Tag

, , , ,

Situasi

Jangan bayangkan Negara Vietnam khususnya Ho Chi Minh City adalah tempat yang terbelakang, anti barat dan kaku. Meski negara sosialis dan pernah mengalahkan Amerika Serikat, nyatanya mereka juga sangat hedonis dan seperti negara ekonomi kapitalis lainnya. Bedanya produk yang dijual adalah produk branded asal Amerika dan Eropa Barat, namun investornya adalah pengusaha dari Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Singapura. Mereka kelihatan sangat terbuka terhadap investasi asing. Istilahnya otak sosialis, perut kapitalis. Mereka juga respek begitu tahu kami dari Indonesia, mungkin karena negara paling besar di ASEAN dan sering membantu mereka (masalah manusia perahu, penengah konflik Spartly, memberi pelatihan/menjadi guru bagi petani kopi hingga mereka kini produsen kopi ke 2 terbesar di dunia setelah Brazil-melampaui Indonesia yang menjadi gurunya). Turis Malaysia sangat banyak, sehingga kami selalu dikira orang Malaysia (maklum muka Melayu) oleh pedagang dan tukang becak/ojek.

Keuangan

–          Siapkan bekal dalam USD, karena kalau beli Dong (VND) di Indonesia susah dan dihargai sama dengan Rupiah (IDR). Padahal di sini 1 USD = 20800 VND. Kalau kita kembalikan ke Rupiah 1 IDR = 2,19 VND. Tapi kalau Rupiah ditukar di sini bisa jadi tidak laku, kalaupun laku tidak mendapat kurs yang wajar.

–          Bawa ATM dari Indonesia. Kartu ATM Indonesia bisa dipakai di sini. Utamanya yang ada logo Visa atau Mastercard. Ada fee nya sekitar 20000-45000 VND. Saya pakai ATM Mandiri, ambil 2 juta VND, saldo di Mandiri berkurang 939 ribu IDR (1 IDR = 2,13 VND)

–          Hati-hati menukar uang di  money changer. Selalu ada fee nya. Saya menukar 100 USD di counter kantor pos pusat Saigon, dipapan kurs 1 USD = 20.800 VND, seharusnya dapat 2.080.000 VND tapi yang saya terima hanya 2.008.000 alias berkurang 72.000 VND dari seharusnya. Entah fee atau korupsi (pendapat pribadi : aroma korupsi terasa di sini-dibanding Jakarta, KL, Singapura atau Bangkok) yang jelas mereka enggan memberikan slip penukaran. Kalaupun diberikan slip, kadang mereka mencoret-coret nomor registrasinya dan ditulis dengan tulisan tangan tanpa copy karbon.

Transportasi

–          Paling aman dan direkomendasikan adalah taksi Vinasun dan Mai Linh yang selalu pakai argometer. Saat tiba sudah malam, kedua taksi sudah tidak ada. Pilihan tinggal 2:  taksi yg ada di luar atau pesan ke travel agent Sasco yang merangkap money changer dan menjual voucher taksi. Harganya USD 16 atau VND 315.000. Saat berangkat ke bandara pakai Vinasun dalam kondisi macet total argonya VND 126.000, biaya parkir bandara VND 10.000, saya berikan VND 200.000, kembaliannya VND 20.000, artinya VND 44.000 diambil sopir sebagai tips. Jadi siapkan uang pas antisipasi tidak punya kembalian seperti yang saya alami. Tiap taksi ada mesin gesek, tapi kebetulan sopir yang bawa kami sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris, plus tidak bisa mengoperasikan mesin gesek. Hanya bisa senyum senyum kebingungan.

–          Transport dalam kota bisa menggunakan bis kota yg hanya VND 4.000/jalan, ojek dan becak. Tidak sempat mencoba ketiga moda transportasi ini

–          Jalan kaki. Ini cara termudah dan termurah untuk yang tinggal sekitar distrik 1-Dong Khoi. Trotoar yang lebar, pohon yang besar dan rindang, bangunan yang megah dan enak dilihat, sayang kalau hanya terlewat dengan taksi. Di area ini ada Opera House, Rex Hotel, City Hall, Katedral, Kantor Pos, gedung tertinggi Bitexco yang bisa melihat semua arah kota Saigon, patung Ho Chi Minh, pusat perbelanjaan Diamond, Vincom, Saigon Center, Ben Tanh market dan beraneka toko souvenir, butik, toko kain, pelabuhan untuk kapal wisata Saigon Cruise dan aneka pusat perbelanjaan rakyat Vietnam. Sangat menarik

