Tag

, , , , , , , , , ,

Bali adalah pulau/provinsi yang terkenal sebagai tempat tujuan wisata utama di Indonesia. Baik untuk wisatawan lokal maupun mancanegara.Banyak penerbangan langsung dari negara asal ke Bali bahkan ada yang tidak punya rute terbang ke Jakarta tetapi punya rute langsung ke Bali. Contoh Hongkong Express, Pacific Blue (Australia) dan Transaero (Russia).Untuk itu untuk menghilangkan penasaran saya tentang Bali maka 9-14 April 2011 lalu kami mengunjungi Bali untuk pertama kali seumur hidup bersama istri yang sudah pernah ke Bali saat masih SD 20 tahun yang lalu🙂 yang juga penasaran dengan wajah Bali sekarang.

Hari Pertama : Sabtu, 9 April 2011 :

Perjalanan dimulai dari Surabaya, menggunakan penerbangan Garuda Indonesia dengan tiket termurah (Rp 410 rb), yang ditempuh dalam waktu 39 menit. Kabin yang bersih dan mewah, snack yang cukup (roti,teh kotak, permen), video/tv hiburan, dan majalah terasa sangat singkat dan terlalu banyak untuk perjalanan sesingkat ini. Sebenarnya ada Merpati yang tiketnya lebih murah (Rp 312 rb)-persamaannya waktu tempuh dan snack, tetapi untuk perjalanan pertama kali saya ingin yang nyaman dengan fitur terlengkap. Di Bandara Juanda saya sempat membeli peta Bali di toko buku Periplus. Peta detail/lengkap seharga Rp 80 rb saya bayar Rp 72 rb karena ada promo diskon menggunakan kartu debit/kredit BNI.

Kami mendarat di Bandara Ngurah Rai Denpasar yang sudah cukup tua terlihat dari bangunan yang sudah berlumut kecoklatan. Tempat pengambilan bagasi kelihatan kuno. Bandara ini unik, persis di tengah bagian utara Bali yang besar dan bagian selatan Bali yang kecil dan serasa turun ke lautan, maklum sekelilingnya adalah laut. Menjelang mendarat kami bisa melihat bangunan hotel dan kegiatan wisata bahari di Tanjung Benoa. Di bandara ini nuansa Bali mulai terasa, sesajen,dupa dan patung ada di sudut2 nya. Brosur travel agent tersedia melimpah di sini. Transportasi taksi kelihatannya dimonopoli oleh Ngurah Rai Taxi. Kebetulan saya sudah menjadwalkan menginap di Hotel Pop Harris di Jalan Teuku Umar Denpasar untuk tanggal 9-11 April 2011. Tarif taksi ke tempat yang berjarak 13,7 km ini (lihat Google Map) Rp 70 rb. Kualitas pelayanan lumayan baik, ramah dan cepat. Bau dupa tercium lagi di taksi, langsung mengingatkan saya bahwa sudah di Bali. Kesan pertama bandara ini bagus-terawat, internasional-English in everywhere, tak begitu luas dan rindang.

Perjalanan ke Denpasar melewati jalan Bypass Ngurah Rai. Terlihat beberapa masjid yang besar di sekitar bandara ini, surprise. Kebetulan akhir pekan ada kemacetan di perempatan dan jalan persimpangan sehingga jika biasa ditempuh dalam 25 menit (kata sopir) molor menjadi hampir 1 jam. Jam 3 sore kami sampai di Hotel Pop Harris di Jalan Teuku Umar Denpasar.

Kesan pertama mengenai hotel ini adalah hotel budget, stylish, dan ramah lingkungan. dinding ruang lobi terbuat dari plat besi berlubang2 seperti kasa yang memungkinkan sirkulasi udara dari luar ke dalam dan sebaliknya, kipas angin digunakan untuk membantu sirkulasi udara. Dengan tarif yang terjangkau Rp 288 rb/malam, kasur king koil, kamar ber AC, TV saluran kabel-lebih dari 10 channel,gratis sarapan nasi jinggo/mi goreng,kamar mandi yg seperti kapsul luar angkasa dan warna kamar yang cerah-tidak mewah terasa pas antara harga dan kenyamanannya. Tak heran banyak tamu dari Jakarta, turis bule dan asia yang menginap di sini. Penilaian saya hotel ini lebih baik dari hotel Citin Pudu KL yang bertarif hampir sama. Mungkin juga lebih baik dari Tune hotel (lain kali saya coba) yang dari website dan info pengunjung banyak charge tambahannya.

