Tag

tulah yang mengusik hati saya hari ini bersamaan dengan pengumuman hasil ujian SNMPTN 2012 hari ini. Mencermati uang masuk  dan biaya yang sudah hampir pasti sampai lulus yang dibandrol untuk beberapa perguruan tinggi, rasanya seperti di luar nalar. Utamanya untuk jalur mandiri-jalur alternatif buat yang tidak lolos SNMPTN tapi ngebet pengen kuliah di kampus/jurusan idamannya. Terlepas karena keinginan diri sendiri ataupun orang lain (orang tua/saudara dll).

Sebagai contoh jurusan Akuntansi di PTN B-Malang dan PTN G-Jogja yang dua-duanya menggunakan pengantar Bahasa Inggris (kelas internasional), kalau dihitung2 untuk PTN B diperlukan biaya pendidikan (di luar biaya hidup) akan menghabiskan sekitar Rp 85 juta mulai pendaftaran sampai lulus, sedangkan di PTN G sekitar Rp 202 juta. Rinciannya :

PTN B : Pendaftaran/ujian masuk Rp 400 ribu, jika diterima bayar SPFP Rp 46,9 juta,Iuran masuk (tes Bahasa Inggris,ICCC,ORDIK,ORMAWA,Perpustakaan,IT, Jaket almamater) Rp 2,285 juta, setiap semester bayar SPP Rp 4,2 juta, DBP Rp 150 ribu, bandwidht Rp 75 ribu x 8 semester = Rp 34,5 juta. Total Rp 85 juta.

Sedangkan di PTN G hitungannya lebih simpel : Biaya tes Rp 1,25 juta, tuition fee Rp 25 juta/ semester x 8 semester = Rp 200 juta, asuransi Rp 40 ribu, KKN Rp 1,05 juta. Total Rp 202 juta.

Jadi ingat biaya kuliah 14 tahun lalu di kampus passing grade tertinggi di Indonesia-PTN T-Bandung, ujian UMPTN Rp 75 ribu (IPC), iuran masuk(tes TOEFL, perpustakaan, jaket almamater, baju&celana olahraga) Rp 2,25 juta, SPP Rp 450 ribu/semester x 8 semester Rp 3,6 juta. Total Rp 7 juta. Begitu lulus, bekerja, gaji 2 bulan bisa buat nutup biaya kuliah. Saat itu PTN B dan PTN G lebih murah-separuh SPP nya dibanding PTN T.

Sekarang, mana ada perusahaan di Indonesia yang membayar fresh graduate Rp 45-100 juta/bulan supaya bisa nutup biaya kuliah dengan 2 bulan gaji, kecuali harus terbang ke negara yang standar hidupnya tinggi. Memang agak naif membandingkan biaya pendidikan dengan pendapatan yang diterima lulusannya sesaat setelah lulus (fresh graduate), namun paling tidak menyadarkan bahwa kuliah semakin mahal, kalau mau murah jadilah yang terbaik supaya mendapat beasiswa bahkan bisa kuliah gratis di kampus yang bonafide sekalipun. Atau kemahalan ini justru membuat mahasiswa makin kreatif untuk berwirausaha demi mendapat rezeki halal yang bisa membantu membiayai kuliahnya. Mudah-mudahan kemahalan ini bukan sekedar buat memenuhi nafsu gaya hidup pengelolanya yang berfikir “gue pasang harga segini tetap ada yang mau kok”.