Makanan halal

–          Kami baru sempat mencoba 2 restoran halal dan 1 KFC untuk makan siang dan malam. Di selingi mi instan halal produk Thailand (I-mee) dan Vietnam (Vifon). Restoran halal yaitu D’Nyonya dan Halal@Saigon. Restoran D’Nyonya lebih mahal, namun pendapat saya rasanya lebih enak, tempat dan karyawannya kelihatan lebih bersih dan menarik (ada beberapa lukisan kanvas yang dipasang di dinding dan di jual) yang punya kelihatannya Chinese Malaysia Muslim terlihat dari kaligrafi Allah-Muhammad terpasang di dinding. Sedangkan Halal@Saigon kabarnya yang punya India non Muslim, tempatnya seperti warung biasa, kurang bersih, namun lebih murah 15%. Contoh Pho di D’Nyonya 90.000 VND di Halal@Saigon 75.000 VND. Ada harga ada rupa. Untuk KFC kurang jelas, karena tidak ada label halalnya. Namun mereka tidak jual menu babi seperti umumnya restoran di Vietnam. Sedangkan mi instan halal dari dua Negara ini bisa dijadikan cemilan, mengingat teksturnya yang renyah dan sudah berbumbu. Apalagi kalau dicampurkan bumbu instan nya, tambah nendang.

Telekomunikasi

–          Telkomsel prabayar (As, Simpati) bisa langsung tersambung dengan operator lokal. Ada SMS konfirmasi dari Telkomsel apa operator rekanannya di Vietnam (VN-Viettel) pastikan selalu tersambung dengan jaringan ini supaya mendapat tariff termurah. Sedangkan kartu Indosat saya (IM3) tidak ada teman operator di Vietnam-tidak ada sinyal sama sekali meski sudah di search jaringan operator lokalnya.

–          WIFI dan jaringan internet tersedia gratis di hotel. Meski sinyal WIFI 1 strip, bisa dipakai untuk streaming youtube tanpa putus. Upgrade software android di Galaxy Note dari OS 2 ke OS 4 hanya perlu waktu kurang dari 1 jam. Padahal kalau pakai WIFI di Indonesia, 2 jam download saja belum tuntas. Entahlah teknologi apa yang mereka pakai.

–          Facebook dan blogging diblokir. Sedangkan website wisata dan perbankan dari Indonesia (situs Bank Mandiri, BCA, BNI) bisa dibuka cepat dan bisa transaksi internet banking dengan aman.

Souvenir dan Oleh-oleh

–          Di internet, banyak wisatawan menyarankan jangan membeli souvenir dan oleh-oleh di Pasar Ben Tanh. Sangat touristy/mahal, harus tawar menawar, banyak barang palsu yang made in China. Lebih baik ke toko souvenir yang banyak di datangi turis Jepang yang kelihatannya sudah sering ke sini. Untuk di daerah Dong Khoi bisa mencari souvenir (kaos) di toko Du Du, dekat pertigaan Sheraton/Masjid Central. Daerah lain bisa cari di google website virtual tourist mengenai Ho Chi Minh City/Saigon. Penilaiannya biasanya jujur/sesuai.

Untuk makan, cari saja di supermarket Thuong Xa Tax-mall Saigon Center. Snack dan makanan halal (antara lain kue wijen, mente goreng dll) yang bisa untuk oleh-oleh bisa ditemukan di sini dengan harga standar supermarket. Buah yang jarang ditemui di Indonesia juga bisa ditemukan di sini misalnya buah Plum, seharga VND 40.000 untuk 8 buah (IDR 2.500/buah).

Airport

-Tan Son Nhat adalah nama bandara di Ho Chi Minh (Saigon) berjarak 7 km dari pusat kota. Tarif taksi meter Vinasun dari pusat kota sekitar VND 140.000 (IDR 65.000/USD 7).

-Air Asia yang terbang ke Vietnam adalah Air Asia Indonesia, Malaysia dan Thailand, belum ada Air Asia Vietnam. Tenaga kerja nya outsourcing masyarakat lokal Vietnam. Tidak ada counter check in yang dedicated untuk Air Asia. Lihat display tempat  check in yang terpampang dekat pintu masuk. Cetak tiket Air Asia di bandara kabarnya USD 3/tiket. Sebaiknya dicetak di tanah air.