Ritual pertama di hotel yang baru dikunjungi, mencoba semua fitur yang ada, menyalakan AC, lihat channel TV yang tersedia, dan menjajal tempat tidurnya. Nilai 8 skala 10. sedangkan kamar dan kamar mandinya 7 skala 10.Sholat terus tidur. jam 7 malam rasa lapar membangunkan kami, setelah mandi dan sholat kami berjalan menyusuri Jalan Teuku Umar mencari tempat makan halal. Ternyata tidak sulit menemukan makanan halal di Denpasar. Kami tertarik dengan Bubur Ayam Bang Yossi di seberang pujasera LIBI. Maka kami kesana. Istri pesan bubur, saya pesan bebek goreng. Luar biasa, dua-duanya lezat. Bubur seharga Rp 8 rb terasa sekali gurih kaldu ayamnya, sedangkan bebek goreng seharga Rp 26 rb nikmat dan nendang sekali pedas sambalnya. Kesan pertama yang begitu menggoda.

Hari Kedua : Minggu, 10 April 2011

Agenda hari ke dua ini adalah mengunjung Bali Safari and Marine Park (BSMP). Namun pagi sebelum berangkat ke lokasi saya ada janji dengan teman SMA yang kuliah dan bekerja di perusahan IT di Bali. Setelah ngobrol santai 1,5 jam di lobi mengingat masa SMA, jam 9 pagi saya memanggil Taksi Blue Bird yang mangkal di depan hotel untuk mengantarkan kami ke BSMP yang berjarak 21.3 km dari hotel. Rute yang dilalui adalah Puputan Renon dan Bypass Prof Ida Bagus Mantra. Sepanjang jalan kami lihat pohon besar, tempat penjualan tanaman hias, tempat ibadah Hindu Bali, orang yang berangkat ke pura. Khas Bali. Jam 10 kami sampai di BSMP, argo taksi menunjukkan angka Rp 115 rb kami turun,bayar dan kami langsung cabut ke antrian loket masuk. Antrian mengular dengan 95% pengunjungnya turis bule dengan tarif paket yang tidak murah yaitu USD 35/orang. Paket ini terdiri dari animal feeding, foto bersama orang utan/anak macan-pilih sendiri salah satu n pakai kamera sendiri, animal show-hewan kecil-sedang, elephant show, waterpark (mini waterboom)-main air sepuasnya, game zone-macam Dufan mini, keliling taman safari lihat aneka satwa naik mobil safari dan didampingi pemandu yang kocak. Kabarnya taman safari ini adalah yang termewah di Indonesia, lebih mewah dari yang di Cisarua-Bogor dan di Prigen-Pasuruan. Kebetulan Bank Mandiri mengadakan kerjasama dengan BSMP melalui paket Mandiri Safari Buy 1 get 1 free, paket USD 35/orang ini dihargai Rp 250 rb untuk 2 orang. Worth it.

pertunjukan

Untuk menikmati semua kesenangan ini perlu waktu 6 jam, dari jam 9 pagi sampai 3 sore. Tersedia dua tempat makan, yaitu Tsavo Restaurant yang menawarkan makan sambil pemandangan habitat singa dan harimau dari dekat/hanya dibatasi kaca bening dan Mara River Restaurant. Sedangkan di Mara Restaurant tersedia segala macam makanan Indonesia, Asia maupun Western yang kalau saya lihat di menu nya tanpa menu babi, dan kata penjaganya makanan halal. Siang itu kami mencoba Tom Yam dan Cap Cay. Segar dan lezat, terutama Cap Cay nya yang penuh aneka sayur (brokoli,jagung muda,jamur,kapri), ayam dan udang. Cukup terjangkau. Untuk 2 orang kami mengeluarkan uang Rp 70 ribu. Belum termasuk diskon 10%  jika menggunakan kartu debit/kredit Mandiri. Di Mara Restaurant lantai 2 terdapat tempat sholat, hanya sayangnya tidak ada informasi tempat sholat di brosur panduannya, alias harus tanya dulu. Bagusnya sih ditambahkan informasi ini di brosur. Kalau kehabisan uang ada ATM CIMB Niaga di dekat tempat kursus tari Bali, antara waterpark dan Mara Restaurant. Cuma sayangnya, satu-satunya ATM yang saya lihat di BSMP ini sedang rusak. Mungkin bank lain sebaiknya pasang ATM juga di sini.

