Tag

, ,

Begitulah kira-kira untuk menggambarkan Pulau Lombok,saudara Pulau Bali yang mendapatkan julukan Paradise Island sebelumnya. Menurut informasi, apa yang terjadi di Lombok saat ini mirip dengan Bali 10 tahun lalu, dimana masih murah-belum terlalu komersial seperti saat ini.
Itu juga yang saya rasakan selama menginjakkan kaki di Pulau Lombok di pertengahan Bulan Nopember 2009 lalu.
Perjalanan dari Sukarno-Hatta Jakarta ke Ampenan-Mataram ditempuh dalam waktu 1 jam 55 menit, menggunakan GA-821, merupakan penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur. Perjalanan sangat lancar,berangkat pukul 13:50 sampai Mataram pukul 16:45 WITA, sempat makan siang di pesawat dengan menu kari ikan+nasi.gak jelas ikan apa yang pasti ikannya empuk tanpa duri. dessertnya kue lapis dengan kuah gula merah. tampaknya disesuaikan dengan menu khas trayek yang akan saya tuju, Pulau Lombok. yang jelas enak dan tidak bikin eneg.

Ketika akan mendarat tampak puluhan kubah masjid dan ribuan pohon kelapa seolah menyambut kedatangan kami di Pulau Lombok. Lombok memang sepintas mirip Bali, namun penduduknya mayoritas Islam. Suku asli pulau ini adalah Suku Sasak.

Setelah mendarat dengan mulus di Ampenan, saya bersama teman sekantor dijemput sopir hotel Grand Legi-ex Sahid Mataram. Perjalanan ke hotel ditempuh selama 20 menit, melewati jalan Kota Mataram yang lebar dan rimbun oleh pepohonan. Hotel yang terdengar asing di telinga saya, ternyata melebihi semua ekspektasi saya. Kamar yang bersih, rapi, wangi dan harga yang bersaing, sungguh mengesankan. Di hotel ini terdapat kolam renang yang bebas diakses oleh pengunjung.

Malam hari setelah sampai di hotel, kami pergi ke Pantai Senggigi yang sangat terkenal itu menggunakan taksi Blue Bird, karena sudah malam, yang kelihatan hanya cahaya lampu dari bangunan dan rumah di sepanjang jalan. tepat di tengah tempat wisata tersebut kami turun. setelah pilih pilih tempat makan akhirnya kami berhenti di Warung Bumbu. Oh ya, selain makanan mereka juga menyewakan sepeda angin yang bisa di sewa sehari Rp 25.000. yang bisa bikin gempor buat keliling Pulau Lombok. Setelah puas makan dan minum, kami balik ke hotel.

Sarapan di pagi hari di hotel juga nikmat, ada menu barat dan Indonesia. Ada juga buah-buahan lokal yang eksotis seperti manggis, jambu biji,mangga dan duku. semua bisa dinikmati sepuasnya.Sekitar jam 9 pagi kami check out untuk menuju bandara menggunakan mobil kijang, dengan menggunakan pesawat Cessna-Travira saya ke Benete-ujung barat Pulau Sumbawa, dimana PT.NNT yang akan saya kunjungi berada. setelah antara jam 10-4 sore kami di tambang, sebagai tamu saya diinapkan di Tropical Inn Beach and Resort, di tepi Samudera Indonesia yang luas.

Resort ini sebenarnya bangunan seperti rumah biasa, namun karena lokasinya sangat terisolir, membuat tempat ini menjadi istimewa. Bayangkan saja utara,barat dan timur semuanya gunung dan hanya di selatannya yang membentang Samudra Indonesia yang luas. Sunyi namun asri. Isi kamar layaknya hotel bintang 3. Kasur springbed, meja rias, lemari, AC, TV satelit, kamar mandi ber shower, tempat baju kotor berupa keranjang anyaman bambu. Listrik menggunakan genset.Sinyal Telkomsel juga sudah sampai. Ada warnet dan fitness center. Nilai minusnya hanya air buat mandi yang lengket-payau dan benar2 di pinggir pantai, sampai-sampai di area parkir dipasang alat peringatan dini Tsunami oleh pemerintah. Makanan disini terasa hambar, mungkin menyesuaikan dengan selera bule yang kerap membanjiri tempat ini untuk surfing.