Tag

, , ,

Senin, 19 September 2011

Hari ini kami baru sarapan sekitar jam 9. Karena setelah sholat Subuh jam 5 kami tertidur. Sama dengan hari sebelumnya kami dibuatkan makan vegetarian yang terdiri dari kentang kukus yang dihancurkan, tomat panggang, bayam tumis dan dialasi dengan saus jeruk. Kami juga mengambil salad dan buah potong. Dari dua hari pengamatan saya Thailand memang melimpah dengan produk pertanian bermutu. Semuanya enak. Konon kerajaan sangat memperhatikan pengembangan pertanian karena menyangkut prestise negara dan kebutuhan dasar masyarakat.

Jam 9.30 kami menyetop taksi warna kuning (atas) hijau (bawah) yang kata seorang teman selalu menggunakan argometer. Hari ini sengaja menggunakan taksi karena ke Royal Palace yang tidak ada jalur untuk BTS. Dan benar, taksi di sini cukup murah. Tarif buka pintu THB 35 dan tiap km biayanya THB 2. Sekalipun agak macet total biayanya THB 95 (Rp 28 ribu). Sopir taksinya yang sudah lansia ini juga sangat jujur dengan menunjukkan pintu masuk yang tepat. Ini sangat penting karena banyak sekali kasus orang yang tertipu calo di sekitar gerbang yang mengatakan istana sedang tutup dan diputar-putar yang ujungnya kekecewaan.

Karena benar-benar sedang istirahat makan siang-dari penjelasan petugas berseragam kami berjalan menyusuri trotoar yang sejajar dengan lapangan Sanam Luang sambil mengabaikan bujukan dari calo-calo. Sampai akhirnya kami sampai di Wat Mahatat yang dibangun oleh King Rama I (raja sekarang King Rama IX), di sana kami bertemu dengan ibu-ibu paruh baya yang memperkenalkan dirinya bernama Bu Viphawan yang juga wisatawan dari Chiang Mai yang baru datang ke Bangkok 3x. Beliau mengaku sebagai perawat di rumah sakit, yang pada kesempatan ini mengantarkan ayahnya untuk meditasi di Wat ini. Orang nya lancar berbahasa Ingggris, ramah, antusias dan memberikan tips untuk wisata air yang hemat, mulai dari berapa harga sewa tuk-tuk sampai dermaga, dan berapa tarif mengambil paket wisata melalui rute dekat Khaosan, Royal Barge sampai ke dermaga terdekat. Dan kebetulan istri tidak berminat naik perahu, dengan mengucapkan terimakasih kami pamit dan kembali ke Royal Palace yang ternyata sudah buka kembali.

Jujur saja, saya bukan penikmat sejarah. Namun rasanya kurang lengkap kalau ke Bangkok tidak mengunjungi tempat ini. Di sini kami ketemu bapak-bapak bule yang ramah dan proaktif membantu memfoto kami. Sebelum masuk ke istana kami beli tiket seharga THB 400/orang (Rp 120 ribu) yang bisa akses masuk ke Royal Palace, Museum Koin dan simbol kerajaan, dan Vimanmek Mansion (yang ini adanya terpisah seperempat jam dari istana). Kami sempat juga membeli kartu pos dan prangko untuk dikirim ke Indonesia. Biayanya THB 5 untuk kartu pos dan THB 15 untuk prangko nya. Cukup murah memang dengan uang sekitar Rp 6 ribu bisa kirim bukti sudah sampai Bangkok.

Kembali ke topik, disini ada bermacam Wat (Candi/Pura) dan di dinding terdapat relief yang menceritakan sejarah kerajaan Thai, berikut kegunaan bangunan-bangunan bersejarah tersebut di masa lalu. Yang paling menarik buat saya adalah istana kerajaan yang besar sekaligus megah dan penjaga yang mengenakan seragam kebesarannya seperti penjaga yang ada di istana Jogja maupun London.

