Tag

, , , , , , , , ,

Minggu, 18 September 2011
Kami bangun agak siang hari ini, jam 6 pagi. Setelah sholat Subuh kami segera mandi dan bersiap-siap menikmati pengalaman baru di hari kedua ini. Tujuan kami adalah ke Chatuchak Weekend Market yang buka jam 8 pagi.
Jam 7.30 kami sarapan dulu di restoran yang ada di lantai bawah (satu lantai dengan lobby/resepsionis). Berhubung kami minta makanan halal, mereka menyiapkan secara khusus makanan vegetarian buat kami. Yang terdiri dari Potato Mashed (kentang tumbuk) dan sayur asparagus tumis. Enak. Mereka juga mengenalkan chef mereka yang Muslim yang bernama Anan. Untuk buah potong dan aneka minuman tidak menjadi masalah. Insya Allah makanan ini benar-benar halal dan thoyib. Tak satupun kulihat wanita berjilbab (cara mudah mengidentifikasi muslimah) makan pagi di sini, padahal saat check in kulihat nenek-nenek Melayu berjilbab bersama suaminya senyum ramah menyapa kami.
Setelah makan kami bergegas ke BTS Sanam Pao untuk menuju BTS MoChit di mana Chatuchak Weekend Market berada di dekatnya. Sekitar 15 menit kami sampai di BTS ini.Untuk menuju pasar kami berjalan melewati taman dan masuk lewat samping. Sambutan pertama adalah bau selokan yang sama seperti umumnya pasar di Indonesia. Tapi dari segi kebersihan lumayan bersih. Sekitar jam 10 pasar mulai ramai oleh turis, dan kios-kios buka secara penuh. Ternyata pasar ini sangat luas (ada 26 section-blok) dan lengkap jualannya. Harga-harga juga bersaing dengan pasar di Indonesia. Yang saya salut meski jualan di pasar kaos souvenir yang di jual berbeda-beda dan unik, karena mereka punya desain sendiri-terutama di section/blok 14. Istimewa. Bermodal bahasa Inggris yang terbatas dan kalkulator mereka lancar bertransaksi. Serasa di negeri sendiri mengingat penampakan orangnya juga mirip dengan orang kita. Tak di Pasar Baru Bandung dan Tanah Abang jakarta, disini pun banyak sekali turis Malaysia. Meski beda negara, referensi makanan halal dan selera nya relatif sama, sehingga sering kali ketemu di tempat makan dan mushola. 
Setelah 4 jam mengubek-ubek isi pasar kami mencari tempat makan siang. Siang ini kami makan di Saman Moslem Restauran tak jauh dari Tower Clock (sangat mudah mencarinya). Kami memesan Nasi Briyani dengan daging sapi, dan Mi Bihun kuah dengan irisan daging dan bakso sapi. Untuk minum kami minum air kelapa yang masih ada di batoknya. Untuk makanan terasa nikmat, meski makanan ini tak lazim kami makan dan dalam porsi besar. Untuk air kelapa, terlalu tua daging kelapanya (sudah mulai bersantan). Total jendral THB 200 (Rp 60 ribu). Puas.
Setelah kenyang kami ke bagian depan untuk mencari mesin ATM yang berderet di pusat penerangan. Di sini pula kami disapa dengan ramah oleh kakek-kakek pegawai penerangan-dalam Bahasa Melayu, dan tanpa ditanya memberitahu bahwa lokasi mushola ada di belakang ATM TMB Bank. Ramah dan atraktif. Jangan membayangkan petugas penerangan memakai baju abu-abu seperti pegawai lapangan di Indonesia, mereka pakai baju putih bersih seperti seragam safari TNI AL.
Dalam acara belanja ini kami bisa dapat kaos seharga THB 140/piece ( Rp 42 ribu) dengan kualitas kain cukup bagus. Kalau mau yang lebih murah ada yang seharga THB 100/2 piece atau seharga Rp 15 ribu/lembar, desain lucu-lucu tetapi kainnya tipis sekali.ada juga baju obralan department store kualitas kain lumayan yang harganya juga sekitar THB 50 tapi sablonan nya tidak mencirikan Thailand, sehingga kurang pas rasanya buat oleh-oleh. Magnet kulkas THB 100/3 piece, asesoris wanita THB 20, bumbu Tom Yam dan Kari (bersertifikat halal) THB 20, bumbu Tom yam dan cabai kering THB 30.
