Tag

, , ,

Ini adalah perjalanan pertama saya ke Makassar, langsung dari Banjarmasin menggunakan pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA) yang melayani rute Banjarmasin-Makassar pp setiap Hari Senin, Rabu dan Sabtu.

Kebetulan tanggal 15 Maret 2010 kantor libur cuti bersama-Hari Raya Nyepi sehingga bisa melakukan perjalanan wisata ke Makassar tanpa harus cuti/off. Sesuai jadwal pesawat saya berangkat Hari Sabtu 13 Maret 2010 dan pulang Hari Senin 15 Maret 20l10.

Pemesanan tiket saya lakukan jauh-jauh hari, tepatnya 2 bulan sebelum keberangkatan, sehingga bisa dapat tiket Rp 311.000,00 sekali jalan. Demikian juga penginapan di Mercure Makassar saya pesan di internet melalui website Laterooms.com, dapat harga Rp 518.500,00/malam kamar superior termasuk sarapan. Harga ini diskon 25% dari publish rate yang berlaku di website Accor (Induk Mercure).

Pemesanan tiket pesawat dan hotel melalui internet berjalan sangat lancar, apalagi pembayaran bisa menggunakan kartu kredit. Jadi dua bulan sebelum berangkat saya sudah dapat tiket pesawat dan bookingan hotel, sederhana dan mudah.

Perjalanan saya tempuh dalam 2 hari dan 3 malam, adapun catatan perjalanan saya sbb (sudah saya rencanakan sebelumnya) :

Hari Pertama : Sabtu, 13 Maret 2010,

Perjalanan saya mulai dari Bandara Samsuddin Noor Banjarmasin. Pesawat berangkat pukul 20.30, merupakan jadwal keberangkatan terakhir (paling malam) di bandara ini. Perjalanan sangat lancar dan menyenangkan, kondisi pesawat baru, wangi dan bersih. Tak lupa kami (saya dan istri) mendapatkan kotak snack yang berisi sebuah muffin dan sepotong roti abon serta satu gelas air mineral dari MNA. Take off dan landing berjalan aman dan lancar. Pukul 21.30 pesawat mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin yang megah dan terang benderang dengan bangunan dari kerangka baja dan kaca. Futuristik. Untuk mendapatkan taksi di Bandara ini sangat mudah. Ada 2 counter taksi di dalam bandara (Herson dan satunya lagi saya lupa namanya) dan 5 counter di halaman bandara. Tarif taksi dari Bandara ke Mercure sebesar Rp 100.000,00 belum termasuk tarif jalan toll sebesar Ro 6.500,00. sekitar 45 menit waktu untuk mencapai kota Makassar, kiri kanan jalan toll dipenuhi pabrik (kawasan industri) dan di jalan beriringan dengan truk petikemas yang menuju pelabuhan Soekarno Hatta Makassar. Pukul 22.15 sampai di Hotel Mercure Makassar yang lokasinya di Jl.Daeng Tompo (jalan kecil) tapi cukup strategis karena hanya 3 menit jalan kaki dari Pantai Losari dan 15 menit jalan kaki dari Pusat Kota. Check in sangat cepat (karena sudah pesan sebelumnya)-kurang dari 5 menit. Fasilitas lengkap, sesuai standar hotel bintang 3. Tersedia kopi, teh dan gula beserta teko pemanas, TV kabel 43 channel (3 diantaranya channel grup Mercure yang secara non stop memutar film-film pilihan), WIFI dan kabel broadband, kamar mandi beserta bath-up, AC. Sajadah untuk sholat tersedia dalam kondisi bersih dan baru. Tidur terasa nyaman, nyenyak sekali, maklum lokasi hotel tidak di jalan utama/besar.

Hari Kedua : Minggu, 14 Maret 2010

Sekitar pukul 05:00 kami bangun, sholat subuh, check email di netbook (bawa sendiri) dan telpon keluarga. Sesudah itu mandi untuk menyambut hari yang sangat menyenangkan. Untuk shampoo, sabun mandi, pasta dan sikat gigi serta pembersih muka, kami bawa sendiri, karena rasanya lebih afdhol dan puas menggunakan amenities (perlengkapan mandi) pilihan sendiri.

