Tag

, , , , , ,

Berikut adalah pengalaman perjalanan selama seminggu kami di Bulan September 2011 :
Sabtu, 17 September 2011
Kami berangkat dari rumah jam 6.30 untuk mengejar penerbangan GA yang berangkat pukul 08.00 dari Jogja ke Jakarta. Kebetulan rumah istri di kota Jogja, jarak ke bandara sekitar 15 km yang bisa ditempuh sekitar 15 menit pada pagi hari. Perjalanan lancar.
Karena sudah sarapan, sengaja kami tidak masuk Executive Lounge yang sejak 1 September 2011 memberlakukan potongan 1500 poin untuk pengguna kartu kredit Emas/Titanium Mandiri dan 2500 poin untuk pengguna kartu kredit emas BNI, Check in sudah saya lakukan di sales office Garuda Indonesia di Hotel Inna Garuda Jalan Malioboro sehari sebelumnya sekalian cuci mata. Pelayanan sangat cepat, baik dan ramah. Kita juga bisa memilih kursi yang kita inginkan. Posisi sales office Garuda Indonesia sendiri berada dekat gerbang masuk Hotel Inna Garuda, sehingga sangat mudah menemukannya.Untuk bagasi baru bisa saya masukkan pas hari-H. Tak masalah, tinggal dikasih tali pengaman, ditimbang dan diberi label untuk pengambilan saat di Jakarta.
Biasanya kalau tidak sempat sarapan di rumah, kami memilih masuk ke lounge Blue Sky yang ada di bandara dengan menggunakan kartu kredit (potong poin kecuali Platinum) yang kami miliki untuk mendapat ruang tunggu yang lebih lega dan nyaman. Kami juga dibantu untuk check in dan bagasi dengan menyerahkan tiket, KTP dan pajak bandara (airport tax) Jogja sebesar Rp 35.000,-/orang. Kami sempat makan bubur dan nasi brongkos (semacam rawon yang ditambah keluwak, kacang tolo dan santan) serta buah dan aneka minuman. Majalah dan koran yang tersedia antara lain Precious BNI, Kabare Jogja, Kedaulatan Rakyat dan Kompas. Keistimewaan lain Executive Lounge Blue Sky di Jogja ini adalah adanya pengantaran ke pesawat menggunakan minibus (Hyundai Preggio), mungkin satu-satunya lounge di Indonesia yang ada fasilitas ini. Plus keramahan yang lebih daripada Blue Sky Balikpapan, Banjarmasin maupun Surabaya.

Tepat pukul 07.30 terdengar panggilan boarding (masuk pesawat). Boarding pass sudah kami terima sehari sebelumnya kemudian di scan oleh petugas Garuda (mungkin satu2 nya maskapai yang menggunakan scan, sementara yang lain masih model sobek separuh boarding pass).

Memasuki pesawat Garuda Indonesia 737-800ER PK-GMK kami disambut pramugari dan pramugara yang berbusana rapi dan keren. Dengan senyum ramah mereka menawarkan koran gratis untuk bacaan. Memasuki kabin, tercium udara segar, terlihat kursi-kursi coklat bermotif batik, dinding dan lantai pesawat yang bersih. Sebelumnya naik PK GMK yang Dan di belakang semua kursi-di atas meja makan lipat terdapat layar TV Audio Video On Demand (AVOD) dimana di dalamnya terdapat pilihan film box office, dokumenter, video musik, film kartun dan games yang bisa kita putar sesuai keinginan namun kali ini TV nya ada di atas. Di kantung majalah ada majalah Garuda yang bisa dibawa pulang. Setelah penumpang duduk pramugari membagikan permen yang cukup membantu mengatasi tekanan gendang telinga saat pesawat take off dan landing, kemudian diputarkan video peragaan prosedur keadaan darurat dan larangan menggunakan handphone/peralatan yang memancarkan gelombang elektromagnetik yang bisa mengganggu navigasi pesawat. Tak lama kemudian pesawat take off terbang ke angkasa. Setelah stabil, pramugari membagikan kotak snack dan menawarkan aneka minuman: jus jeruk, jus apel, susu atau teh. Ya, penerbangan Jogja-Jakarta adalah penerbangan singkat (49 menit) sehingga tidak diberikan makanan berat (bisa keburu mendarat sebelum selesai makan ). Meski hanya snack tapi keprofesionalan Garuda tetap terasa. Kotak cantik dengan motif sayap Garuda diisi coklat Kit Kat, muffin coklat, roti, teh kotak dan tissue. Karena konsisten dengan mutu, meski tahun ini sudah lebih dari 10x terbang bersama Garuda, rasanya ingin terus dan terus terbang bersama Garuda. Saat masih asyik menikmati semua yang ada, sudah muncul pemberitahuan pesawat akan segera mendarat di Jakarta, dan tepat pukul 09.05 pesawat mendarat di Bandara Soekarno-Hatta (SOETTA) Jakarta.