Mengenai satwa koleksinya kurang lebih sama dengan taman safari lainnya, hanya kemasannya lebih bagus. maklum banyak turis asing yang ke sini.

ikan yang berwarna warni

Setelah puas keliling, jam 3 kami check out, dengan mampir ke tempat souvenir. Saya beli kaos katun gambar anak macan dan ada tulisan Bali Safari Marine Park seharga Rp 80 ribu yang kualitasnya cukup bagus, kemudian mendaftar shuttle gratis ke Kuta. Ternyata, shuttle ini hanya tersedia jam 3, 4, 5 sore bagi yang berangkatnya terdaftar naik shuttle. sangat kecil kemungkinan buat yang berangkat naik taksi bisa pulang dengan naik shuttle. Akhirnya kami dapat satu-satunya moda transport yaitu taksi omprengan (kijang kapsul) yang over rated yaitu Rp 200 rb dari BSMP-Plaza Discovery Pantai Kuta (25 km). Minus : terbatasnya moda transport balik ke kota.Tips saya : daftarkan diri anda di tempat penjemputan shuttle gratis (ada di web nya) supaya bisa datang dan kembali dengan gratis. Rental mobil cocok buat yang kejar waktu-waktu kunjungan singkat dan ingin melihat banyak obyek wisata. Bagi yang ingin menikmati BSMP dengan santai ya naik shuttle gratis ini. Tapi ingat harus tepat waktu, kalau tidak akan ditinggal dan cari taksi omprengan. Meski naik taksi omprengan, sopirnya ramah dan kesadaran wisatawan adalah tamu maka harus dilayani dengan baik tampaknya sudah menjadi kebiasaan di Bali.

Dari BSMP ke Plaza Discovery Kuta ditempuh dalam waktu 45 menit. Agak lambat karena ada kemacetan seiring hujan lebat sore itu. Plaza terbesar ini menawarkan tempat belanja layaknya mall middle up di Jakarta/Surabaya. Burger King dan Department Store Centro kelihatan mendominasi tempat kongkow turis asing dan lokal ini. Tempat yang paling asyik sebenarnya di belakang mall ini

singa bobok siang

yang menghadap langsung ke Pantai Kuta, dan di pinggir pantai ada track untuk jalan/jogging yang cukup lebar.Tampak seorang turis Jepang?? membawa memegang kotak sumbangan bertuliskan CHARITY FOR JAPAN. Ya, sebulan sebelumnya terjadi Tsunami di daerah Miyagi/Sendai yang meluluh lantakkan bangunan dan menewaskan puluhan ribuan orang. Jepang sedang berduka.

Perjalanan kami lanjutkan melalui gang yang menjual souvenir, melalui jalan Pantai Kuta yang terkenal dengan toko souvenir/baju brand dalam dan luar negeri. Mampir untuk makan sore di Mc Donald, ambil paket nasi 2 total Rp 33 ribu (include tax). Makan murah di tempat yg sebagus ini. Lanjut sampai depan Gelael Jalan Imam Bonjol. Setelah cukup pegal jalan kaki, kami stop taksi Blue Bird untuk kembali ke Pop Harris di Jalan Teuku Umar. Ongkos taksi kali ini Rp 35 rb. Sesampai di hotel kami mandi air hangat untuk mengendorkan ketegangan otot kaki dulu, karena jam 8 malam ada janjian ketemu teman istri semasa kuliah di Yogya. Ngobrol ngalor ngidul seputar bisnisnya di Bali (kebetulan orang asli Bali), akhirnya jam 10 malam sang teman pamit dan kami kembali ke peraduan.Zzzzz………

Hari Ketiga : Senin, 11 April 2011

Agenda hari ini adalah ambil paket tour dan pindah hotel. Maklumlah baru pertama kali ke Bali pengennya merasakan suasana hotel yang berbeda. Kali ini aku pilih hotel Best Western Kuta.

Sebelum bercerita mengenai hotel, saya ingin bercerita mengenai paket tour yang membawa kami menjelajahi Bali sehari penuh, dengan kesan yang begitu mendalam. Kami ambil paket Taman Ayun-Bedugul-Tanah Lot dari biro Bali Halal Tour. Jam 8 tepat Pak Okki pemandu kami menunggu di parkiran Pop Harris. Setelah sarapan nasi jinggo pedas jatah sarapan hotel yang luar biasa enak, kami langsung check out, lalu masuk ke dalam mobil APV yang akan mengantar kami ke tempat tujuan wisata. Jalan di Bali tidak begitu ramai meskipun hari Senin. Tujuan pertama kali adalah menonton Tari Barong di Denpasar.

Sekitar jam 8.45 pagi kami sampai di parkiran Banjar (Kampung) tempat pertunjukan Barong dilangsungkan. pertunjukan Tari BarongKami membayar tiket pertunjukan Rp 80 ribu/orang untuk pertunjukan selama 2 jam. Kami termasuk yang paling awal datang sehingga bisa memilih tempat duduk di tengah yang nyaman untuk menonton live show. Tak lama kemudian muncul turis bule, Jepang, Malaysia dan lainnya, sampai penuh dan akhirnya jam 9 tepat acara dimulai. Pertunjukan menceritakan pertempuran antara yang baik dan yang buruk, yang intinya peperangan itu akan terus terjadi sepanjang waktu. Puas menonton pertunjukan yang mirip dengan ketoprak kalau di Jawa kami lanjutkan perjalanan ke arah luar kota Denpasar.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Desa Mengwi untuk mengunjungi Taman Ayun yangmerupakan pura induk bagi Kerajaan Mengwi, di Bali. Dikelilingi kolam ikan sehingga pada saat berada di tempat ini seolah-olah berada di tengah danau, dibangun pada abad 17 (konon dibangun tahun 1634) oleh raja pertama Kerajaan Mengwi Tjokerda Sakti Blambangan dengan arsitek yang berasal dari Cina.