Pukul 6 tepat kami sarapan di ruang dekat ruang lobby. Menu sangat lengkap mulai makanan pembuka (sup dll), menu utama (bubur ayam, nasi beserta lauk pauk, roti dan omelet) dan makanan penutup (salad, setup buah, irisan buah dll), untuk minuman petugas standby mengisikan the atau kopi jika diminta selain aneka jus buah yang tinggal tuang dari wadahnya. Rasanya enak, standar internasional, namun bagi yang mengharapkan makanan berempah kuat (semacam masakan Padang) siap-siap saja kecewa.he3x.

Perut sudah kenyang, kami berangkat ke Pantai Losari, jalan kaki melalui Jalan Daeng Tompo dan Ali Malaka. Hanya perlu 3 menit sudah sampai di bibir Pantai Losari yang dipenuhi pejalan kaki dan pedagang aneka barang. Tidak ada yang istimewa di sini, hampir sama saja dengan pasar kaget di kota-kota lain. Dan yang terlihat paling ramai adalah penjual obat yang menawarkan keampuhan Buah Merah dari Papua sebagai obat aneka penyakit. Menyenangkan juga mengunjungi daerah baru yang orang-orangnya belum pernah kami kenal sebelumnya.

 

Berjalan kaki di Makassar cukup nyaman, mengingat trotoar dan pepohonan besar ada di sepanjang Jalan Haji Bau, Arif Rate dan Hasanuddin. Panasnya udara Makassar bisa terkurangi dengan adanya pepohonan besar ini.

Setelah lelah berjalan kaki, pukul 9 kami berjalan ke arah hotel. Namun sebelum ke hotel kami belanja air mineral di Jalan Datu Musseng dan beli oleh-oleh di Jalan Sombaopu. Harga barang di Makassar terbilang murah, sebagai contoh air mineral VIT produksi Pandaan Jatim 1,5 liter hanya Rp 3.500,00. Oleh oleh pun juga murah, sebagai contoh kaos bermotif Makassar dan Toraja mulai ukuran anak-anak hingga dewasa (XXL) harganya berkisar Rp 17.500,00-25.000,00. harga pas.

Setelah puas belanja oleh-oleh, pukul 09.30 kami balik ke hotel untuk mempersiapkan perjalan lanjutan yaitu makan sop Konro Karebosi yang terkenal dan ke Trans Studio Makassar.

Untuk menyegarkan diri kembali, Pukul 12 saya mandi lagi. Segar sekali rasanya mandi di tengah hari. Sejam kemudian saya siap meluncur ke Sop Konro terkenal yang ada dekat lapangan Karebosi. Sopir taksi sudah hapal dengan tempat ini, sehingga kami pun langsung di turunkan di tempat makan yang dipenuhi pengunjung ini. Pelayanan sangat cepat, sekitar 1 menit Sop Konro terhidang di meja, disusul Konro Bakar yang memang harus dibakar dulu sebelum dihidangkan. Mungkin sedang tidak beruntung, saya tidak bisa menikmati kelezatan Sop Konro karena kebanyakan menambahkan garam-tadinya hambar/rasa kuah daging saja. Jadinya Sop Konro Asin yang saya makan. Alangkah bagusnya jika kuah Sop Konro sudah dibumbui seperti sop buntut atau rawon, sehingga pembeli tidak repot meramu garam, kecap dan jeruk nipisnya.

Sekitar pukul 14.00 kami melanjutkan perjalanan menuju Trans Studio Makassar. Ini adalah main course (hidangan utama) kami selama mengunjungi Makassar. Naik taksi dari Karebosi ke Tanjung Bunga (tempat studio ini berada) memakan waktu 15 menit. Taksi di Makassar sangat mudah didapatkan. Meski tampilan dan interiornya tidak seterawat Blue Bird di Jakarta, tapi semuanya menggunakan argometer dan AC nya terasa dingin.

Di kiri jalan daerah Tanjung Bunga berderet menara rumah susun yang masih baru.