Pesawat parkir di terminal 2F (terminal domestik khusus Garuda dan Merpati), dan kami menuju bandara menggunakan garbarata. Petunjuk ke tempat pengambilan bagasi dan pintu keluar sangat jelas. Kurang lebih menunggu setengah jam, bagasi sudah di tangan. Setelah itu kami bergegas ke terminal 2D tempat Malaysia Airlines berada yang berjarak sekitar 200 meter dari pintu keluar terminal 2F. Terminal 2D ini adalah terminal paling banyak dihuni maskapai penerbangan internasional antara lain : AirAsia, Air China, Batavia Air, Cathay Pacific, Cebu Pacific, China Airlines, China Southern Airlines, Emirates, Eva Air, Japan Airlines, Jetstar, Kuwait Airlines, Lufthansa, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, Qantas, Qatar Airways, Saudi Arabian Airlines, Singapore Airlines, Thai Airways International, Valuair, dan Yemenia.
Kami sudah check in 2 hari sebelum keberangkatan dan bisa memilih kursi no 11 untuk rute Jakarta-Kuala Lumpur dan kursi no 8 untuk rute Kuala Lumpur. Saat kami datang tempat drop bagasi Malaysia Airlines terlihat lengang sehingga memudahkan kami untuk segera mendapat layanan bagasi. Airport ke luar negeri saat ini adalah Rp 150.000/orang. Penerbangan Jakarta-Bangkok harus transit di Kuala Lumpur, tetapi tidak perlu repot lagi mengurus bagasi di Kuala Lumpur berhubung MH adalah full board airline sama halnya dengan GA sehingga kami bisa masukkan bagasi dari Jakarta dan ambil saat di Bangkok nanti.
Antri di imigrasi adalah aktivitas berikutnya. Mas-mas yang ramah dan cekatan membuat saya salut dengan bagian imigrasi ini. Selanjutnya, saya mencari executive lounge yang menerima kartu kredit Mandiri dan BNI Gold saya, ternyata tak semudah mencari di terminal 1 dan 2 F. Alhamdulillah Lounge Mutiara bisa kami akses. Meski lounge di terminal internasional, menu kurang lengkap (hanya ada nasi, telur bumbu bali, spageti, kue, kopi, teh, jus dan air putih) dan kondisinya lebih sepi. Namun tetap nyaman. Apalagi ada WIFI dan komputer meja yang bisa digunakan untuk mengakses internet.

Tapi kami tidak lama di sini karena sejam kemudian panggilan boarding ke pesawat Malaysia Airlines (MH).
Mirip dengan GA, kami disambut pramugara/i-flight attendant (FA) MH-710 dengan senyum dan sapaan yang ramah. Di depan adalah tempat duduk Bussiness Class. Kelihatannya sangat nyaman. Sambil melihat tempat duduk impian ini kami menuju ke kursi Economic Class. Cukup nyaman untuk perjalanan 2 jam menuju ke KL. Tidak ada AVOD. Agak ketinggalan memang jika dibandingkan dengan GA (tidak jelas kenapa MH bisa dapat bintang 5 sedangkan GA Cuma bintang 4), semua petunjuk keselamatan diperagakan secara manual. Dan dengan rasa penasaran saya coba lihat apa isi majalahnya. Majalah cukup bagus dan mudah dipahami, meski tidak selengkap dan sebagus GA.Pramugari dan pramugara di rute ini muda-muda, cantik, tampan dan hampir semua Melayu. Penumpang kebanyakan Cina, India dan bule. Jatah makanan di sajikan selepas 15 menit take off yang lancar. Menu siang ini adalah nasi kuning dengan ayam goreng dengan dessert kue lapis dan coklat Kit Kat. Rasanya nasi kuning dengan ayam goreng tersebut cukup lezat. Apalagi ayamnya empuk dan pas di lidah. Maklumlah negara serumpun-rumpun Melayu. Istri memilih gulai ikan. Enak. Makanan dalam penerbangan Malaysia Airlines dan Royal Brunei rasanya yang paling nyaman untuk lidah orang Indonesia, disamping Garuda Indonesia.