Setelah puas dan kaki pegal kami balik menuju BTS Mochit. Di kiri kanan jalan kami lihat aneka jualan dan performing art dari mahasiswa yang di OSPEK maupun seniman bule yang super pede. Ada juga orang yang gelar dagangannya, tapi begitu datang petugas ketertiban mereka menggulung dagangannya. Tenang tanpa insiden ataupun ribut-ribut.
Berhubung cukup lelah, kami balik lagi ke hotel untuk menikmati kenyamanan ruangan ber AC dan meluruskan kaki selama 4 jam sebelum melanjutkan petualangan ke Siam Center yang glamour di sore-malam.
Sekitar jam 5 sore kami mulai melanjutkan kembali petualangan kami. Kali ini tujuan kami ke mall di BTS Siam. Tampak kumpulan muda-mudi ramai berkumpul di panggung hiburan Siam Paragon. Ternyata ada acara bazaar dalam rangka ulang tahun sebuah rumah produksi. Aneka pakaian, souvenir dan makanan mereka jual. Banyak juga pengunjung muslimah berjilbab baik Thai, Melayu maupun dari Arab dan India.
Puas menikmati suasana dan foto-foto kami masuk ke mall Siam Paragon. Kelihatannya ini mall paling prestisius di Thailand. Terlihat dari megah dan luasnya bangunan, barang yang dijual dan dandanan pengunjungnya. Tak tangung-tanggung ada toko yang menjual mobil Audi, Citroen, Porsche,BMW, Mercy dan mobil balap Lotus.
Puas keliling-keliling, sekitar jam 6.30 sore kami naik ke lantai 5 dimana Paragon Cineplex berada. Berhubung film-film yang diputar di sana belum sampai di Jakarta, saya tertarik untuk membeli 2 tiket film komedi Johny English Reborn yang dibintangi oleh Sir Rowan Atkinson (yang terkenal dengan Mr. Bean). Di karcis film baru diputar jam 7.35 malam. Oh ya, harga tiket tergantung pada posisi tempat duduk. Yang paling murah THB 200 dan yang paling mahal THB 260 (RP 78 ribu). Kebetulan ingin tempat yang paling nyaman, maka dapatnya tiket yang paling mahal.
Di saat menunggu film diputar, perut terasa lapar. Sayangnya di ruang tunggu Cuma dijual burger MC Donald Cafe, kola dan berondong jagung, maka kami pergi ke food hall di lantai dasar untuk mencari makanan halal. Dari artikel yang pernah saya baca, makanan halal di mall biasanya makanan India, KFC dan MC Donald, meski tak ada label halal, tapi banyak wanita berjilbab asli Thailand (lancar ngomong pesanan dalam bahasa Thai) dan Arab makan di KFC. Saya pesan paket nasi ayam bumbu asam pedas dan istri pesan paket nasi kari ayam masing-masing seharga THB 89 (Rp 26 ribu), masing masing paket terdiri dari makanan, sup kental dan minuman kola. Meski waralaba internasional, tetapi ada menu dengan citarasa lokal yang tajam rasa rempahnya, sama hal nya ada menu nasi rendang di KFC Indonesia. Alhamdulillah terasa enak sekali dan tidak ada penolakan dari lambung.
Tepat jam 7.30 malam kami naik lagi ke Paragon Cineplex masuk ke studio yang ternyata masih sepi, baru ada 3 penonton yang masuk. Baru sadar bahwa kebiasaan penonton di Thailand, ketika mulai ada pemutaran iklan niaga dan film-film yang sedang dan akan diputar dari jam 7.35 sampai 7.55. Tepat sebelum film diputar, semua penonton diminta berdiri untuk melakukan penghormatan kepada raja Thailand sambil mendengarkan lagu kebangsaan dan menonton keberhasilan pembangunan di Thailand. Jelas sekali usaha kerajaan untuk merangkul masyarakat Muslim di Thailand dalam setiap iklan pemerintahnya (di Bioskop, TV maupun BTS) selalu menempatkan bapak-bapak berkopiah dan ibu berjilbab di tengah masyarakat Thailand yang beragam profesinya. Mengenai film Johny English Reborn cukup menghibur, pendapat pribadi sekuel ini lebih lucu dari film sebelumnya.
Sekitar jam 10 film selesai di putar dan pegawai mall sedang siap-siap pulang. Kami juga pulang menggunakan BTS, setengah jam kemudian kami sampai di hotel untuk sholat dan istirahat. Jalan-jalan yang melelahkan sekaligus menyenangkan.