Kami diturunkan di depan pintu masuk Trans Studio Makassar. Di pintu masuk kami diperiksa oleh sekuriti yang berpakaian unik, sesuai dengan Trans Studio yang memang unik. Sebelum masuk ke studio kami melewati restoran dan kafe yang sudah tidak asing di Indonesia, seperti Pizza Hut dan Coffee Bean, baru kemudian ke counter penjualan tiket. Tiket terusan harganya Rp 100.000,00 termasuk Rp 10.000,00 kartu dan Rp 90.000,00 untuk memasuki 15 wahana standar. Karena kebetulan sedang ada promo akhir pekan, kami bisa membeli tiket terusan ke 6 wahana khusus (studio 4D, jelajah (semacam arung jeram), dunia lain ) seharga Rp 50.000,00, yang mana jika membeli tiketnya di dalam studio dihargai Rp 25.000,00/wahana khusus.

Masuk ke studio serasa memasuki Broadway di Amerika sana. Megah dan cemerlang adalah nuansa di dalam studio (ini adalah 100% indoor studio), dan kami bisa main sepuasnya di semua wahana standar dan khusus mulai dari pukul 15.00 hingga pukul 20.30. Di dalam studio ini juga dilengkapi mesin ATM, toko souvenir, restoran ala Amerika, Indonesia dan Jepang, mushola, tempat menyusui bayi dan toilet. Pokoknya bisa seru-seruan di sini. Tidak rugi rasanya jauh-jauh dari Kalimantan ke Sulawesi dapat menikmati fantasi Trans Studio Makassar ini. Jika dibandingkan dengan Dufan Ancol, air di arung jeram di sini lebih bersih. Tidak khawatir kena panas dan hujan karena ada di dalam gedung. Untuk hari biasa tudio ini buka dari jam 10 pagi-9 malam. Sedangkan Sabtu-Minggu buka hingga jam 9 malam.

Oh ya kabarnya Trans Studio ini hasil kerjasama antara Pak JK-pemilik Kalla Group dengan Pak CT-pemilik Para Group (Trans TV dkk). Sebuah tindakan/ terobosan yang luar biasa dimana biasanya semua berpusat di Jakarta.

Setelah puas menikmati semua wahana di Trans Studio Makassar yang luar biasa, kamipun pulang ke hotel dan membeli bekal satu loyang Pizza Hut-masih di halaman studio untuk jaga-jaga kalau kelaparan di tengah malam.

Tidur di hari kedua ini terasa nikmat karena satu hari penuh kami isi dengan kegiatan yang padat, menyenangkan sekaligus melelahkan.

Hari ketiga: Senin 15 Maret 2010

Hari ketiga ini tujuan kami adalah mengunjungi Benteng Rotterdam dan nonton film Bahwa Cinta Itu Ada yang kebetulan sedang diputar di studio 21 Mall Ratu Indah Makassar.

Tepat pukul 06.00 kami keluar hotel, jalan kaki menuju Pantai Losari yang ramai dengan pegawai Pemda yang senam pagi, setelah setengah jam ikut senam, kami coba naik angkot menuju Jalan Ujung Pandang dimana Benteng Rotterdam itu berada. Begitu turun kami ditawari nelayan yang menawarkan menyeberang ke Pulau Khayangan yang berada di depan benteng. Karena bukan tujuan kami, kamipun bergegas ke Benteng Rotterdam yang ternyata baru buka sejam lagi, pukul 07.30. kamipun tak kehilangan akal, kami susuri sepanjang Jalan Ujung Pandang, Riburane, Slamet Riyadi dan WR.Supratman. Di jalan ini bisa kami lihat gedung pusat La Tunrung (money changer pertama yang cabangnya hampir di semua kota besar di Indonesia), Pelabuhan PELNI, gedung RRI, gedung Societe Harmonie, dan Balai Kota Makassar. Di pasar Jalan WR.Supratman kami menemukan makanan semacam lemper isi abon ikan tuna dan daun kemangi yang dipanggang di atas arang yang sungguh nikmat rasanya. Harganya pun hanya Rp 3.000,00/biji. Ada juga roti goreng yang isinya seperti isi martabak telor yang tak kalah nikmat. Kami justru menemukan penganan lezat di tempat yang tidak kami rencanakan sebelumnya.

