Tag

, , , ,

Untuk Air Asia ke HCMC berangkat dari terminal 3 yang bisa ditempuh dengan shuttle bus gratis dari terminal 2 dan 1. Menurut petugas informasi, shuttle bus ini tersedia 24 jam.  Meski belum check in kami sudah bisa masuk ke dalam tanpa perlu menujukkan boarding pass, namun tetap dilakukan screening barang bawaan. ruang tunggu keberangkatanDi dalam tersedia tempat makan Bakmi GM dan  Circle K yang posisinya bersebelahan, ada juga donat J.Co yang ada di depan. Restoran padang Minang Bistro juga tersedia dengan harga yang cukup bersaing 25 ribu/menu. karena kabarnya di HCMC susah cari makanan halal, di Circle K kami beli bekal berupa roti. ATM Mandiri, BNI, CIMB Niaga, BRI, BCA, Danamon tersedia di lantai 1 dan 2. Sedangkan money changer ada BNI dan Mandiri. Istri saya yang pertama kali ke sini suka dengan desain terminal 3 yang lain dari terminal 1 &2. check in terminal 3 jakartaLumayan buat nunggu pesawat yang baru berangkat 4 jam lagi. Selain menunggu di tempat tunggu umum, bisa juga menunggu di restoran dan lounge  yang bertarif sekitar Rp 50 ribu/orang dan bisa gratis untuk pemegang kartu kredit tertentu.De Green Lounge

Kami naik pesawat tepat pukul  16:30 WIB dengan pesawat AirAsia QZ7736 dari Jakarta menuju Saigon/Ho Chi Minh (HCMC) yang ditempuh selama 3 jam. Waktu Vietnam sama dengan WIB, jadi tak perlu mengubah jam. Di pesawat ini hampir seluruh awaknya orang Indonesia, maklum dari kodenya pun (QZ) sudah ketahuan bahwa ini AirAsia Indonesia. Seragam sekarang lebih sederhana, mirip seragam SPG di toko elektronik. Di pesawat kami di layani terlebih dahulu karena sudah memesan via online jauh-jauh hari yaitu makan nasi padangnasi padang dan nasi kuning manado nasi kuning manadoyang masing2 dihargai Rp 35 ribu. Dan juga comfort kit yang terdiri dari bantal leher yg bisa diisi angin, selimut acryliccomfort kit ukuran 100×160 cm dan penutup mata. Mengenai makanan, rasa standar makan di pesawat-tidak seenak di rumah makan terkenal di darat, namun kali ini nasi dan lauknya melimpah, sampai menggembung kemasannya.

Tepat pukul 18:30 waktu Vietnam pesawat mendarat di Tan Son Nhat Airport, cukup jauh lokasi parkir pesawat dengan tempat pendaratan. Bandaranya bagus, baru dan modern, mirip terminal 3 Cengkareng namun luasnya seperti Bandara Juanda Surabaya. Tempat pemasangan iklan masih banyak yang kosong. Dari sini keluar ke imigrasi. Yang unik di Vietnam tak perlu isi formulir imigrasi, langsung saja ke loket imigrasi yang sangat banyak-ada puluhan, jadi tak perlu lama antri bisa langsung ke loket. Sempat ditebak saya dari Singapura, mungkin saking banyaknya turis dari Singapura ke sini. Mereka cukup respek ketika tahu dari Indonesia, mungkin karena Negara paling besar di ASEAN dan pernah menampung manusia perahu dari Vietnam. Secara umum orang Vietnam lebih kuning dari orang Indonesia, seperti campuran Cina dengan Melayu tapi kadar Cina nya lebih dominan. Baik cowok ceweknya cakep semua untuk ukuran Indonesia. Entah kebetulan karena bekerja di bandara. Di sini banyak mesin ATM yang bisa menerima kartu debit dari Indonesia.  Bahkan ada tulisan iklan dari Visa yang artinya kurang lebih dari manapun kartu debit Visa anda, bisa dipakai di Vietnam. Saya coba pakai debit Mandiri dan tarik tunai di ATM Agribank di ujung kanan pintu kedatangan internasional, saya ambil 2 juta Dong (VND), kena charge 20 ribu Dong (1%), ketika sampai hotel saya cek di Internet Banking Mandiri, terjadi pengurangan 939 ribu rupiah ( 1 rupiah = 2,13 dong). Kurs sebenarnya hari ini 1 rupiah = 2,19 dong, namun kalau bawa Rupiah terus ditukar dengan Dong di money changer Jakarta atau di Vietnam kabarnya 1 rupiah = 1 dong. Cukup worthed mengambil uang di ATM Vietnam pakai debit Visa Mandiri.  Setelah urusan ambil uang,berikutnya kesibukan mencari taksi. Saya cari taksi recommended macam Blue Bird nya HCMC, yaitu Vinasun, tak satupun muncul, Mai Linh yang juga recommended sudah tutup outlet pemesanan taksinya. Tahu kami kebingungan, penumpang AirAsia di sebelah kami yang ternyata orang Vietnam (tadinya saya kira orang Manado) datang dan menyarankan cari ibu2 yang pakai seragam baju khas Vietnam, saya ke outlet Sasco di dalam bandara (bisa masuk lagi meski sudah keluar  bandara) dan dikasih harga 16 USD (315 ribu Dong=150 ribu Rupiah). Kalau dapat Vinasun atau Mai Linh kabarnya cukup bayar 7 USD. Tak apalah, daripada naik taksi tanpa argo di luar yang kabarnya bisa men charge lebih dari satu juta Dong untuk jarak bandara-tengah kota HCMC yang berjarak hanya 8 km. Kendaraan taksi ini menggunakan Toyota Innova yang masih baru (umumnya taksi di HCMC pakai Toyota Innova).

Perjalanan ke tengah kota HCMC memakan waktu sekitar 30 menit, melewati jalan yang penuh bangunan kuno semacam yang ada di Bandung, namun bedanya di sini jalannya lebar lebar. Gemerlap kota begitu terasa, hotel, deretan toko dan di selingi pedagang makanan pinggir jalan yang agak jorok-buang sisa makanan di pinggir jalan. Pukul 20.30 kami tiba di Hotel Tan Hai Long 4 di Jalan Hai Ba Trung No 81 tak jauh-100 meteran dari kawasan elit di HCMC. Kami pesan menginap 3 malam dengan rate 100 USD include tax di kamar superior tanpa jendela, karena sedang penuh, kami diupgrade ke kamar deluxe yang ada jendelanya 2 biji. Lumayan kamarnya, setara dengan hotel bintang 3. Ada TV kabel 40 channelTV 32 inc, AC, 3 tempat colokan listrik yang masing2 2 colokan, lemari, coffee/tea maker, safety deposit box, kamar mandi yang dilengkapi shower,bath up,hairdryer dan amenities lengkapkamar mandi.