Taman Ayun

Kami sempat bertemu dengan penjaga pura yang mengaku bisa meramal reinkarnasi kita sebelum menjadi sekarang. Karena tidak percaya kami minta sopir sekaligus guide untuk melanjutkan perjalanan ke arah Danau Bedugul.

Sepanjang perjalanan menuju Bedugul kami melihat pemandangan sawah dan rumah yang khas Bali. Mirip di Jawa, namun ada nuansa mistis. Cuaca kebetulan mendung dan ketika mendekati Bedugul hujan deras. Berhubung sudah jam makan siang kami mampir di rumah makan muslim khas Lombok As Sidiq  yang besar, persis di depan tempat wisata Bedugul. Kami bersama-sama memesan ayam taliwang, beberok dan pelecing kangkung. krupuk bawang merah yang renyah juga tak luput kami santap. Semuanya mantab kecuali teh hangat yang bau kambing. Disebelah kami ada rombongan turis keluarga Malaysia. Saya juga sempat menjamak sholat Dzuhur dan Ashar di mushola rumah makan yang airnya sejuk sekali. maklum di pegunungan. Kawasan wisata ini mengandalkan pemandangan yang indah, danau Beratan, Buyan, Tamblingan serta Pura Ulun Danu. Menarik sekali.

Pura Ulun Danu

Tak jauh dari situ sebenarnya ada Kebun Raya Ekakarya, namun tak sempat karena hujan yang lebat.

Setelah puas menikmati Bedugul kami balik ke arah selatan, dan ketika sampai di Desa Luwus-ada toko souvenir  teman Joger, kami diajak mampir ke agrowisata. Kami diajak ke kebun yang rimbun yang ditumbuhi beraneka tanaman. Kami juga disuguhi aneka minuman yang bahannya dari tanaman di situ, seperti coklat-kakao, kopi bali, wedang sereh, kopi luwak dan lain-lain, ada 10 gelas kecil yang berbeda isinya dan kami bisa nambah jika mau.disitu juga ada luwak yang sedang makan kopi dan kami ditunjukkan cara pembuatan kopi luwak. Dan sesaat sebelum pulang kami diantar ke tempat penjualan produk. Tak beli tak apa-apa, namun gak enak sudah dijamu, akhirnya kami merelakan uang Rp 50 ribu untuk membeli kopi bali seberat 250 gram.mahal tapi cukup setimpal apalagi ini kan liburan🙂.

Perjalanan kami lanjutkan ke selatan lagi ke Alas Kedaton. Perjalanan melalui kampung-kampung Bali. dan sekitar jam 3 sore tibalah kami di kawasan yang ditumbuhi pohon-pohon super besar dan rimbun seukuran yang ada di Kebun Raya Bogor. Kata ibu pedagang sekaligus guide kami di sini, daerah ini adalah perwakilan kerajaan Majapahit di Bali. Lagi-lagi nuansa mistis terasa di sini. Kami juga melihat kios yang sudah berantakan genteng nya diacak-acak kera yang ada di hutan, yang kata guide itu adalah kios-kios yang ditinggal pedagang souvenir, sejak peristiwa Bomb Bali 1 & 2. Karena kasihan dengan ibu pedagang yang sudah menjadi guide gratis kami, kami belanja pakaian yang sebenarnya tidak kami butuhkan. Waduh, wisata di sini bisa meneteskan air mata melihat perjuangan ibu-ibu pedagang souvenir yang kurus kering yang jumlahnya lebih banyak dari pengunjung. Kemana saja bapak-bapaknya ya.

Tujuan wisata selanjutnya yang paling terkenal di Bali adalah Tanah Lot yang berada di Kecamatan Kediri-Tabanan. Sampai dilokasi sekitar jam 5 sore. Kondisinya mengingatkanku dengan foto-foto yang kulihat di waktu kecil dulu di  majalah Penjebar Semangat terbitan Surabaya tahun 1986 langganan ayahku. Banyak sekali turis asing di sini, ada berbahasa Jepang, Cina, Prancis, Inggris, Rusia, India dan entah darimana lagi. Tempatnya sangat teratur, penjualan souvenir, makanan dan oleh-oleh mudah diperoleh dengan harga yang kurang lebih sama dengan toko oleh-oleh di Denpasar. Yang utama dari tempat ini adalah pemandangan sunset (matahari terbenam) yang tersohor.

peace

Puas lihat sunset, jam 6.30 petang kami ditawari sopir untuk nonton tari kecak yang ada di auditorium Tanah Lot. Karena sudah kelelahan kami menolak secara halus tawaran ini.