Setelah terbang selama 2 jam dari Jakarta ke KL, akhirnya mendarat di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA). Bandara yang masih termasuk baru ini cukup megah pernah mendapat bandara terbaik di dunia, setara dengan Changi di Singapura. Dari bandara ke KL terhubung kereta cepat, dan juga jalan tol dan jalan umum yang melintasi perkebunan kelapa sawit. Jika dibanding dengan Low Cost Carrier Terminal (LCCT)-Air Asia, KLIA ini jauh lebih nyaman, megah dan sepi.Meski sebenarnya terminalnya bersebelahan saja. Tak lama kami transit di situ-dari pintu kedatangan kami diarahkan ke terminal keberangkatan di gate C6, mengingat kami sudah check in dari Jakarta. Bagasi pun langsung masuk ke pesawat berikutnya. Kalau dibandingkan Bandara Soekarno Hatta, tidak sebanding mengingat umur kedua bandara ini terpaut jauh, mungkin sekiat 20 tahunan. Bandara Soekarno Hatta pun pernah mendapat berbagai perhargaan tingkat dunia ketika masih baru dibangun dan sampai sekarang pun terasa lebih hidup.
Selanjutnya kami masuk ke pesawat MH-782 menuju Bangkok. Makin banyak lagi penumpang non Melayu, dan pramugarinya Cina semua. Pada rute ini kami memilih udang dengan tumis asparagus, kue kurma, cadbury gold dan jus jeruk. Good. Tepat pukul 16.20 waktu Bangkok (sama dengan WIB) pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Suvarnabhumi. Saya cukup tercengang melihat kemegahan bandara yang menyabet salah satu bandara terbaik di dunia, yang dikawasan Asia Tenggara ada 3 bandara yang masuk 10 besar dunia, yaitu di Singapore-Changi,Thailand-Suvarnabhumi dan Malaysia-KLIA. Wah kapan Indonesia punya bandara sebagus ini ?. Oh ya tata kota di Thailand kelihatan rapi kalau di lihat dari udara, banyak jalan lurus. Kemudian di bandara juga dihiasi bunga anggrek hidup yang menambah kemegahan bandara ini.
Langkah berikutnya adalah memasuki imigrasi Thailand. Tidak di Indonesia saja, para pengunjung negeri Gajah Putih ini banyak yang tidak tertib, maunya serobot. Untung petugasnya dengan tegas mengusir penyerobot. Keluar dari imigrasi langsung mengambil bagasi selanjutnya ke arah pintu keluar menuju tanda mushola untuk menjamak sholat Dzuhur dengan Ashar. Meski bandara ini berada di negara yang mayoritas penduduknya Budha, tetapi surau-musholla tempat ibadah untuk umat Islam juga tersedia. Ukurannya Lebih luas dari SOETTA dan lebih khusus daripada Changi yang mencampur baurkan tempat orang sholat dengan orang semedi. Salut.
Setelah sholat kami mencari kereta Citylink yang cukup murah, hanya THB 45 (Rp 13500/orang) kita bisa menjangkau pusat kota (stasiun PhayaThai). Disini saya bertemu dengan turis dari Jakarta yang cukup asyik di ajak ngobrol. Kondisi stasiun memang tidak sebagus di Singapura maupun Malaysia dan tidak ada eskalator yang ada kebanyakan berupa tangga-repot kalau bawa tas troli, tetapi petugas nya sangat membantu meski dengan kemampuan Bahasa Inggris yang terbatas. Dari PhayaThai kami lanjutkan ke Sanam Pao menggunakan BTS dengan biaya THB 20 (Rp 6000/orang). Dengan agak tertatih tatih troli saya jinjing-trotoar kurang rata, menuju Hotel All Season Victory Monument.Sekitar 2 menit dengan penanda yang jelas kami sampai di depan hotel. Check in cukup singkat, paspor kami berdua di foto kopi dan mereka minta deposit THB 1500 untuk jaminan makan minum dan minibar, meski untuk kamarnya sudah saya bayarkan sebulan sebelumnya. Kembalian deposit ini akan diberikan saat check out.
Kami dapat kamar 6008 yang cukup menarik dan masih baru. Ada handuk yang dibentuk 2 ekor angsa dan mencium bunga mawar. Ada juga bunga mawar yang dibentuk lambang hati. Di kulkas juga ada coklat putih yang berbentuk hati dan diatas nya ada buah chery. Jadi ingat waktu pesan kami minta kamar yang tenang buat honeymoon. Wkkkk. Terimakasih perhatiannya. Dari kamar ini bisa melihat kereta BTS Sky lewat.


Hanya sayangnya internet tidak bisa diakses menggunakan kabel dan dari meja kerja. Hanya bisa dengan WI-FI dekat pintu masuk dan kamar mandi. Tidak masalah, toh ini untuk liburan, bukan untuk kerja.
Belum terlalu malam saat kami menikmati ruangan kamar yang bagus ini. Dan pada pukul 20.30 kami keluar untuk membeli perbekalan berupa air minum 6 liter, snack, jus kiwi-Tipco dan isi pulsa (THB 90). Oh ya untuk bertelpon ke Indonesia sebaiknya menggunakan nomor lokal Thailand yang relatif murah. Selengkapnya bisa di baca di artikel Nelpon Murah di Thailand.