenya Singapura-Penang-Phuket bolak balik yang berangkat tiap Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu.  Dari dermaga kami lanjut menyusuri lebuh pantai yang terdiri dari banyak bangunan megah tempo dulu dan menjadi kantor bank-bank seperti Standart Chartered, RBS, CIMB dll, kami juga melewati little India yang diisi pusat grosir rempah-rempah impor dari India. Total kami jalan sekitar satu jam hingga sampailah di terminal bus Pengkalan Weld, kemudian naik bus CAT ke arah KOMTAR (Kompleks Tun Abdul Razak),di KOMTAR ada pusat perbelanjaan dan bisa naik ke puncak gedung berlantai 65 ini dengan membayar MYR 30. Karena ada rencana ke Bukit Bendera, wisata panorama Penang dengan lift ini kami coret dari daftar. Kami hanya makan di Mc Donald yang kebetulan menjual produk baru : Samurai Burger, lengkap dengan syrup strawberry, kentang dan sayuran. Harganya MYR 10, lebih banyak dan murah daripada MC D Indonesia. Setelah kenyang kami belanja bekal di Giant untuk beli aneka bumbu masak khas Malaysia, kemudian balik ke hotel yang berjarak 600 meter dengan jalan kaki melalui jalan Penang yang banyak menjual obat-obatan Cina, baju dan peralatan foto. Pertokoan kuno yang sepi dan banyak ditinggalkan, agak menyeramkan/berbahaya kalau perempuan jalan sendiri. Sampai hotel sudah jam 10 malam. Kami sempat ngemil jajanan dan buah yang kami beli tadi sambil streaming radio di BB kami dan menyalakan AC yang masih ada sisa kuota 8,5 jam.Capek namun menyenangkan 12 jam menelusuri down town (pusat kota) Georgetown Penang yang bersejarah dan menjadi bagian World Heritage oleh UNESCO.