Karena sudah lelah kami minta diantar ke hotel yang sudah kami pesan. Menyusuri desa-desa di Bali yang eksotik melalui daerah Seminyak, Legian, Pantai Kuta hingga akhirnya sampailah kami di Hotel Best Western Kuta yang ada di tengah perkampungan. Kami bayar sewa mobil beserta sopir sebesar Rp 450 ribu untuk full day tour. Setelah check in kami langsung cabut ke kamar yang tercantum di tempat kartu kamar. Kami sempat terkejut dengan luasnya kamar deluxe dan bagusnya perkakas yang ada. Pertama kami mengeksplorasi isi kamar yang luas ini, dan mendapati amenitis (sabun,shampoo dsb) eksklusif dan kualitasnya baik. Kami coba channel TV juga banyak sekali-kelihatannya pakai TV kabel Telkomvision. Di sini juga ada jam weker multifungsi untuk alarm dan radio. Baru ngeh kalau radio di Bali ternyata kebanyakan muter lagu-lagu hits barat. Tadinya saya kira lagu-lagu Bali seperti di Bali TV🙂

Karena belum makan malam kami coba cari makan di depan hotel. Kebetulan di depan ada rumah makan Melayu Deli-penjualnya berjilbab yang masakannya mirip-mirip dengan masakan Padang dan ternyata enak sekali rendangnya-antara kelaperan atau emang enak sekali perlu dicoba lagi. I love it. Makannya bareng pegawai dan sekuriti hotel. Recomended deh.

Puas jalan-jalan dan makan-makan kami kembali ke  lobi hotel yang hanya berjarak  12 langkah dari rumah makan, dan ketemu dengan teman SMA ku yang sangat berjasa mencarikan rental mobil super murah-paling murah yang pernah kutemui, hanya Rp 200.000/hari. Mobilnya Toyota Avanza umur setahun yang kugunakan untuk mengubek-ubek Bali esok dan lusanya.  Matur suwun Pak Edy atas bantuanmu. Setelah parkir mobil di depan hotel kami balik ke kamar, nonton TV sambil minum kopi yang tersedia, kemudian menjamak sholat sebelum kemudian tidur. Nice trip a long day.

Hari Keempat : Selasa, 12 April 2011

Karena kelelahan jalan-jalan kemarin kami tidur lelap sekali dan bangun sudah agak kesiangan-jam 6 pagi. Sudah tidak terkejar lagi kalau mau lihat sunrise di Sanur yang katanya best view in Bali. Sudahlah besok pagi kami janji pada diri sendiri untuk bangun sebelum Subuh. Sesudah menjalani aktivitas pagi kami mandi dan sarapan di restoran yang persis di bawah kamar kami. Di sana sudah banyak tamu hotel yang sarapan di tepi kolam renang ( foto icon Best Western Kuta), yang 90% nya turis asing. Mungkin hanya kami berdua dan pegawai hotel yang WNI. Masakannya beraneka ragam dan semuanya enak.

Selesai sarapan kami ke Sanur buat cek lokasi. Tak sampai satu jam kami sudah sampai di Pantai Sanur. Kami parkir mobil di bawah pohon beringin depan pura. Kami sempat bingung ternyata mobil tidak bisa dikunci, lebih bingung lagi saat saya coba telpon ke Pak Eddy menanyakan hal ini, ternyata tak ada sinyal sama sekali. Blank. Sama dengan hp istri, sama sekali tak ada sinyal. Kemudian kami menjauh dari tempat parkir dan komat kamit baca ayat kursi tiba-tiba sinyal penuh. Entah fenomena apa ini, mungkin peringatan Allah karena sholat Subuh kesiangan. Dan mobil akhirnya bisa kami kunci. Kami akhirnya jalan-jalan di Pantai Sanur, sudah tidak ada sunrise yang ada matahari yang mulai naik ke tengah.