Panas sekali siang itu, tak perlu berlama-lama kami segera kembali ke hotel. Berhubung sudah jam 2 siang, jalan agak lengang, maka argometer taksi pun hanya THB 85 (Rp 25 ribu) dengan waktu tempuh sekitar 35 menit. Kami sholat dan mendinginkan badan dulu di kamar hotel.

Setelah agak segar, jam 4.30 sore kami jalan lagi menuju BTS Sanam Pao untuk menuju BTS Siam dimana Siam Paragon berada. Dan di dalam Siam Paragon ini pula ada Siam Ocean World yang mengklaim sebagai Sea World terbesar di Asia Tenggara. Kami sempat tersasar, meski sama-sama di basement tetapi jalan aksesnya. Kami tersasar di parkiran mobil dan mushola yang besar sekali (3x mushola mall yang umum di Indonesia). Salut, meski mayoritas Budha, tetapi ada perhatian kepada kebutuhan ibadah umat Islam.

Setelah menemukan lokasi Ocean World, kami foto-foto dulu di sign board Ocean World. Berhubung saya sudah reservasi online sebelumnya, kami dapat potongan yang lumayan. Harga tiket masuk aslinya THB 900 dapat potongan 30% sehingga kami cukup bayar THB 630/orang (Rp 190 ribu). Cukup mahal memang, tapi saya rasa masih wajar mengingat biaya pembangunan dan pengelolaan tentunya juga sangat mahal. Ikan dan binatang air di sini sangat lengkap, besar dan di tata sedemikian rupa. Ada kolam sedalam 6 meter yang isinya beraneka binatang laut yang bisa kita lihat dengan mata telanjang, ada lorong dengan permukaan kaca 270 derajat yang berisi hewan dan biota laut. Kemudian ada pertunjukan pemberian makanan untuk ikan. Untuk mengunjungi semua paling tidak satu jam waktu yang diperlukan. Setelah hati dan fikiran terhibur, kami check out dengan mampir ke toko souvenir untuk membeli satu kaos khas dengan logo Ocean World.

Kami keluar dari Siam Paragon menuju pasar tumpah di seberang jalan menggunakan jembatan penyeberangan, dari pasar tumpah tersebut menyambung ke jembatan penyeberangan ke mall MBK yang sangat dikenal turis-turis dari Indonesia. Ternyata mall ini mirip ITC, tetapi lebih terang benderang, jalannya mungkin 2xlebih lebar dan barang jualannya unik-unik. Kami tidak berlama-lama di sini karena jam 7 ada janji ketemu dengan orang Thailand Muslim di Siam Paragon, yang sering saya antar saat kunjungan kantor ke Indonesia. Kali ini beliau yang menjadi tuan rumahnya.

Dari MBK ke Siam Paragon kami menggunakan jembatan penyeberangan masuk Siam Center, Siam Discovery baru ke Siam Paragon. Disini kami bertemu dengan beliau dan kami di ajak makan di komunitas Muslim Pattani yang berlokasi di  Petchaburi Soi 7, dekat masjid Darul Aman, yang hanya berjarak 1 stasiun BTS dan kami turun di BTS Ratcathewi. Ternyata restoran langganannya tutup, akhirnya kami makan di restoran Hayati. Di sini kami makan Tom Yam terenak yang pernah kami makan, ikan gurame goreng, kwetiau goreng dan daging sapi goreng. Menjadi kebiasaan orang Thai untuk makan dalam porsi besar dan dimakan bersama-sama. Oh ya, tidak seperti di Singapura, di sini kami bisa mendengarkan suara adzan, karena di Bangkok boleh menggunakan speaker. Alhamdulillah serasa menemukan oase.

Sekitar jam 9 acara makan-makan kami selesai, saya 100% ditraktir oleh tuan rumah, plus nebeng gratis taksi ke hotel. Terimakasih pak, sudah menjamu kami dengan sangat baik dan mengesankan.

Setelah sholat akhirnya jam 11 kami sudah lelap dalam peraduan.