Setelah dari pasar kami kembali ke Benteng Rotterdam yang ada di sebelah pasar. Masuk ke benteng ini gratis, benteng ini sekaligus kantor sejarah Sulsel,Sulbar, Sultra dan Sulteng. Ada karcis masuk Rp 3.000,00 ke museum La Galigo yang menyimpan sejumlah peninggalan bersejarah berupa guci dan piring Cina, Jepang, Arab dan Belanda, mata uang yang dipergunakan semasa kerajaan Nusantara, zaman Belanda, Jepang dan setelah Indonesia merdeka. Dan informasi lain seputar perjuangan Bangsa Indonesia. Sangat murah dibandingkan dengan pengetahuan sejarah yang bisa kami peroleh di sini.

Oh ya, nama Benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) diambil dari tempat kelahiran Speelman, Jenderal Belanda yang berhasil merebut benteng ini dari tangan Raja Makassar di tahun 1661. Benteng ini telah direnovasi beberapa kali.

Setelah puas menikmati sejarah benteng ini kami kembali ke hotel, dengan jalan kaki melewati Jalan Sombaopu yang banyak toko emas dan toko oleh-oleh (tempat kami belanja di hari sebelumnya) khas Sulawesi Selatan. Saat kami lewat pukul 8.30 sebagian toko-toko sudah mulai membuka dagangannya. Kami sempat mampir ke BNI Sombaopu untuk print buku tabungan dan setelah itu baru kami kembali ke hotel.

Pukul 9.00 kami sarapan yang ternyata menunya berbeda dengan hari sebelumnya. Ada sup ikan dan daging, nasi goreng dengan rasa standar hotel internasional. Cukup nikmat.

Setelah itu kami mandi dan packing untuk siap-siap check out dari hotel. Pukul 12.30 kami ke resepsionis dan check out yang lagi-lagi sangat cepat, kurang dari 5 menit. Maka terjadilah transaksi pembayaran menggunakan kartu kredit.

Dari hotel kami melaju ke Mall Ratu Indah untuk nonton di Bioskop 21. Saya beli 2 tiket di studio 4 yang sedang memutar film Bahwa Cinta Itu Ada. Karena film baru diputar pukul 14.00 (sejam lagi) kamipun berpencar, setelah menitipkan tas dan kardus oleh oleh di tempat penitipan barang studio 21. Istri ke Matahari membeli pakaian dan saya ke Gramedia untuk membeli buku Jalan-jalan. Film diputar tepat pukul 14.00 dan selesai pukul 16.00. sesudah nonton kami bergegas ke Mc Donald beli 2 porsi nasi dan ayam goring,untuk dimakan di Bandara. Surprized ! ternyata Cuma keluar uang Rp 28.000,00 untuk 2 porsi menu Mc Donald. Setelah makanan di tangan, kamipun bergegas ke tempat parkir taksi dengan tujuan akhir Bandara Sultan Hasanuddin. Untung saja ada taksi yang standby menunggu penumpang, tanpa basa basi kamipun naik taksi menuju bandara yang ditempuh selama 45 menit. Tarif lebih murah daripada saat tiba karena harga berdasar angka Argometer yaitu Rp 79.000,00.

Pukul 17.00 kami tiba di Bandara Sultan Hasanuddin yang megah, menunggu keberangkatan pesawat MNA ke Banjarmasin 2 jam kemudian. Airport tax Rp 30.000,00 sepadan dengan kenyamanan bandara yang baru dan segar ini. Seperti di Banjarmasin, ada tambahan pungutan/sumbangan untuk Pemda Gowa-lokasi bandara berada sebesar Rp 5.000,00

Secara umum perjalanan wisata ini aman dan lancar, sesuai dengan rencana saya sebelumnya. Makassar kota yang besar, lengkap fasilitas transportasi dan akomodasi dan terus menggeliat untuk memimpin pembangunan Indonesia bagian Timur.

Cost Travel / person

Rupiah

Tiket pesawat Merpati BDJ-UPG pp

622,000

Airtax+sumbangan Pemda pp

58,000

Taksi Airport-Kota pp

179,000

Toll pp

13,000

Hotel Mercure 2 malam

1,037,000

Studio Trans

150,000

Taksi dalam kota 3x

43,000

Makan Sup Konro+minum

31,000

Pizza Hut

32,000

Ayam goreng MC Donald

14,000

2,179,000