Puas jalan di Pantai Sanur kami balik ke Kuta. dari Jalan Pantai (Hang Tuah) belok kiri, kemudian masuk By Pass Ngurah Rai dan akhirnya kami berhenti di toko oleh Krisna yang ada di Jalan Nusa Indah. Mudah sekali menemukannya. Disini dijual aneka souvenir, baju, kain dan makanan khas Bali. Ada yang bilang ini toko souvenir terbesar di Bali. Tapi menurut pendapat pribadi lebih besar, murah dan lengkap toko oleh-oleh Erlangga 2 yang  di Jalan Nusa Kambangan Denpasar. Puas belanja di sini kami lanjutkan beli kaos dan pernik-pernik khas Bali di pabrik kata-kata “JOGER” Jalan Raya Kuta. Nuansa kata-kata sudah mulai terasa sejak di parkiran, dimana temboknya penuh kata-kata lucu sampai serius.

Inilah Republik Kata-kata

Identik dengan Bali

Tembok Joger

Kami beli kaos, sandal dan pernak pernik di sini. Produk yang menarik. Kaosnya yang adem/nyaman seringkali saya pakai untuk traveling. Pas keluar dari toko Joger hujan deras sekali, setelah agak terang kami ke toko pakaian “Pasar Rakyat” di seberang jalan-persis berhadapan dengan Joger, mencari daster buat ibu. Ternyata bagus dan murah harganya. Yang saya salut di sini meski di dekat Joger tapi yang dijual bukan produk yang sejenis. Saat mau balik ke parkiran Joger hujan lagi dan lebat sekali, karena belum makan siang kami mampir ke rumah makan di samping kanan, dan ada tulisan halal plus kasirnya pakai jilbab. kebetulan sekali. Saya pesan nasi briyani + kari ayam, istri pesan soto surabaya. Enak sekali dan harganya standar. Selesai makan hujan sudah berhenti.

Pas mau balik ke hotel istri dapat sms dari temannya untuk cari oleh-oleh di Erlangga yang ada di Denpasar. Katanya lengkap. Ok deh, kami coba mencari ke sana. Berbekal peta kami mencari jalan Nusakambangan dekat simpang siur. gak ketemu. Akhirnya kami tanya ke ibu-ibu yang pulang kerja dan ditunjukkan jalan ke lokasi. Terimakasih Bu. Toko Erlangga yang kami tuju adalah Erlangga 1-yang agak kecil, sepi dan barangnya melimpah. Sempat bertanya-tanya, apakah ini yang dimaksud temanku ? Ternyata bukan. Yang dimaksud adalah Erlangga 2 yang masih di jalan yang sama namun berjarak 2 km.  Kami tunda ke Erlangga 2 karena baju kami setengah basah dan hujan terus menerus. Takut masuk angin.🙂

Sesampai di hotel sudah jam 4 sore. Kami nikmati fasilitas hotel dengan bekal yang kami beli di Indomaret dekat hotel. Makan malam di tempat yang sama dengan hari sebelumnya. Lumayan rileks hari ini.

Hari Kelima : Rabu, 13 April 2011

Agenda hari ini adalah menemukan sunrise (matahari terbit) di Pantai Sanur, jalan ke Ubud, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Uluwatu dan Jimbaran. Adanya mobil sewaan sangat membantu kami bebas mengeksplorasi tempat wisata Bali. Jalan yang relatif lebar dan bagus juga membuat nyaman perjalanan. Sebelum Subuh sekitar jam 4.00 WITA kami sudah bangun dan siap-siap berangkat. Tepat jam 4.30 WITA kami berangkat dari parkiran hotel, melalui By Pass Ngurah Rai, sempat nyasar di Jl Danau Tamblingan-Sanur Selatan seharusnya kami terus ke arah utara dan baru belok kanan pas ketemu Hotel Sanur Paradise Plaza. Untung belum muncul matahari. Mobil lalu kami belokkan ke Masjid An Nuur di kompleks Hotel Inna Grand Bali Beach untuk sholat Subuh. Syahdu. Meski minoritas tetapi jamaah masjid cukup banyak. Satu shaft terdepan penuh.

Akhirnya tibalah kami ke pantai yang tak jauh dari masjid. Kami parkir mobil di depan pura di seberang warung seafood Mak Beng yang terkenal. Dari situ hanya berjarak 100 meter dari Pantai Sanur. Inilah penampakan Pantai Sanur pagi ini :

Sanur @ 5.45 WITA

Sanur @5.30 WITA

Sanur @ 5.15 WITA

Puas melihat indahnya panorama pagi, segarnya udara dan sejuknya air laut itu sekitar jam 7.30 kami balik ke hotel untuk sarapan. Enak sekali sarapan pagi ini. Menu lengkap. Mudahan semuanya halal. Di sini saya ketemu temen kuliah beda jurusan di Bandung 7 tahun lalu yang sedang bulan madu bersama istrinya. Dia dari Aceh dan ternyata untuk ke Bali harus ke luar negeri dulu-ke Kuala Lumpur. Ternyata dunia ini sempit ya, baru 3 hari di Bali ketemu 3 teman -teman ku SMA, teman istriku waktu di Jogja, dan teman kuliahku di Bandung.

Sesudah perut kenyang kami mandi dulu sebelum berangkat ke Ubud yang tersohor itu.

Perjalanan ke Ubud memakan satu jam, melalui jalan By Pass Ngurah Rai, sesuai pesan temen yang asli Bali, ikuti saja marka jalan, itu tandanya jalan besar/utama, dan benar, tahu-tahu sudah di Pasar Sukawati. Kami tidak mampir karena tujuan kami yang utama adalah Ubud. Sesampai Ubud kami disambut udara yang sejuk tapi tidak sedingin Bandung, sawah menghijau, air bening mengalir di parit, tak heran Julia Robert main film di sini. Kami terkejut ketika ada orang menuntun babi berwarna pink sebesar anak sapi dituntun pemiliknya ke pasar. mau dijual mungkin. Di sepanjang jalan juga kami temui jasa untuk mencoba arung jeram. lain kesempatan Insya Allah akan kucoba. Kami berhenti di Pasar Ubud yang unik warna warni dan banyak turis. Harga-harganya juga turis sekali alias mahal. Asyiknya kami bisa jalan menyusuri jalan Monkey Forest yang berlalu lalang turis asing dan  ketemu pasar Ubud lagi. ternyata jalannya melingkar. Kami juga sempat mampir di Indomaret untuk beli minuman dan roti. Mantap sekali, lain waktu akan coba ke Museum Antonio Blanco dan tempat-tempat yang terkenal itu.

Perjalanan pulangnya cukup menantang, modal kira-kira dan peta, kami belok kiri ke arah Ketewel yang nyambung ke By Pass Ida Bagus Mantra. Enaknya di Bali kalau sudah ketemu by pass serasa di jalan tol. Jalan lebar dan bagus, relatif bebas hambatan. Gratisss. Kami lanjut ke arah Denpasar mencari ayam taliwang langganan keluarga Presiden SBY.

yaitu ayam taliwang di rumah makan Taliwang Baru di Jalan Teuku Umar No 6 Denpasar. Menu halal semua. Tempat ini sangat terkenal sehingga tak heran Presiden SBY langganan makan di sini jika ada kunjungan ke Bali. Foto-foto beliau di pajang di dinding rumah makan ini :

Ini makanan dan minumannya

Foto Presiden di Taliwang Baru

Makanannya enak semua, cenderung pedas manis seperti masakan Jawa Tengah/Jogja. Karena empunya orang Jawa yang mungkin sebelumnya lama tinggal di Lombok. Saat kami masuk dua meja dibooking orang PLN yang sedang ulang tahun, meski begitu kami tidak perlu terlalu lama menunggu makanan dan minuman. Meski langganan presiden, harganya tidak terlalu mahal. Dua ayam  taliwang plus pelecing kangkung sambal dan nasi tambah 2 gelas lemon tea tambah lagi 2 bungkus empling melinjo kami bayar Rp 85 ribu. Puas rasanya.

Setelah puas makan kami lanjutkan pencarian kami ke toko oleh oleh Erlangga 2 yang belum kami temukan kemarin. Ternyata tidak jauh dari Taliwang Baru. Memang betul-betul besar tempatnya. Dan tidak ada tempat yang dibiarkan kosong tanpa ukiran Bali. Barang yang dijual di sini juga sangat banyak, lengkap dan murah, lebih murah dari Krisna. Kaos mulai 15 ribuan sampai yang di atas seratus ribuan ada, dengan desain lucu-lucu. Selain kaos dan kain pantai di sini juga dijual kerajinan Bali yang lain. Komplit. Di sini kami menjamak sholat Dzuhur dan Ashar di mushola yang juga besar dan terawat yang masih di lokasi toko ini.

Ketika kami keluar dari lingkungan toko, jam sudah menunjukkan pukul 15.00 petang, maka kamipun berangkat ke arah Nusa Dua. Jalan mulus dan lancar, kami melintasi Bandara Ngurah Rai, mengikuti jalan raya, tak sadar kami masuk kompleks Nusa Dua yang sering dijadikan tempat pertemuan tingkat dunia diantaranya APEC dan ASEAN. Bagus, teduh dan rapi tempatnya. Di trotoar kawasan ini kami lihat turis-turis keren (tajir) berlalu lalang dengan menggunakan kaos berkrah dan pakaian formal. Sungguh beda dengan yang di Pantai Kuta yang super cuek. Hotel yan ada di sini antara lain Bali Intercontinental, Conrad, Westin, Royal Kamuela, Grand Hyatt, St.Regis, Novotel dan lain-lain yang berbau luxury. Toko souvenirnya pun lebih mewah dan “mahal”

Kami ikuti saja jalan di daerah ini menggunakan Avanza yang kami sewa, sambil diawasi oleh pak satpam yang ada di semua penjuru, maklumlah ini kawasan paling resmi di Bali. Puas putar putar Nusa Dua kami keluar balik ke Kuta-hotel tempat kami menginap. Sebelum terlalu jauh ke arah Kuta kami lihat petunjuk arah ke Uluwatu. Wah sekalian aja deh. Sudah petang sebenarnya, sekitar jam 5 sore. tanggung, maka kami melaju melalui Jalan Kurusetra-Nusa Dua Unggaran-Pura Batu Pageh-Jalan Uluwatu. Kami sempat bingung juga, jalan kok sepi sekali, semenit jalan baru berpapasan dengan mobil lain, jalan naik turun, tanpa penerangan dan hutan di kiri kanan. Mistis deh. Kami jalan terus, terus dan terus sampai akhirnya sampai di kawasan Pura Uluwatu yang terkenal dengan sunsetnya itu. Ternyata di sini ramai sekali orang yang mau lihat sunset. Turis mancanegara dan domestik campur baur tapi tak seramai pasar. Kami dipinjami kain kuning dan kacamata disarankan untuk di lepas, supaya tidak diambil monyet-monyet penduduk asli tempat ini seperti yang di gambarkan di komik Benny & Mice : Lost in Bali 2. Keinginan untuk melihat sunset di sini mengalahkan ketidak nyamanan ku melepas kacamata minus -2.5 yang kupakai. Di sini sudah banyak orang ternyata, sunset tertutup awanbanyak monyet juga. Di sini ada juga pertunjukan tari kecak yang melibatkan warga sekitar. Ecotourism. Jadi sambil melihat sunset kita bisa dengar suara “cak, cak, cak …..”.

Puas melihat sunset yang hanya muncul sebentar sebelum tertutup awan, kami balik ke arah kuta dengan jalur yang berbeda. Meski di gunung-gunung kali ini banyak minimarket macam Indomaret, Alfamart, FamilyMart, Circle K dan touristy banget. Ketika kami mulai turun dari jalan Uluwatu mendekati Jimbaran kami mendapatkan pemandangan yang terindah yang pernah kami lihat, yaitu kelip lampu Denpasar dan Kuta saat malam hari. Keren habis. Sayang tak sempat kami foto mengingat kami terbengong-bengong mengagumi keindahan ciptaan Allah ini. Rencana kami mau makan malam di Pantai Jimbaran sambil lihat pesawat naik turun di Bandara Ngurah Rai, namu niat ini kami tak kesampaian karena tidak menemukan petunjuk arah tempat makan di Pantai Jimbaran. Langsung saja kami balik ke arah Kuta, mampir di Indomaret, beli minuman, roti dan snack. Beli nasi rendang depan hotel dan parkir mobil di depan hotel.

Puas sekali rasanya jalan seharian Ubud-Denpasar-Nusa Dua-Uluwatu-Kuta . sebelum balik ke Jawa keesokan harinya🙂

Hari Keenam :  Kamis, 14 April 2011

Hari ini adalah hari terakhir sebelum balik ke Surabaya. Saat nya mengembalikan mobil dan berterimakasih ke Pak Eddy yang telah membantu kami mendapatkan rentalan mobil, tak lupa juga temen istriku Pak Locca. Kami sempat mampir beli Ayam Betutu khas Gilimanuk yang tulisannya halal di Jalan Raya Kuta. Setelah mobil kami kembalikan, kami mengemas barang bawaan kami dan memasukkan ke mobil APV milik hotel yang mengantarkan kami ke bandara. Kami kena charge Rp 50 ribu, sedikit lebih mahal dari Blue Bird. Kami sampai di Bandara Ngurah Rai sekitar jam 11 siang. Kebetulan baru sejam lagi check in dibuka, maka kami keliling bandara lihat toko souvenir dan lainnya, ternyata di sini harganya juga tidak terlalu mahal, beda sekitar 10-20% di atas harga di kota. Karena sudah cukup banyak belanjaan kami, kami menunggu di Executive Lounge Bank Mandiri. Di sini saya melahap Nasi Jinggo yang lezat plus kue dan minuman yang tersedia. Jam 12 check in Garuda di buka, tak banyak antrian, sekitar 10 menit selesai check in dan kami balik lagi ke lounge. Sekitar jam 13.30 panggilan naik pesawat Garuda Indonesia yang membawa kami ke Surabaya. Pesawatnya ternyata baru dengan audio video yang mantap.

Alhamdulillah semua lancar, dan lebih indah dari yang saya bayangkan sebelumnya. Terimakasih ya Allah.